Home / Droe ke Droe / ACEH CARONG DENGAN PENDIDIKAN WARISAN INDATU

ACEH CARONG DENGAN PENDIDIKAN WARISAN INDATU

Oleh: Muhammad Nasir Age

Anakku, kini engkau memulai sekolah baru. Kami, orangtuamu, ingin membekali dengan beberapa petuah yang kelak akan bermanfaat. Marilah engkau menyimak sesaat sebelum engkau berangkat ke sekolah!

Anakku, sampai saat ini kami masih ingat sepotong pesan dari kepala sekolah sewaktu perpisahan Sekolah Dasar dulu: jika kalian nanti mendengar kabar saya telah tiada, jangan lupa bacalah sekali saja sesurat Al-fatihah untuk sekadar mengenang saya. Kau tahu anakku, kepala sekolah kami bukan orang alim, dia juga tidak terlalu pintar mengajar. Tapi permintaannya itu cukup membekas di hati kami, makanya kami tak bisa lupa. Apakah engkau juga menyimpan kenangan yang mengakar terhadap sekolah dan guru-gurumu?

Anakku, bersekolah bukanlah supaya engkau sekadar pintar, tahu baca tulis dan angka-angka. Abc, alif-ba-ta, dan deret hitung satu-dua-tiga bisa kau pelajari di mana saja. Sambil menangkap anak katak di tali air sawah engkau bisa mengeja kata-kata, atau sambil bermain games di tablet engkau bisa menghitung angka-angka. Tidak anakku, sekolah tidak sekadar itu.

Ah, apakah engkau masih ingat pernah merengek minta masuk ke sekolah favorit dulu? Tapi mana bisa. Nilaimu tak membuat jebol ke sana. Kamu minta supaya kami melakukan apa saja, termasuk mendekati petinggi daerah dan memberi duit kepada kepala sekolah supaya kamu diterima. Tapi kami tak bersedia. Anakku, sudah saatnya engkau tahu bahwa sekolah favorit tak memiliki hubungan yang linear yang membuat seseorang sukses di masa depan. Sebutan favorit itu hanyalah untuk membuat orang tua dan anak-anak ber-ekspektasi ke langit tinggi. Untuk berbangga pada tetangga dan teman-teman mereka. Sebab itu, kita tak perlu ‘mengurusmu’ supaya lulus ke sana. ‘Mengurus’ akan mengubah sesuatu yang sebenarnya menjadi tidak sebenarnya. Artinya, jika engkau lulus maka akan ada yang seharusnya lulus menjadi tidak lulus. Ada yang teraniaya. Apakah hatimu tega? Dhalim, agama menyebutnya. Kau tahu, efek dari kedhaliman itu akan terus mengembara dalam jiwamu sampai kelak kau menjadi orang dewasa.

Akhirnya, bersedialah engkau bersekolah di sekolah orang biasa. Tempat anak bermacam latar belakang berkumpul dalam satu ruangan. Anak kaki lima, anak gedongan, anak nelayan, anak pengusaha, anak preman pasar, juga anak pemilik swalayan. Anak petani, juga anak pejabat agak tinggi yang sesekali mengantar anaknya pakai mobil dinas ke sekolah. Di sinilah sebenarnya engkau bisa memulai belajar akulturasi sosial, supaya kelak hatimu terisi banyak toleransi dan kepedulian.

Tapi kadang pernah juga engkau ingin tampil beda. Beberapa kali engkau minta diantar pakai mobil ke sekolah. Tentu saja belum bisa kami kabulkan. Mungkin engkau jengah melihat mobil kita ‘nganggur’ di garasi rumah. Sementara engkau ke sekolah berpeluh-kesah dengan menapak kaki. Tidak, tidak anakku. Apakah hatimu cukup nyaman dengan bermobil ke sekolah, sementara teman-temanmu yang lain setiap pagi meniti sendiri tapak kakinya ke sekolah, bahkan kadang bersepatu pun tidak. Bukankah dengan berjalan kaki bersama-sama akan membuat masa kecil kalian penuh kenangan?

Kini setahun sudah engkau bersekolah. Ada pula permintaan baru setelah engkau naik kelas. Seragam baru. Engkau bilang seragammu telah usang dan tak lagi sepadan untuk dipakai. Guru-guru juga bilang begitu. Maaf, anakku, kami tak mampu mengabulkan permintaanmu untuk mengganti seragam baru setiap tahun. Kau tahu anakku, seragam sekolah tak lagi bebas seperti dulu dapat dibeli di pasar. Sekarang semuanya ditentukan oleh sekolah: jenis, warna, model, harga. Ingat nggak,dulu ada temanmu yang tak sanggup membayar, hingga kemudian harus keluar dan pindah ke sekolah yang lebih murah.

Oleh karena itu, anakku, tak usahlah engkau meminta ganti seragam setiap tahun usai naik kelas. Selagi seragam lamamu masih muat dan layak, belum terlepas jahitan dan tidak koyak, maka tetap pakailah ia dengan bangga. Jangan sampai permintaanmu membuat guru-guru di sekolahmu makin menumpuk dosa dengan berdagang riba dan mark up harga seragam. Mudah-mudahan guru-gurumu di negeri endatu ini tidak demikian.

Anakku, jadikanlah gurumu itu teladan untuk kau gugu dan kau tiru, selagi mereka masih mendidikmu dengan ikhlas dan setulus hati. Karena ketulusan itu pula sehingga mereka mendapat julukan pahlawan tanpa tanda jasa. Profesi yang mulia. Jauh berbeda dengan profesi-profesi lainnya. Profesi arsitek hanya butuh otak dan sedikit khayalan untuk merancang bangunan. Dokter hanya butuh latar belakang ilmu akademisnya untuk mendeteksi penyakit, melakukan operasi dan mengobati orang. Insinyur hanya butuh takaran-takaran matematis untuk melahirkan mesin-mesin yang presisi dan handal. Tapi tidak demikian dengan guru, anakku. Untuk melahirkan manusia yang smart, bijak dan sukses di masa depan, guru tak cukup hanya mengandalkan ilmu akademis, mendiagnosis materi pelajaran, apalagi memakai takaran-takaran angka dalam rapor anak didik mereka. Dengan kata lain, guru taklah hanya cukup memakai otak dalam bekerja, tapi juga perlu mengimbanginya dengan hati supaya terpateri ketulusan di sana.

Anakku, ketulusan hanya datang dari guru-guru yang berkarakter . Dan itu jumlahnya masih sedikit di negeri endatu kita ini. Sebab itu, salah satu jalan penting untuk mengangkat derajat sekolah-sekolah adalah kita harus memiliki guru-guru yang berkarakter. Guru-guru yang berprilaku pendidik. Bukan sekadar guru yang berprilaku pengajar dan tukang transfer ilmu.

Oleh karena itu, hendaknya institusi dan pengelola pendidikan di negeri endatu kita ini harus memulai perbaikan dari proses perekrutan guru. Carilah guru bukan hanya yang memiliki kompetensi dan kapasitas ilmu yang mumpuni untuk mendikte, mengajar dan mampu transfer ilmu. Akan tetapi secara psikologis juga harus punya karakter sebagai pendidik. Sekali lagi: punya karakter sebagai pendidik. Sebab, pendidikan bukanlah sekadar proses transfer ilmu. Tapi lebih penting dari itu, adalah proses transfer akhlak dan karakter.

Hendaknya jangan ada lagi guru-guru yang mengajar hanya sekadar lepas tugas dan kewajiban agar dapat menutupi kecukupan persyaratan kompetensi profesi.

Hendaknya jangan ada lagi guru-guru yang mengajar hanya untuk mengisi lowongan kerja, tapi benar-benar karena panggilan jiwa. Hanya dengan demikianlah, anakku, seorang guru akan mampu menjadi pendidik dan pengasuh. Pendidik yang memiliki ‘jiwa’ pasti mampu terjun dan masuk lebih jauh ke dalam setiap benak peserta didik. Sehingga produk yang mereka hasilkan nantinya bukanlah generasi yang pintar tapi kurang ajar. Bukan pula generasi yang banyak ilmu tapi tak berakhlak. Dan bukan pula generasi yang hebat tapi tak beradab.

Ya, anakku, kita butuh guru yang berkarakter dan berakhlak, agar menjadi panutan bagimu dan teman-temanmu di sekolah. Sebab percuma saja jika di rumah anak-anak patuh pada orang tua, tapi di sekolah mereka tak punya idola. Ya, guru hendaknya menjadi idola bagi murid-muridnya. Hanya dengan demikianlah, anak-anak kita akan terpikat hatinya dengan sekolah.

Naluri dasar orang tua pasti tak ingin punya anak dengan nilai Ujian Nasional (UN) hasil tipu-tipuan. Biar saja nilai UN anak-anak kita hanya mencapai level rata-rata, tapi nantinya kita punya generasi penerus yang memiliki karakter berkilau emas. Yaitu generasi yang peduli sesama, berakhlak mulia, pintar berkreasi dan memiliki daya cipta. Bukan generasi tukang tipu, tukang tiru, tukang jiplak dan tukang bajak ciptaan orang lain. Bukan pula generasi karbitan pencari jalan pintas, ingin cepat kaya dengan menghalalkan segala cara. Bukan juga generasi yang hanya hebat menggunakan otak, tapi tumpul dan dangkal memakai hati.

Anakku, inilah sesungguhnya pendidikan karakter (akhlak) yang diinginkan dan sejak lama ditanam oleh endatu-endatu kita. Mudah-mudahan kini bisa kita petik kembali, demi menuju Aceh carong dan maju.

Tersebab itu, anakku, jika di sekolahmu belum ada pelajaran cara menggunakan hati, maka engkau harus belajar sendiri. Bukalah kitab suci pada malam hari, bacalah satu dua ayat menjelang kau terlelap. InsyaAllah benakmu akan tenang, tenteram dan tercerahkan (insyirah). Boleh juga engkau buka kacamata google melalui layar internet pada tablet yang sering parkir di meja belajarmu. Kau baca di sana hikayat-hikayat nubuwat yang dapat menginspirasimu kelak menjadi manusia taat dan bijak. Internet bukan tempat kau intip orang-orang jahil yang kelak akan mengubahmu dari manusia menjadi binatang. Bahkan lebih rendah dari binatang. Endatu tak mengajarkan kita untuk berperangai demikian.

Anakku, sebelum mengakhiri petuah ini, sekali lagi kami mengabarkan bahwa sekolah bukanlah untuk sekadar membuatmu pintar menghafal di luar kepala rumus-rumus matematika dan ilmu pengetahuan alam, agar nilai rapormu bertabur angka 9, dan peringkat kelasmu mengalahkan teman-teman, atau agar engkau menjuarai olimpiade sains. Akan tetapi sekolah adalah untuk membuatmu makin disayang teman-teman, sebagai murid engkau taat pada guru, sebagai anak engkau tahu berbakti pada ayah – ibu, dan agar kelak setelah dewasa engkau dekat di hati manusia dan teguh menapak di jalan Tuhan.

Tuhan melihat hatimu, anakku. Bukan otakmu. Kenapa? Karena otakmu sangat mudah di-laundry oleh manusia, sedangkan hati tidak. Sebagaimana perkabaran dalam As-Sunnah, hati adalah sebongkah darah yang akan menentukan akhlakmu baik atau tidak. Sebab itulah, berhati-hatilah engkau menggunakan otak, dampingi selalu ia dengan hati agar dirimu selalu berbaik budi. Hanya dengan demikian kelak engkau akan menjadi pribadi yang mumpuni dan bermartabat. Selamat di dunia dan bahagia di akhirat.

Sekian petuah pagi ini, anakku, sebagai sarapan di pertengahan tahun pelajaran baru. Sekarang bersiaplah kita berangkat, akan kami antar engkau ke sekolah. Silakan engkau berbahagia karena bertemu guru-guru dan teman-teman baru di sana.

Muhammad Nasir Age, Penyuka sastra dan peminat masalah pendidikan
email : nasir_gabra@yahoo.com

About Redaksi

Check Also

Anda Muslimah Berwajah Lebar, Jangan Bimbang. Inilah Triknya

GAYA berhijab memang beragam, tapi tak sembarangan bisa diterapkan, terutama bagi muslimah yang sangat perhatian …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *