Minggu , 18 Januari 2026
Home / Inspirasi / KISAH GURU DAN MANTAN MURIDNYA

KISAH GURU DAN MANTAN MURIDNYA

Foto:ilustrasi

KISAH GURU DAN MANTAN MURIDNYA

Oleh : Agussalim, M.Pd

Guru : SMAN1 Tanah Jambo Aye/Pengurus IGI Aceh Utara

Dikisahkan oleh yang empunya kisah. Di sebuah negeri entah berantah. Seorang guru kerap melakukan tindak kekerasan terhadap muridnya bila kedapatan melanggar peraturan padepokan.

Guru ini tak segan-segan menampar bahkan membenturkan kepala murid ke dinding kayu. Murid-murid hanya pasrah dengan kekerasan yang dialaminya. Sebagian dari mereka sangat membenci guru ini. Sebagian lagi ikhlas menerimanya.

Waktu terus berjalan. Usia guru tersebut tak lagi muda. Hanya beberapa tahun lagi ia akan memasuki masa pensiun. Tapi sayang, diusianya yang kian senja, ia kehilangan arah. Ia mulai mengonsumsi minuman keras. Dilain waktu ia juga terlibat perjudian. Efeknya keluarganya hancur berantakan.

Orang-orang kampung mulai menjauhinya. Termasuk mantan murid-muridnya. Kini ia seperti orang linglung. Bahkan orang sekampung sudah menganggapnya tak waras.

Kabar itu mulai menyebar dari mulut ke mulut. Hingga sampai ditelinga salah satu mantan muridnya. Mantan murid yang pernah dibenturkan wajahnya ke dinding oleh sang guru kala di padepokan. Murid itu kini telah sukses menjadi guru di salah satu padepokan yang kesohor di negeri seberang.

Lalu, murid ini memutuskan pulang mencari sang guru. Sesampai di kampung tempat padepokan berada, murid ini bertanya kepada setiap warga yang ditemuinya tentang keberadaan guru saat itu. Jawabannya serupa, mereka tidak tau dan tidak mau tau tentang guru itu. Dari ekspresi wajah orang-orang itu, sosok guru yang ditanyainya sudah dianggap sampah masyarakat.

Si murid tidak putus asa. Ia terus menyusuri jalan setapak mencari keberadaan sang guru. Di belokan jalan, tiba-tiba matanya melihat sosok laki-laki tua sedang berjalan tertatih-tatih. Pakaiannya kumal. Rambutnya acak-acakan. Tatapan matanya kosong.

Diperhatikan dengan seksama. Ternyata itulah sosok orang yang dicarinya. Sejurus ia langsung mendekati guru tersebut, mencium tangan serta memeluknya.

Mendapat perlakuan seperti itu, lelaki tua tersebut terperanjat. Siapa gerangan anak muda dengan pakaian necis memperlakukannya dengan sangat terhormat. Suasana menjadi hening untuk sesaat.

“Siapa kamu, anak muda?” Tanya lelaki itu sambil membuang pandangan ke semak-semak.

“Aku mantan muridmu, guru. Berkat didikanmu, aku sekarang sudah berhasil, guru,” jawab anak muda itu.

“Lalu, apa maumu?” Sambung lelaki itu.

“Aku ingin berterimakasih, guru. Aku ingin memuliakanmu,” ujar anak muda.

“Pergilah, kamu tidak perlu berterimakasih. Tidak perlu juga menghormatiku. Justeru aku minta maaf karena dulu pernah membenturkan wajahmu ke dinding padepokan.”

Kemudian, lelaki itu melanjutkan perjalanannya. Sang murid mengikuti dari belakang. Ternyata lelaki itu menuju ke warung kopi.

Pemandangan yang mengiris hati disaksikan oleh anak muda ini. Begitu lelaki tua itu masuk ke warung, orang-orang langsung menjauh bahkan sebagian meninggalkan warung. Tidak ada yang mau menyapanya, walaupun itu sekedar basa basi saja.

Melihat itu, anak muda ini langsung masuk ke warung dan duduk hormat di samping lelaki itu. Orang-orang melihatnya dengan penuh rasa heran.

Usai membayar makanan dan minuman, anak muda ini mohon izin kepada gurunya. Tidak lupa, ia juga menyalami serta mencium tangan lelaki itu. Orang-orang yang sempat menyaksikan kejadian itu semakin heran dengan perlakuan anak muda ini.

Saat hendak meninggalkan warung, anak muda ditanyai oleh yang empunya warung.

“Mengapa anda memperlakukan lelaki itu dengan hormat. Bukankah dia sudah jadi sampah masyarakat sekarang?”

Anak muda ini dengan tenang menjawab, “Semua orang punya sisi negatif dan positif. Aku melihatnya dari sisi positif. Siapapun dia saat ini, dia tetaplah seorang guru yang dulunya pernah mendidikku hingga aku bisa seperti sekarang. Sudah menjadi kewajibanku untuk menghormatinya”

Mendengar itu si pemilik warung tercengang. Dilain hari, ia juga menyaksikan perlakuan hormat anak muda ini terhadap mantan gurunya itu. Ia pun menceritakan kejadian ini kepada setiap pengunjung.

Alhasil, sang guru tidak pernah berkunjung lagi ke warung tersebut. Ia merasa malu bila berjumpa dengan anak muda tadi yang tak lain adalah mantan muridnya. Iya, mantan murid yang pernah dibenturkan wajahnya ke dinding padepokan.

[Kisah ini hanya fiktif belaka. Apabila ada kesamaan, itu hanya kebetulan sahaja]

About admin

Check Also

Pendidikan Aceh Utara Punya Pedoman Baru! Kacabdin Muhammad Johan Luncurkan Buku “Membangun Budaya Mutu”

Lhoksukon| Jurnalpase.com, 06 November 2025 – Kepala Cabang Dinas (Kacabdin) Pendidikan Wilayah Kabupaten Aceh Utara, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *