
Oleh: Qusthalani
Aneh ketika ada yang kontra terhadap salah satu program yang ada di pendidikan usia dini. Penulis bukan kontra terhadap program tersebut, tetapi ada beberapa pelaksaannya yang sudah diluar batas kewajaran. Kita harus memahami apa itu pendidikan usia dini dan bagaimana perkembangan kognisi seorang anak ?
Anak-anak seiring berkembangnya otak, berkembang pula cara berfikirnya. Anak-anak saat berumur 2-7 tahun baru belajar berfikir menggunakan simbol-simbol, dan pencitraan batiniah, namun pikiran mereka masih tidak sistematis dan tidak logis. pikiran di titik ini sangat berbeda dengan pikiran orang dewasa. Mereka belum mampu untuk memahami lebih jauh daripada itu, ketika hal tersebut dipaksakan maka akan terjadi konflik dalam otak si anak. Itulah yang terjadi pada pendidikan usia dini sekarang.
Indikator permasalahan
Penulis memiliki beberapa indikator atas permasalahan tersebut. Pertama dalam kurikulum pendidikan usia dini disebutkan bahwa Kegiatan pembelajaran pada anak harus senantiasa berorientasi kepada kebutuhan anak. Anak pada usia dini sedang membutuhkan proses belajar untuk mengoptimalkan semua aspek perkembangannya. Dengan demikian berbagai jenis kegiatan pembelajaran hendaknya dilakukan berdasarkan pada perkembangan dan kebutuhan masing-masing anak, tetapi yang dilaksanakan sekarang secara tidak langsung mereka mulai diajarkan membaca, menulis dan berhitung disitu permasalahan mulai muncul. Terkesan aneh memang dan kita tidak pernah sadar akan permasalahan tersebut.
Kedua, selama ini kita bangga ketika anak-anak kita sudah pintar membaca, menulis dan berhitung sebelum umur tujuh tahun. Kita beranggapan mereka pintar, tanpa kita sadari ketika mereka menginjak umur 9 tahun mereka akan bosan untuk belajar. Memang permasalahan ini belum ada kajian dan penelitian yang mendalam, tetapi kenyataan yang terjadi seperti itu.
Ketiga, dalam islam juga telah disebutkan batas umur seorang anak untuk belajar sesuai hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu yang artinya: “ajarkan sholat pada anak anak disaat berumur 7 tahun” (HR. At-Tirmidzi). Memang beberapa penelitian menyebutkan bahwa sekitar 50% kapabilitaas kecerdasan orang dewasa telah terjadi ketika anak berumur 4 tahun, 80% telah terjadi perkembangan yang pesat tentang jaringan otak ketika anak berumur 8 tahun dan mencapai puncaknya ketika anak berumur 18 tahun, dan setelah itu walaupun dilakukan perbaikan nutrisi tidak akan berpengaruh terhadap perkembangan kognitif.
Beberapa Masukan
Hasil di lapangan jelas-jelas bertolak belakang dengan teori yang ada. Anak-anak yang belajar keras sebelum umur 7 tahun akan cenderung bosan ketika mereka sudah memasuki sekolah dasar (SD), sehingga prestasinya akan menurun.
Beberapa sekolah di Aceh terlalu memaksakan terhadap pendidikan anak sebelum umur 7 tahun. Seperti mewajibkan anak sudah bisa membaca dan menulis sebagai syarat untuk diterima pada sekolah dasar. Hal tersebut sudah sangat bertentangan dengan perkembangan berfikir anak yang belum sampai ke tahap tersebut. Akibatnya ketika anak sudah mulai sekolah mereka akan malas karena merasa bosan. Kebijakan tersebut perlu ditinjau ulang untuk kemajuan pendidikan Aceh kedepannya.
Kita seharusnya bisa mencontoh pendidikan di finlandia yang merupakan salah satu negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia untuk saat ini. Apa yang berbeda di pendidikan di finlandia yang notabenenya bukan negara Islam.
Di Finlandia menurut hukum di negara mereka, anak-anak baru boleh mulai bersekolah ketika berumur 7 tahun. Peraturan tersebut sebagai pertimbangan mendalam terhadap kesiapan mental anak-anak untuk belajar. Mereka juga meyakini keutamaan bermain dalam belajar, berimajinasi, dan menemukan jawaban sendiri. Anak-anak di usia dini justru didorong untuk lebih banyak bermain dan bersosialisasi dengan teman sebaya.
Semua guru di Finlandia diwajibkan memegang gelar master yang disubsidi penuh oleh pemerintah dan memiliki tesis yang sudah dipublikasi. 1 guru untuk 12 siswa di Finlandia, rasio yang jauh lebih tinggi daripada negara-negara lain. Jadi guru bisa memberikan perhatian khusus untuk tiap anak, gak cuma berdiri di depan kelas.
Kreadibilitas dan mutu tenaga pengajar yang tinggi memungkinkan pemerintah menyerahkan tanggung jawab membentuk kurikulum dan evaluasi pembelajaran langsung kepada mereka. Hanya terdapat garis pedoman nasional longgar yang harus diikuti.
Upaya pemerintah meningkatkan mutu sekolah dan guru secara seragam di Finlandia pada akhirnya berujung pada harapan bahwa semua siswa di Finlandia dapat jadi pintar. Tanpa terkecuali. Maka dari itu, mereka tidak mempercayai sistem ranking atau kompetisi yang pada akhirnya hanya akan menghasilkan ‘sejumlah siswa pintar’ dan ‘sejumlah siswa bodoh’.
Kita memang tidak perlu meniru, karena pada dasarnya Finlandialah yang meniru kita. Menurut Anis Baswedan, “Pendidikan di Finlandia berdasarkan ajaran Ki Hajar Dewantara dalam buku “Sekolah Taman Siswa” di Indonesia buku ini bahkan tidak di baca” Ironis bukan?
*Qusthalani, S.Pd, M.Pd, Guru SMA Negeri 1 Matangkuli, Ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI) Aceh Utara
Jurnal Pase Media Online Pase