NADIEM MAKARIEM MENTERI MUDA, MENTERI MILENIAL
Oleh : Guslaini, S.Si., M.Pd

Setelah dilantiknya seorang Nadiem Makarim sebagai menteri pendidikan di era kabinet Jokowi untuk masa periode 2019 – 2024 menimbulkan berbagai pertanyaan yang menganggap bahwa penunjukkan tersebut sangat disayangkan dan terlalu mengada-ada mengingat Nadiem bukanlah seorang kalangan akademisi sebagaimana penunjukkan menteri-menteri yang sudah-sudah dengan berbagai disiplin keilmuan khususnya dalam dunia pendidikan.
Penunjukan Nadiem Makarim menuai spekulasi bermacam-macam respon baik yang pro maupun yang kontra. Meskipun ini adalah hak prerogatif sebagai seorang presiden. Namun tetap saja penunjukkan Nadiem menuimbulkan berbagai spekulasi khususnya di kalangan para pengamat pendidikan.
Keberhasilan Nadiem Makariem dalam menggeluti bidang bisnis sebagai pendiri GO-Jek sebagai sebuah perusahaan penyedia jasa transportasi berbasis daring yang beroperasi di seluruh Indonesia dan beberapa Negara asia tenggara seoerti Singapore, Vietnam, dan Thailand. Dengan ilmu bisnis yang beliau miliki sangat wajar jika keberhasilannya membawa namanya dalam kancah nasional sebagai lulusan pasca-sarjana dan meraih gelar Master of Business Administration di Harvard Business School.
Keberhasilan seorang Nadiem bukanlah jaminan jika ia juga mampu mengatasi permasalahan yang sangat rumit dalam dunia pendidikan saat ini. Ini menjadi PR besar bagi seorang mendikbud baru dengan pengalaman yang begitu minim untuk bidang pendidikan. Wajar saja jika ada pernyataan yang disampaikan dari berbagai kaca mata dan sudut pandang para tokoh dan pengamat terhadap Nadiem.
Justru ini menjadi sebuah tantangan besar bagi menteri muda era milineal seorang Nadiem yang gagah dan suskes dalam mempelopori transport online bisa membawa angin segar perubahan dalam dunia pendidikan.
PR besar sudah menanti beliau setelah secara resmi menggantikan Mendikbud Muhajir Effendi dalam susunan Kabinet Indonesia Maju pada 23 Oktober 2019. Nadiem Makariem satu-satunya menteri termuda di era Jokowi – Ma’ruf Amin. Pria kelahiran Singapura, 4 Juli 1984 berhasil melambungkan namanya setelah transportasi online yang sudah tersebar di seluruh Inodnesia dinikmati para konsumen yang merasa dimudahkan dengan aplikasi daring yang diciptakannya.
Jika melihat dari sisi pendidikannya, Nadiem Makarim bukanlah seorang akademisi sebagaimana para menteri sebelumnya yang pernah bertugas sebagai mendikbud. Mungkin ini satu-satunya mendikbud di luar dari disiplin keilmuan untuk memegang jabatan sebagai seorang menteri pendidikan dan kebudayaan.
Pendidikan dasar hingga SLTA berpindah-pindah dari Jakarta ke Singapura. Tahun 2002 ia mengambil jurusan Hubungan INternasional di Brown University, Amerika Serikat. Ia pun sempat mengikuti pertukaran pelajar di London School of Economics setelah memperoleh gelar sarjana pada tahun 2006.
Sebagai seorang CEO GO-Jek Nadiem berhasil membawa perubahan dalam bidang transportasi online berbasis daring. Namun sebagai seorang menteri Nadiem masih dipertanyakan karena minimnya pengalaman beliau dalam bidang pendidikan. Tetapi jika melihat perkembangan teknologi saat ini dan pendidikan sudah memasuki era industri 4.0. Nadiem seorang tokoh muda yang bisa bisa beradaftasi dalam perubahan yang secara cepat dalam penggunaaan digitalisasi maka Nadiem sebagai “Mendikbud Era Milenial” menjadi jawaban yang tepat karena tugas yang begitu besar dalam dunia pendidikan membutuhkan seorang anak muda yang energik, smart, penuh inovasi dan tuntutan kreativitas yang tinggi.
Penunjukkan Nadiem Makariem oleh presiden Jokowi tentu memiliki alasan kenapa seorang Nadiem yang dipilih. Kenapa tidak seorang professor yang sudah malang melintang pengalamannnya dalam dunia pendidikan. adapun salah satu alasan kenapa menunjuk Nadiem Makarim sebagai mendikbud.
Saat ini Indonesia berada di era disrupsi yang sulit ditebak dan penuh risiko. Indonesia perlu penguatan data dan perlu orang yang memiliki pengalaman bagaimana mengelola sebuah data sehingga bisa memprediksi masa depan. “Big data ini penting untuk masa depan. “Perlu orang yang mengerti bagaimana mengimplementasikan inovasi-inovasi yang ada.
Berani keluar dari kotak, berani out of the box, berani tidak rutinitas, berani tidak monoton sehingga akan memunculkan sebuah loncatan-loncatan besar yang itu saya melihat pengalaman dari yang muda-muda bisa mendukung itu,” jelasnya. CNBC, Indonesia. Jakarta, Kamis (25/10/2019).
Jika mendengar alasan yang dikemukakan presiden penunjukkan Nadiem Makariem bisa jadi sebagai jawaban untuk mengimbangi cepatnya teknologi digital yang berkembang pesat saat ini. Melihat pengalaman dan penghargaan seorang Nadiem bisa jadi mampu membawa dunia pendidikan ke arah yang lebih baik untuk percepatan pada bidang teknologinya. Namun jika melihat banyaknya permasalahan yang ada dalam dunia pendidikan yang tidak habis-habisnya menjadi sorotan tentu ini juga tidak mudah jika hanya mengandalkan teknologi saja.
Melihat begitu banyak permasalahan pada bangsa ini khususnya dalam dunia pendidikan tentu ini harus menjadi program bagi kemendikbud untuk menuntaskan segala permasalahan yang ada dalam dunia pendidikan.
Diantara permalasahan yang saat ini dihadapi diantaranya adalah :
Rendahnya mutu pendidikan
Kelulusan ataupun output dari sebuah institusi pendidikan dikatakan berkualitas tentu tidak terlepas dari seorang guru yang berkualitas. Permasalahan yang terjadi masih adanya guru yang secara keilmuan yang diajarkan bukan sesuai dengan bidangnya sehingga ini menjadi salah satu masalah bagi anak yang menerima ilmu yang disampaikan.
Distribusi guru yang tidak tepat disuatu instansi sampai saat ini juga belum tuntas dan habis, masih adanya guru menumpuk disatu tempat sementara di sekolaha lainnnya masih banyak guru. Minimnya guru di satu sekolah menjadi permasalahan karena masih adanya guru yang harus merangkap dalam memberikan pelajaran kepada anak yang bukan bidang yang ditekuninya.
Sosialisasi perlindungan guru
Banyak kasus mengemuka yang mencorengkan wajah dunia pendidikan saat ini, ini semua tidak terlepas dari sumbangsih kemajuan dari dunia digital, tontonan yang tidak layak dikonsumsi para anak-anak sehingga karakter yang tertanam dan akhlak yang terbentuk menjadi salah. Ketika ada kasus yang merugikan guru, guru pun bingung harus melakukan seperti apa. Perlindungan profesi yang disandangnya bahkan membawanya pada kematian karena adanya tindakan kekerasan pada seorang guru. Kasus-kasus ini pun untuk penyelesaiannya guru masih minim apa saja yang terkait perlindungan baginya dalam menjalankan tugas sebagai guru. Minimnya informasi dan sosialisasi yang terbatas kepada guru-guru khususnya guru-guru yang berada di perdesaaan apalagi daerah 3T. Sosialisasi ini sangat penting karena ini terkait dengan hokum, profesi, kesehatan, keselamatan, ha katas kekayaan intelektual sebagai seorang guru wajib mendapatkan perlindungan dan apresiasi dari pemerintah.
Kurikulum yang gonta ganti
Permasalahan yang dihadapi guru adalah bergantinya kurikulum setiap bergantinya menteri. Bukan rahasia umum lagi pergantian menteri sangat berdampak terhadap kurikulum yang dijalankan dalam dunia pendidikan. Dapat dibanyangkan pergantian kurikulum sangat berpengarus pada proses pembelajaran bukan hanya pada guru namun siswa juga menjadi imbas dari perubahan kurikulum yang dimaksud. Sampai saat ini keberhasilan kurikulum yang diterapkan dari setiap perubahan menteri masih dipertanyakan keberhasilannya. Apakah setiap pergantiaan tersebut sudah dilakukan evaluasi secara menyeluruh?. Bagaimana dampaknya terhadap dunia pendidikan?. Bagaimana sosialisasinya dan apakah sudah sampai menyentuh ke desa-desa khususnya daerah 3T yang juga sering terabaikan. Perubahan kurikulum ini sangat berdampak khususnya bagi guru yang mengajar. Belum mengerti dan memahami secara utuh bahkan masih ada di beberapa sekolah yang gurunya pun tidak tahu dengan perubahan apasaja dengan kurikulum tersebut. Kurikulum yang lama saja belum beres, nah ini ganti lagi dengan yang baru. sehingga guru seperti kelinci percobaan dalam penerapan sistem kepada siswa. Guru langsung bersentuhan dengan siswa dan tahu bagaimana kondisi yang dirasakan.
Moralitas siswa yang rendah
Rendahnya moralitas siswa terhadap guru karena adanya kesalahan dalam pendidikan dan penanaman karakter siswa. Kekerasan yang terjadi kepada guru juga karena andilnya pengaruh luar terhadap perkembangan otak siswa dalam merespon dan menerima secara utuh tidak difilter lagi. Sumbangsih teknologi seperti tontonan sangat tinggi terhadap pola siswa terhadap guru.
Kekurangan bahan belajar
Hingga saat ini masih banyak sekolah yang minim dengan bahan ajar ataupun sarana prasarana yang dimiliki. Bagaimana mungkin karena kekurangan ini sangat berimbas pada kemajuan anak didik dan sekolah. Contohya buku-buku yang tersedia sebagai media pembelajaran tidak dimiliki sehingga anak menerima ilmu hanya pada satu pihak saja. Belum lagi sarana dan prasarana yang tidak tersedia sebagai bahan untuk belajar.
Ruang kelas yang tidak memadai
Masih adanya siswa yang harus belajar di luar ruang karena terbatas atau minimnya ruang kelas sebagai tempat belajar. Bahkan ada sekolah harus saling berbagi ruang dengan menyekat satu ruangan menjadi dua. Dapat dibanyangkan bagaimana kondisi pembelajaran yang dilakukan.
Kesejahteraan guru
Minimnya gaji guru saat ini menjadi kendala bagi seorang guru khususnya guru honorer yang hanya mengandalkan gaji hanya sebagai tenaga pengajar. Masih bisa ditemui gaji seorang guru honorer hanya 100 ribu rupiah setiap bulannya dan itu juga diterima pertriwulan dari dana bos. Bisa dibanyangkan apa yang terjadi jika seorang guru honorer berhenti tidak mengajar karena minimnya kesejahteraan bagi mereka. Justru akan menjadi PR besar bagi setiap yang berwenang dalam mengadakan guru. Perhatian terhadap guru honorer juga harus menjadi priorias utama dalam menuntaskan masalah guru.
Guru disibukkan dengan administrasi
Kesibukkan guru saat ini bisa di lihat dengan jelas tidak hanya mengajar saja namun guru juga sudah harus mempersiapkan segala sesuatu yang terkait dengan administrasi. Program pemerintah yang begitu bejibun sangat menguras energi sebagai seorang guru sehingga banyak yang terabaikan tugas utamanya sebagai guru. Sebut saja program SPMI, PKP, SRA, Adiwiyata, E-Raport, SIKUDA, Kenaikan pangkat, Sertifikasi, dll. Persoalan yang timbul akhirnya guru lebih memprioritaskan siswa dalam akademisnya saja namun mendidiknya akhirnya terabaikan.
Bagi sekolah yang jauh dari pusat perkotaan sebagaimana posisi dinas pendidikan yang berpusat di ibukota kabupaten bisa membuat guru dalam mengurus administrasi yang berhubungan dengan kebutuhan pribadi memakan waktu lebih dari satu hari.
Masih banyak lagi masalah yang terjadi di lapangan jika benar-benar ditelusuri dan ini menjadi tugas baru bagi mendikbud seorang Nadiem yang mendapatkan gelar mendikbud milineal.
Tugas seorang guru yang tidak bisa digantikan oleh kecanggihan alat teknologi dalam mendidik siswa adalah pendidikan karakter, akhlak, inovasi, dan kreativitas. Ini tidak boleh diabaikan dan dilupakan meskipun nantinya teknologi digital akan diterapkan dalam dunia pendidilkan. Mendikbud baru harus mampu menjawab tantangan kemajuan dunia pendidikan yang tidak melupakan moralitas sebagai seorang manusia. Permasalahan yang menumpuk dalam dunia pendidikan menjadi prioritas utama untuk diselesaikan dengan baik.
Saat ini dengan adanya BOS Afirmasi ini sudah menjadi langkah maju oleh mendikbud sebelumnya yang digulirkan untuk sekolah-sekolah yang masuk dalam 3T. Penerapan teknologi ini pun harus diiringi dengan pengadaan fasilitas yang harus disiapkan terkait penerapan teknologi tersebut.
Harapan terbesar sebagai seorang guru kepada Nadiem Makariem harus mampu mewujudkan dunia pendidikan yang hidup dengan digitalisasi yang terarah dan tepat dalam penggunaannya. Memfokuskan semua permasalahan untuk mencari solusi yang tepat dari semua masalah. Jadikan teknologi sebagai penyelesaian yang tepat menuntaskan semua permasalahan.
Kapan perlu terpusat pada satu titik saja termasuk dalam setiap laporan yang terkait dengan kebutuhan administrasi dan laporan pokok untuk kesejahteraan guru terpusat pada satu sistem dan guru memiliki akses yang cepat, tepat tanpa menghambat harus melalui birokrasi yang panjang. Smart dengan teknologi tentu akan mempermudah guru bukan mempersulit guru nantinya.
Kami yakin dan percaya bahwa terpilihnya Nadiem Makariem dapat menjawab tantangan dunia digitalisasi dalam dunia pendidikan yang akan terakses ke segala penjuru tanah air sehingga nantinya tidak ada lagi desa yang tidak tersentuh dengan akses kemajuan dunia digital. Namun harus perlu adanya persiapan dan pembenahan disemua aspek yang menjadi syarat untuk menerapkan pendidikan digital tersebut di era milineal industri 4.0. Nadiem menjadi tumpuan harapan bagi seluruh guru Indonesia untuk bisa menuntaskan persoalan yang membelit dunia pendidikan.
Untuk itu perlu adanya kerjasama dan kordinasi yang baik seorang kemendikbud dengan berbagai pihak yang peduli dengan pendidikan untuk mengambil bagian dalam mencapai tujaun pendidikan.
Terkhusus salam perubahan buat Pak Nadiem Makariem sebagai mendikbud baru, semoga niat dan langkah dalam membenahi dunia pendidikan akan tercapai dengan baik. Selamat dan sukses buat Pak Nadiem Makariem. Barakallah.
Jurnal Pase Media Online Pase