
Mengukir Makna di Ajang Guru Berprestasi: Pengalaman Berharga Mewujudkan GTK Inovatif dan Inspiratif Tingkat Kabupaten
Oleh : Nurlina*
Puluhan peserta mendaftar dalam ajang pemilihan guru berprestasi tingkat kabupaten. Salah satunya adalah saya, guru SMK yang mendapat kesempatan mewakili sekolah untuk mengikuti seleksi calon guru berprestasi tahun ini. Teknis pelaksanaannya dilakukan secara daring, serupa dengan berbagai pelatihan online yang pernah saya ikuti bersama Google for Education, REFO, dan GEG Indonesia.
Hari-hari menjelang pelaksanaan lomba terasa sangat sibuk. Menjadi bagian dari ajang bergengsi ini adalah kehormatan tersendiri karena dapat bersaing dengan guru-guru terbaik di kabupaten. Pengalaman ini membantu saya meningkatkan kemampuan sebagai pendidik, sekaligus memberikan kontribusi yang lebih baik bagi pendidikan di daerah kita.
Gupres tahun ini mengangkat tema “Wujudkan GTK Inovatif dan Inspiratif.” Waktu terasa begitu singkat, sementara banyak hal yang harus disiapkan: mengumpulkan portofolio, menulis naskah praktik baik, membuat video pembelajaran mendalam, menyiapkan presentasi, serta mempelajari materi tes yang akan diujikan.
Kisah pun bermula. Tantangan besar muncul ketika laptop saya tiba-tiba mengalami masalah teknis yaitu tidak dapat membuka dokumen maupun aplikasi penting. Kemungkinan besar akibat arus listrik yang tidak stabil beberapa waktu sebelumnya. Saya harus bergegas mencari tempat lain untuk bekerja, sementara waktu terus berjalan tanpa ampun.
Tidak hanya laptop, ponsel pun menjelang hari-H mulai “berulah.” Kapasitas penyimpanan hampir penuh, baterai cepat habis, dan performa menurun. Saya harus berhati-hati agar tidak kehilangan data penting. Setiap kali ponsel mati, rasanya seperti kehilangan kendali. Namun di tengah kesulitan itu, semangat saya tidak padam. Terngiang pesan kepala sekolah, “Keberhasilan bukan hanya tentang hasil, tetapi juga tentang proses dan ketekunan. Yang terpenting, sudah berusaha maksimal.” Pesan itu menjadi motivasi untuk tetap fokus dan mengatur waktu dengan baik.
Hari pelaksanaan pun tiba, pada bulan Oktober 2025. Ada sedikit kekhawatiran karena proses unggah berkas masih berlangsung, sementara waktu semakin mendesak. Namun saya yakin, Allah SWT sudah menetapkan siapa yang terbaik. Saya berusaha sebaik mungkin, dan seperti judul buku solo yang pernah saya tulis, “Bersyukur,” saya pun belajar untuk tidak kalah mental. Jika belum lolos tahun ini, maka tahun depan adalah kesempatan baru.
Pengalaman ini mengajarkan bahwa kesulitan dan tantangan adalah bagian dari proses menuju kesuksesan. Dengan ketekunan, semangat, dan tekad yang kuat, setiap hambatan dapat diatasi. Saya belajar pentingnya memiliki rencana cadangan untuk menghadapi kendala teknis, serta pentingnya membangun komunikasi dengan pihak yang memahami teknis kegiatan. Mengatur waktu dengan cermat dan melakukan persiapan jauh-jauh hari adalah kunci utama keberhasilan.
Mengikuti ajang ini berarti berani mengambil risiko dan konsekuensi baru untuk mencapai kesuksesan. Saya belajar untuk tidak takut mencoba kembali di tahun berikutnya. Pengalaman ini menegaskan bahwa memiliki mental yang kuat dan tahan banting adalah modal utama, bahkan di usia yang tidak muda lagi. Semakin bertambah usia, semakin besar tanggung jawab untuk terus upgrade diri sesuai perkembangan zaman.
Pagi yang cerah menjadi saksi awal acara perkenalan dengan panitia dan tim juri di Gedung Cabang Dinas Pendidikan Aceh Utara. Satu per satu tahapan tes dijelaskan dengan rinci. Setelah tes tertulis, dilanjutkan wawancara pada hari yang sama dan tahap-tahap berikutnya. Semua peserta menjalani proses dengan etika dan integritas masing-masing.
Akhirnya, pengumuman hasil keluar dan saya dinyatakan meraih runner-up. Alhamdulillah! Saya percaya bahwa penilaian juri dilakukan secara akuntabel dan transparan. Mereka memilih yang terbaik untuk mewakili kabupaten di tingkat provinsi. Bagi saya dan peserta lain yang belum lolos, ini bukan akhir, tetapi awal untuk terus belajar dan memperbaiki diri.
Saya berharap pengalaman ini dapat menjadi motivasi bagi saya dan rekan-rekan guru lainnya. Momen penuh haru ini menjadi wadah silaturahmi dan berbagi pengalaman antarpendidik. Semoga komunikasi dan kolaborasi yang terjalin dapat memperkuat semangat dalam meningkatkan mutu pendidikan di Aceh Utara.
Pelaksanaan lomba berlangsung lancar dan terorganisasi dengan baik, mulai dari proses seleksi hingga pengumuman pemenang. Saya mengapresiasi kerja keras panitia yang memastikan semua peserta merasa nyaman dan aman.
Dari sisi teknis, penggunaan teknologi dalam lomba ini sangat membantu, baik untuk seleksi maupun penilaian. Sistem yang digunakan sudah standar, memudahkan peserta mengunggah dokumen dan memantau prosesnya. Namun tentu, masih ada hal yang perlu diperbaiki—seperti kestabilan koneksi internet dan kompatibilitas perangkat. Diharapkan ke depan, panitia dapat meningkatkan infrastruktur teknologi agar pelaksanaan lebih optimal.
Alhamdulillah, terima kasih sebesar-besarnya kepada keluarga yang selalu mendukung setiap langkah saya, kepada kepala sekolah, peserta didik, dan rekan sejawat yang tidak bisa disebut satu per satu. Mereka adalah tim solid yang penuh semangat dan keceriaan.
Semoga pengalaman ini menjadi inspirasi bagi semua untuk terus berusaha dan tidak menyerah menghadapi tantangan. Dengan ketekunan, semangat, dan tekad yang kuat, saya percaya kita semua dapat menjadi guru yang inovatif dan inspiratif.
Nurlina, S.Pd., M.Pd, Guru SMK Negeri 1 Lhoksukon dan Finalis GTK Berprestasi Tingkat Kabupaten Tahun 2025. nurlina.1247@gmail.com
Jurnal Pase Media Online Pase