
MENDIDIK BUKAN MENGHARDIK : MENJAGA NURANI PENDIDIKAN DI AMBANG PERADABAN 2026
Refleksi Hari Pendidikan Nasional 2026
Oleh: Qusthalani
Direktur Yayasan Warisan Jempa Cendikia
Pagi Hari Pendidikan Nasional 2026 datang dengan wajah yang berbeda. Di banyak sekolah, upacara masih berlangsung khidmat, bendera tetap dikibarkan dengan penuh hormat, dan pidato-pidato masih terdengar menggema di lapangan. Namun di balik semua itu, ada perubahan besar yang tak kasat mata. Ruang kelas telah berevolusi. Teknologi bukan lagi sekadar alat bantu, melainkan telah menjadi bagian dari ekosistem belajar itu sendiri. Kecerdasan buatan hadir sebagai asisten belajar, kurikulum bergerak dinamis mengikuti perkembangan zaman, dan akses terhadap pengetahuan menjadi semakin luas tanpa batas.
Tetapi di tengah kemajuan itu, muncul kegelisahan yang tak bisa diabaikan. Apakah kita masih setia pada tujuan awal pendidikan? Apakah kita sedang membentuk manusia yang merdeka berpikir dan berjiwa utuh, atau justru mencetak generasi yang patuh tanpa daya kritis? Pertanyaan ini menjadi semakin relevan ketika kita melihat fenomena di mana kecerdasan intelektual meningkat, tetapi kepekaan emosional justru melemah.
Di sinilah gagasan “mendidik bukan menghardik” menemukan urgensinya.
Menghardik dalam konteks pendidikan hari ini tidak lagi selalu hadir dalam bentuk bentakan atau hukuman fisik. Ia telah berubah rupa, menjadi lebih halus namun tak kalah menyakitkan. Ia hadir dalam tekanan nilai yang berlebihan, dalam ekspektasi yang tidak manusiawi, dalam perbandingan yang meruntuhkan harga diri, dan dalam pengabaian terhadap kesehatan mental peserta didik. Bahkan, dalam era digital, hardikan bisa hadir dalam bentuk diam ketika guru dan siswa tidak lagi terhubung secara emosional, ketika interaksi hanya sebatas pengumpulan tugas melalui aplikasi tanpa dialog yang bermakna.
Seorang anak yang terus-menerus ditekan untuk mencapai standar tertentu tanpa ruang untuk gagal akan belajar satu hal, takut. Ia tidak lagi belajar karena ingin tahu, tetapi karena ingin menghindari hukuman. Dalam kondisi seperti ini, proses belajar kehilangan maknanya. Yang tersisa hanyalah kepatuhan yang rapuh.
Padahal, rasa ingin tahu adalah inti dari pembelajaran. Ia adalah bahan bakar yang mendorong seseorang untuk terus mencari, bertanya, dan memahami dunia. Ketika rasa ingin tahu ini dimatikan oleh tekanan dan ketakutan, maka yang hilang bukan hanya potensi akademik, tetapi juga semangat hidup itu sendiri.
Pemikiran Ki Hadjar Dewantara kembali menjadi relevan dalam situasi ini. Ia pernah menegaskan bahwa pendidikan adalah proses menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Menuntun, bukan menekan. Membimbing, bukan memaksa. Dalam filosofi ini, setiap anak dipandang sebagai individu yang unik, yang memiliki potensi berbeda dan membutuhkan pendekatan yang berbeda pula.
Namun realitas di lapangan sering kali tidak seindah gagasan. Banyak sekolah masih terjebak dalam paradigma lama yang menekankan keseragaman. Semua siswa diharapkan mencapai standar yang sama, dengan cara yang sama, dalam waktu yang sama. Perbedaan dianggap sebagai masalah, bukan sebagai kekayaan. Dalam sistem seperti ini, mudah sekali bagi guru terutama yang berada di bawah tekanan untuk menggunakan hardikan sebagai alat kontrol.
Kita juga tidak bisa menutup mata terhadap kondisi para guru. Di balik tuntutan untuk mendidik dengan penuh empati, mereka sering kali harus menghadapi beban administratif yang berat, tekanan target yang tinggi, serta kesejahteraan yang belum sepenuhnya memadai. Dalam situasi seperti ini, kelelahan emosional menjadi sesuatu yang tak terhindarkan. Dan ketika emosi tidak dikelola dengan baik, hardikan bisa muncul sebagai respons spontan.
Oleh karena itu, refleksi pendidikan tidak boleh hanya berhenti pada siswa. Memanusiakan pendidikan berarti juga memanusiakan guru. Memberikan ruang bagi mereka untuk berkembang, untuk didukung, dan untuk dihargai. Karena guru yang sejahtera secara emosional akan lebih mampu menciptakan lingkungan belajar yang sehat.
Di era digital ini, tantangan pendidikan menjadi semakin kompleks. Anak-anak tumbuh dalam dunia yang serba cepat, penuh distraksi, dan sangat terhubung secara virtual. Mereka mampu mengakses informasi dengan mudah, tetapi belum tentu mampu memaknainya. Mereka bisa berkomunikasi dengan banyak orang, tetapi belum tentu mampu membangun hubungan yang mendalam.
Di sinilah peran guru menjadi semakin penting. Bukan sebagai sumber informasi, tetapi sebagai fasilitator makna. Sebagai pendamping yang membantu siswa memahami dirinya sendiri dan dunia di sekitarnya. Sebagai teladan yang menunjukkan bagaimana menjadi manusia yang utuh.
Kecerdasan buatan mungkin bisa menjawab pertanyaan dengan cepat, tetapi ia tidak bisa memahami perasaan seorang anak yang sedang kehilangan kepercayaan diri. Ia tidak bisa merasakan kegelisahan seorang siswa yang mengalami tekanan di rumah. Ia tidak bisa memberikan pelukan atau kata-kata yang menenangkan di saat yang paling dibutuhkan. Hal-hal inilah yang menjadi inti dari pendidikan yang sesungguhnya.
“Mendidik bukan menghardik” juga berarti membangun budaya sekolah yang aman secara psikologis. Sebuah lingkungan di mana siswa merasa dihargai, didengar, dan diterima. Di mana kesalahan dipandang sebagai bagian dari proses belajar, bukan sebagai sesuatu yang harus dihukum. Di mana keberanian untuk mencoba lebih dihargai daripada kesempurnaan semu.
Ketangguhan yang sejati tidak lahir dari ketakutan, tetapi dari pengalaman menghadapi tantangan dalam lingkungan yang suportif. Seorang anak yang merasa aman akan lebih berani mengambil risiko, lebih terbuka terhadap kegagalan, dan lebih siap untuk bangkit kembali. Inilah yang disebut dengan resiliensi kemampuan untuk bertahan dan berkembang di tengah kesulitan.
Sebaliknya, anak yang dibesarkan dalam lingkungan penuh tekanan dan hardikan mungkin terlihat patuh di permukaan, tetapi menyimpan luka di dalam. Ia mungkin mampu mencapai prestasi tertentu, tetapi kehilangan kepercayaan diri dan keberanian untuk menjadi dirinya sendiri.
Hari Pendidikan Nasional 2026 seharusnya menjadi momentum untuk merenungkan kembali arah pendidikan kita. Apakah kita ingin membangun generasi yang hanya unggul secara akademik, atau generasi yang juga kuat secara karakter dan emosional? Apakah kita ingin menciptakan sistem yang efisien, atau sistem yang juga manusiawi?
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini akan menentukan masa depan bangsa.
Sebagai bangsa yang besar, kita memiliki warisan nilai yang kaya. Nilai-nilai yang menempatkan kemanusiaan sebagai pusat dari segala aktivitas. Nilai-nilai yang mengajarkan bahwa pendidikan bukan hanya tentang transfer ilmu, tetapi juga tentang pembentukan karakter. Nilai-nilai inilah yang harus kita jaga dan kita hidupkan kembali di tengah arus modernisasi.
“Mendidik bukan menghardik” adalah sebuah komitmen. Komitmen untuk menjadikan pendidikan sebagai ruang yang membebaskan, bukan mengekang. Sebagai tempat yang menumbuhkan, bukan menekan. Sebagai proses yang menghidupkan, bukan mematikan.
Di tahun 2026 ini, ketika teknologi semakin canggih dan dunia semakin kompleks, kita diingatkan bahwa esensi pendidikan tetap sama yaitu membentuk manusia. Dan manusia tidak bisa dibentuk dengan ketakutan. Ia hanya bisa tumbuh dengan cinta, dengan pengertian, dan dengan kepercayaan.
Semoga di masa depan, ruang-ruang kelas kita tidak hanya dipenuhi oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh kehangatan hati. Semoga para guru tidak hanya dikenal karena ilmunya, tetapi juga karena ketulusannya. Dan semoga setiap anak Indonesia dapat tumbuh menjadi manusia yang merdeka yang berpikir dengan jernih, merasakan dengan dalam, dan bertindak dengan penuh tanggung jawab.
Selamat Hari Pendidikan Nasional 2026. Mari kita jaga nurani pendidikan, agar ia tetap hidup di tengah perubahan zaman.
“Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”
Qusthalani, Direktur Yayasan Warisan Jempa Cendikia, Guru SMAN 1 Matangkuli
Jurnal Pase Media Online Pase