Home / Cerpen / PUAN PUALAM

PUAN PUALAM

Iklima Naya siswi SMAN1 Murara Batu : dokJurnalpase.co

ASSALAMUALAIKUM

Hai teman-teman! Kali ini, Ima mau bagi cerpen untuk para pembaca. Ini salah satu bentuk cerpen yang bertema lokal. Cerpen ini lebih dari 5000 kata dan asli imajinasiku kok, bukan dari pengalaman pribadi. Selamat membaca…

 

PUAN PUALAM

Dilema hati yang diderita dara cantik rupawan seakan tak pernah berakhir. Berawal dari hobi berubah menjadi pekerjaan yang senang digelutinya setiap hari. Lingkungan adalah masalah yang sering terjadi pada diri seorang. Begitu pun Cut Dwana, gadis yang baru menginjak usia 17 tahun selalu di dera rasa gelisah saat akan memulai pekerjaannya sebagai penari. Gelar Cut yang melekat pada dirinya membuat Ia senantiasa menjaga harga diri dan kehormatan keluarga.

Dentingan sendok yang menyentuh piring terdengar nyaring di meja makan keluarga Teuku Jadir Habsyi yang berjumlah empat orang. Dia dan istrinya, anak pertamanya Cut Phonna, dan terakhir, tentunya Cut Dwana. Tak ada seorang pun yang bersuara. hingga akhirnya, Dwana meletakkan sendok kepiringnya dan bangkit dari kursi.

“ Abah. Singoeh kak Phonna nak meusandeng bak peulamin. Dan lon yang akan peujaroe ranup lam puan nibak pintoe ke lintoe kakak (Abah. Besok kak Phonna akan bersanding di pelaminan. Dan aku yang akan mempersembahkan ranup dalam puan di pintu kepada calon suami kakak) “. Semua orang menatapnya lalu menatap Teuku Jadir, tapi tak ada yang berani bersuara, semua menunggu keputusan Abah mereka. Tak ada reaksi darinya, hanya wajah datar yang terlihat dari laki-laki tua itu, dan hanya memperlihatkan wajah yang diselimuti seribu tanda tanya bagi keluarga terutama Dwana. kemudian ia mengambil gelas yang sudah berisi air putih lalu meneguknya, setelah itu ia bangkit dan berbalik badan menuju pintu depan dan keluar dari rumah. Ummi, kakaknya dan termasuk Dwana yang masih dalam posisi berdiri seakan kaku tak keluar satu patah kata pun sambil melihat punggung Abah mereka dengan tatapan kecewa.

Deru langkah kaki Dwana menyerbu anak tangga. Sedangkan ummi dan kakaknya hanya bisa menghela nafas panjang dan mengelus dada. Di dalam kamar, Dwana berbaring sambil memeluk bantal merah berbentuk hati, ia merasa, tak ada yang dapat memahami dirinya. Menurutnya, Abah terlalu egois dan terlalu menekannya. Dia menganggap Abah selalu menentukan apa yang harus dilakukannya dan tidak, sedangkan umminya tidak mengeluarkan sedikit bait-bait pembelaan kepadanya di depan Abah, seolah-olah perintah Abah adalah titah raja yang wajib dipatuhi.

Dwana memang anak yang keras kepala. Walaupun dilarang, ia tetap melakukannya. Keahliannya menari tak dapat diragukan lagi. Dari umur 6 tahun ia sudah mengikuti kompetisi tari dari tingkat kecamatan sampai tingkat provinsi. Banyak tarian Aceh yang dikuasainya mulai dari Ranup Lam Puan, Tarek Pukat, Saman, Sedati, Seulanga, Top Pade, bahkan tari kreasi. Sehingga banyak yang menawarinya untuk mengisi acara-acara hajatan di kampung ataupun acara besar di lingkungan pemerintah. Dia sangat aktif di sanggar tari, dan bahkan julukan putri tari kini melekat sebagai namanya. Sampai di SMA pun ia masih bergelut di dunia tari. Entah berapa banyak uang yang telah didapatkan dari pekerjaan menari. Tapi sayang, saat umurnya genap tujuh belas tahun, keluarga, khususnya abah sangat melarangnya untuk menari lagi. Jelas sekali, hal itu membuatnya sangat shok dan kaget. Menari telah menjadi bagian dari hidupnya. Dan sekarang, abahnya merenggut itu darinya. Sungguh sakit hatinya melihat keputusan abah yang menurutnya tidak adil.

Dwana bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan mendekati meja jepara kecil di samping lemarinya. Di atas meja itu ada sebuah puan yang berkilau terbuat dari kuningan murni peninggalan neneknya yang sudah menemani Dwana menari belasan tahun lamanya.

Selain sering disebut dengan sebutan puan, sebagian orang aceh ada juga yang menyebutnya cerana dan ada pula yang menyebutnya batee ranup. Dwana bangkit perlahan mengambil puan itu sambil menggosok-gosoknya dengan kain agar kelihatan bersih dan mengkilat. Entah mengapa saat Ia melihat Puan itu, Ia merasa Puan itu hidup dan memanggilnya “Dwana kemari! Ayo kemari! Menarilah denganku”, entah setan apa yang merasuki Puan itu sehingga Dwana selalu terhipnotis saat melihatnya. Kemudian Ia memasukkan sepiring kaset ke dalam VCD dan menekan tombol ON. Alunan irama musik mengalun merdu menyihirnya untuk bergerak. Satu, dua, tiga langkah, melompat berputar, dia dan puannya bagai sepasang kekasih yang sedang berdansa. Daun jendela terbuka lebar, tiupan semilir angin malam yang menyentuh lembut kulit Dwana yang mulus bak bidadari, rambutnya yang tergerai seolah mengajaknya terus menari dan jangan berhenti.

Ketukan pintu dari luar terdengar berkali-kali. Sontak ia menyudahi tariannya dan mematikan VCD lalu bergegas membuka pintu. Ternyata Syarifah Nur yaitu umminya yang berdiri di depan kamarnya sambil tersenyum. “Ummi boleh masuk?” tanya syarifah Nur. Dwana tidak menjawab, dia hanya mengangguk lemas dan berjalan ke arah ranjang. Syarifah Nur mendekatinya dan mereka duduk di atas kasur. Suasana hening, lalu Syarifah Nur melirik puan yang dipegang Dwana. kemudian ia menyentuh pipi putrinya.

Tumpahlah air mata Dwana pada saat itu. Syarifah Nur yang peka akan hal itu pun lansung memeluk tubuh Dwana yang bergetar hebat karena menangis.

“ Janganlah menangis putriku! Ummi ada bersamamu. ummi tahu, ummi memang tak bisa membantumu. Tapi setidaknya bicaralah pada ummi nak ! “ dengan lembut Syarifah Nur membujuk sambil mengelus rambut panjang putrinya.

“Ummi tidak pernah membela Dwana di depan Abah. Ummi hanya diam saja seperti menyetujui larangan Abah” ungkap Dwana di sela-sela tangisannya yang semakin deras.

“ Maafkan Ummi yang lemah ini sayang “, Syarifah Nur mulai mengeluarkan buliran air mata itu lansung dirasakan Dwana yang terjatuh tepat di bahunya. Syarifah Nur mulai mengendorkan pelukannya dan setia mendengar isi hati putrinya. Dwana seolah masih belum puas melampiaskan kekesalannya pada umminya.

“ Ummi. Dwana tahu, seorang gadis harus menjaga kehormatannya dan keluarganya. Tapi, menari telah menjadi bagian dari hidupku ummi. Sejak kecil, Puan ini sudah bersamaku. Tak mungkin aku meninggalkannya. Menarilah hal yang ku suka ummi, aku bahagia menjalaninya. Apakah Ummi dan Abah tega merebut hal yang kusuka? Apakah Ummi dan Abah ingin merenggut hal yang membuatku bahagia? “. Pertanyaan bertubi-tubi yang dilontarkan Dwana membuat Syarifah Nur bisu dan tak sanggup menanggung sesak di dada.

“ Dwana putriku. Seorang anak perempuan, kelak juga akan menjadi seorang wanita dan menikah. Kamu bukanlah seorang anak kecil lagi nak, kemolekan tubuhmu itu semakin kentara, kecantikanmu adalah sesuatu yang paling berharga dari apa pun.

Janganlah kemolekan dan lekuk tubuhmu yang meliuk-liuk di atas panggung menjadi santapan syahwat bagi setiap laki-laki. Kamu itu berharga nak. Seorang gadis yang beranjak remaja harus bisa menjaga diri dari fitnah. Karena itu, mereka para gadis harus menutup diri mereka, agar kehormatan dan harga dirinya tak tercoreng dimata masyarakat terutama di hadapan Allah. Jadilah gadis lembut yang patuh akan peraturan agama. Agar terhindar dari dosa dan api neraka”.

Dengan bijak Syarifah Nur memberikan petuah kepada Dwana. Ia masih terdiam seperti mencerna perkataan umminya. Satu kecupan di sematkan di dahi indah Dwana, lalu Syarifah Nur bangkit dan keluar dari kamar putrinya.

Dwana masih mencerna kata-kata umminya. Memang benar apa yang dikatakan umminya bahwa usinya sudah tujuh belas tahun, sudah cukup untuknya menari dan bermain dengan puan. Tapi, seolah ada sisi lain pada dirinya yang berbisik bahwa umminya itu kan seorang syarifah yang berasal dari keluarga said dan ulama.

Sudah pantas umminya berpikiran seperti itu, karena umminya berpendidikan di dayah. Sedangkan dirinya, dia berada dalam keluarga bangsawan yang bergelar Teuku dan Cut. Memang benar keluarga uleebalang harus menjaga kehormatan keluarga. Tapi, berpikir terlalu dalam tentang agama itu jarang digunakan dalam pemikiran orang bangsawan. Kepalanya jadi sakit memikirkan hal itu. Akhirnya, ia memutuskan untuk keluar dari rumah untuk mencari udara segar dan menenangkan diri.
***
Suara riuh di alun-alun kota membuat Dwana tertarik mendekati arena itu. Ternyata, ada benyak pertunjukan malam ini. Hal seperti inilah yang paling disukai Dwana. Sesuai dengan adat aceh, pasti ada rapai galeng yang dimainkan sekelompok pemuda dengan gendang besar dan ada satu orang yang bermain rencong seolah beradegan dalam drama. Ada juga pertunjukan hikayat dari PM Toh yang menceritakan tentang kisah-kisah heroik dahulu kala. Ada alunan kasidah dari rebana, dan terakhir pastinya tarian yang membuat mata Dwana tak berkedip sama sekali.

Lama Dwana menyaksikan acara ditengah ramainya orang-orang. Saat pertunjukan tarian mulai beraksi, Dwana tak sanggup menahan dirinya. Suara serune kale membuatnya terbius seolah mengajaknya menari. Dan lagi, Puan itu berbicara lagi. “Ayo Dwana, tunggu apa lagi? Menarilah ..!” seolah memang ada hal supranatural.

Tapi sebenarnya hal itu tidak ada. Hanya Dwana lah yang merasa seperti itu. “menarilah,,menarilah!” Puan itu berbisik lagi. Huft! Persetan dengan semuanya. Aku sudah tidak tahan lagi, jerit batinnya. Ia lansung naik ke pentas, kebetulan sekali ia membawa puan. Tarian kreasi aceh yang dipadu antara ranup lam puan dan saman lansung dimainkannya. Gerakan serentak para penari membuat Dwana terhipnotis bagai penari ronggeng yang konon ceritanya sering tak sadar kan diri saat menari. Tanpa aba-aba posisi ratu lansung diambil alih oleh Dwana yang membuat suasana semakin heboh. Siulan para pemuda nakal terdengar keras ditengah-tengah penonton. Gerakan tari yang sangat indah membuat semua orang takjub dan bersorak sorai. Gerakan tari yang semakin lama semakin cepat membuat lekuk tubuh indah Dwana sangat jelas terlihat. Setelah itu, mereka serentak mengayun puannya ke depan dan ke samping, mengikuti suara serune kale yang dapat menghipnotis semua penonton. Gendang mulai terdengar melambat seiring dengan berakhirnya tarian yan ditandai dengan kepala menunduk. Tepukan panjang yang meriah diberikan penonton terdengar keras sampai menembus ke perumahan warga.

Setelah pertunjukan menari selesai. Dwana berniat pulang, suasana hatinya sudah sangat membaik. Hembusan angin malam yang lumayan kencang menyebabkan pentol jilbabnya terbang ke arah belakang. Akan tetapi, seorang pemuda menangkapnya. Dwana yang menyadari akan hal itu pun lansung menyilang tangannya di dada dan menunduk, dia jadi takut dan malu karena rambut indahnya nampak.

Langkah kaki pemuda itu mendekat, dan semakin mendekat. Dwana mulai mundur, mereka berdua terlihat seperti melakukan adegan maju mundur. Dwana semakin cemas, terbesit dipikirannya agar megambil ancang-ancang untuk kabur. Satu, dua, tiga, saat Dwana mulai mengayunkan kakinya, pemuda itu bersuara “ Cut Dwana..”. panggilan itu, suara itu, terdengar akrab di telinga Dwana. Lalu wajahnya yang sedari tadi ditekuk perlahan diangkat. Dan didapatinya sosok pemuda tampan dan tinggi. Pemuda itu tersenyum manis kepadanya. Sedetik mata mereka sempat beradu.

“Bang Hamzah..” seraknya, Dwana kaget luar biasa melihat pemuda di depannya itu ternyata Said Hamzah. Ia adalah pemuda keturunan ulama aceh, anak dari seorang pemimpin salah satu dayah di serambi mekkah ini, dan juga pemuda yang dikagumi banyak gadis termasuk dirinya sendiri.

Hamzah memakaikan jilbab itu ke kepala Dwana dengan hati-hati agar ia tak menyentuh gadis itu karena menyentuh perempuan yang bukan mahram adalah dosa. Dwana diam membisu bagai patung tak bernyawa karena terkesima dengan perlakuan Hamzah padanya. Lalu terdengar suara nasehat darinya.

“ Cut Dwana jadilah rambutan yang masih di pohon dan terbalut dengan ribuan daun. Jangan jadi rambutan yang dipajang seperti yang dijual di pasar, yang semua orang ingin mengupasnya. Dik!, kau terlalu berharga untuk disentuh”. Kata-kata Hamzah serasa tamparan keras bagi Dwana. Hamzah pasti melihatnya menari dipentas tadi. Dwana sekilas melirik ke arah pemuda itu, mata teduh Hamzah menatap Dwana dengan syahdu. “ A..aku, aku menyesal” ucap Dwana dalam keadaan gugup sambil mencengkeram erat puan yang di tangannya. Hamzah pun peka dengan gadis ini yang tidak bisa berpisah dengan benda yang sedang dipegangnya itu. Tapi, dia juga tidak munafik kalau selama ini, gadis inilah yang telah menarik perhatiannya. Hamzah pun kembali menyebut namanya,

“ Cut Dwana..”
“ ya”
“ Kamu cantik “
“ He-eh? “ Dwana benar-benar terkejut dan ia jadi malu karena pujian Hamzah
“ kamu manis “ Hamzah kembali memujinya
“ Hm “ Baiklah, Dwana merasa sekarang wajahnya sudah merah seperti kepiting rebus
“ Tubuhmu juga indah “
“ Hah..? “ kagetnya. Dan jangan tanya lagi bagaimana warna wajahnya sekarang, rasanya seperti ingin tenggelam ke dasar tanah saja sangking malunya. Oh Tuhan..
“ Entah mengapa aku jadi marah melihat mereka yang menatapmu seperti orang kelaparan. Apakah kamu rela mereka melihat lekuk tubuhmu ?”
“ Ti..tidak”
“ Apa kamu tidak kasihan kepada calon suamimu kelak ?”
“ Apa? Hm, aku tidak berpikir sejauh itu “
“ Kalau begitu, mulai sekarang berpikir jauhlah! Aku tahu, kamu gadis pintar”

“ Aku tahu, tapi entah mengapa, saat aku melihat Puan ini, aku tidak bisa mengontrol tubuhku. Aku merasa Puan ini mengajakku untuk menari dan terus menari. Dan aku benar-benar tidak bisa menguasai diriku lagi. Aku bingung harus apa. Sungguh ! ini hal yang sangat berat bagiku”

“ Itu karena kau sudah sangat menjiwainya. Beristigfarlah dik!, itu hanya sebuah benda. Jangan sampai terbawa arus, kau harus segera lepas dari kebiasaan tidak baik ini. Istigfarlah, sebuat nama Allah. Mohon ampun kepada Allah. Hanya kepada-Nya lah tempat kita memohon pertolongan, insyaAllah pasti ada jalan “
Sungguh, Dwana benar-benar terenyuh atas nasehat dari Hamzah. pemuda ini sungguh berjiwa khalifah.

“ Terimakasih bang Hamzah. akan ku coba”
Jiwa Hamzah berdesir saat Dwana menyebut namanya. Tapi ia lansung bisa menguasai dirinya lagi.
“ Sama-sama. Aku harus pergi, tidak enak dilihat masyarakat. Lagian diantara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram tidak boleh berdua-duaan, nanti yang ketiganya setan.

Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam”

Sebelum pergi Hamzah tersenyum kepada Dwana. Senyuman manis, penuh arti, dan tulus. Membuat hati gadis manapun bergetar. Lalu ia bergegas pergi dari hadapan Dwana. Dan Dwana masih belum beranjak, ia masih berdiri, melihat sosok Hamzah yang semakin lama semakin jauh dan tidak terlihat lagi.

***
Senyuman lebar terukir di wajah Dwana. Entah mengapa, walau tak pernah mengungkapkan ayat-ayat cinta, ia merasa ada virus cinta diantara mereka. Hamzah dan Dwana hanya beberapa kali berjumpa di majlis ta’lim karena terkadang Hamzah yang mengisi ceramah di mesjid. Tapi awalnya mereka tak pernah sedekat ini. Namun perlakuan dan perkataan Hamzah tadi menyiratkan sesuatu. Ia mengayunkan langkah kaki dengan cepat, ia berlari bersama puannya dan ingin saja berteriak pada angin malam bahwa ia sedang jatuh cinta.

Sesampai di rumah, dengan riang Dwana melangkahkan kakinya masuk. Lalu ia menutup kembali pintu dengan hati-hati. Saat ia berbalik, senyuman yang sedari tadi melekat di bibirnya pun sirna dalam sekejap mata. Ia terpaku saat melihat Teuku Jadir duduk di sofa dan menatapnya dengan intens seolah mengintimidasi. Dwana pikir, jam segini semua orang sudah pada tidur, ternyata tidak. Abah menunggunya. Oh tidak..! pikiran-pikiran aneh mulai merasuki otaknya, apakah Abah marah kepadaku? apakah Abah akan menghukumku karena pulang selarut ini? Hukuman seperti apa yang akan diberikan kepadaku?.

“Ini hampir tengah malam, dari mana saja?” suara bariton yang menghentakkan lamunannya dan memecahkan keheningan yang sedari tadi tercipta diantara mereka.
“ ehm, e.., Dwana habis cari angin bah” jawabnya bohong
“ cari angin sambil berlenggak-lenggok di atas pentas?” Damn..!

Dwana mendongak kaget, dari mana Abah tahu? Apakah Abah melihat ku?, otak dan hatinya sedang berdebat keras sehingga membuatnya bisu, diam dan menunduk.
Sedangkan Teuku Jadir melihat putrinya dengan tatapan marah. Betapa jelas ingatannya saat Ia melihat putrinya dengan lancang menari di atas pentas dan menghebohkan alun-alun dengan aksinya itu.

Flashback on:

Setelah kejadian di meja makan, Teuku Jadir keluar rumah dan menuju warung kopi untuk meredam amarah yang bisa meledak kapan saja jika di pancing.

“ Dek Gam ! kupi phet saboh!(Dek Gam ! kopi pahit satu!)”
“ Jeut Teuku ( Baik Teuku)”

Tak lama kemudian, secangkir kopi pahit telah dihidangkan di depannya dengan asap yang mengepul di udara. Ia mengambil kopi itu dengan hati-hati karena masih panas. Aroma lezat dan menggiurkan di hirup perlahan, lalu ia mencicipinya sedikit demi sedikit, rasa kopi yang nikmat dan dapat memberi ketenangan bagi si peminumnya. Di zaman sekarang, bagi orang tua maupun anak muda, kopi adalah jalan keluar dari setiap masalah. Aceh juga terkenal dengan rasa kopinya yang mendunia, salah satunya kopi gayo dan kopi uleekareng.
Dengan santai orang tua itu sedang duduk mencicipi secangkir kopi ditemani alunan kasidah rebana yang terdengar dari alun-alun kota. Tiba-tiba, seorang laki-laki seusianya memakai sarung, baju koko, dan sorban putih yang melilit di kepalanya, datang dengan mengumbar senyum dan mengangkat sebelah tangan kanannya seraya mengucapkan salam “ Assalamualaikum”

“ Waalaikumsalam” jawaban serentak seluruh pelanggan di warkop termasuk Teuku Jadir sendiri. Kedatangan laki-laki tua itu menyedot antusias orang-orang yang nongkrong disitu. Ternyata dia adalah Teungku H. Said Hamid. Seorang tokoh masyarakat dan juga seorang waled(pemimpin) di Dayah SIRATUL HUDA yang sangat disegani di Aceh. Tapi beliau tak pernah menyombongkan diri, orangnya berwibawa, bijak, penuh kelembutan dan sangat berbaur dengan rakyat jelata. Memang seorang alim yang patut di teladani.

Seorang pelayan yang dipanggil Dek Gam disitu lansung menghampiri beliau dengan tergesa-gesa. “kiban Waled?(bagaimana Waled?)”
“Kupi Uleekareng mantong(kupi Uleekareng saja)” jawabnya dengan senyuman, orang ini memang murah senyum. Lalu, beliau melangkah mendekati meja Teuku Jadir. Merasa kalau beliau ingin duduk di mejanya, Teuku Jadir dengan sigap lansung menawarinya duduk.

“silahkan waled”
“omman teuh, pah that, na yang perle nak peugah bak dro neuh(oo.. pas sekali, ada yang perlu saya bicarakan dengan anda)”
“Peu na yang perle that nak peugah waled?(Apa hal penting yang sangat perlu dibicarakan itu Waled?)” tanya Teuku Jadir dengan ramah. Ternyata pengaruh kopi bisa menghilangkan rasa amarah pada diri manusia. Terjadilah perbincangan serius mengenai perjodohan antara Cut Dwana dan putra ketiga dari Teungku H. Said Hamid. Secara terang-terangan Teungku H. Said Hamid meminta Dwana sebagai menantunya, beliau menyukai kecerdasan yang dimiliki Dwana. Dan beliau juga mengatakan bahwa putranya juga memang memiliki ketertarikan kepada Dwana sehingga menyetujui perjodohan ini. Dan dengan semangat Teuku Jadir menerima lamaran keluarga terhormat itu. Ia rasa, sangat baik pengaruhnya jika keluarga bangsawan bersatu dengan keluarga ureung malem( orang alim/ ulama), sama seperti saat ia menikahi Syarifah Nur yang berasal dari keluarga Ureung malem juga.

Setelah lama berbincang-bincang, Teuku Jadir Habsyi dan Teungku H. Said Hamid sama-sama berniat kembali ke kediaman masing-masing. Pada saat perjalanan pulang, Teuku Jadir melewati alun-alun kota yang diramaikan oleh orang-orang yang menonton pertunjukan malam. Tanpa sengaja, sekilas matanya melihat seorang anak Gadis yang sedang menari bersama penari-penari yang lain. Tapi, anak gadis itu tidak memakai pakaian adat seperti penari yang lain. Kemudian Teuku Jadir meneliti lagi, dan matanya lansung melotot saat anak gadis yang dilihatnya itu ternyata adalah putrinya sendiri, Cut Dwana. Tensi darahnya lansung naik, sangking marahnya, ia menggertak giginya. Syukur sekali Waled tidak melihat kejadian ini, kalau beliau sempat melihatnya pasti lamaran ini dibatalkan. Dasar anak keras kepala, batinnya. Kemudian Teuku Jadir lansung pulang dalam keadaan marah.

Flashback Off:

“ Masuk ke kamarmu, dan renungkan apa yang telah kau perbuat!” perintah Teuku Jadir kepada Dwana.
“ Baik Abah” jawabnya lesu.
Dengan wajah yang ditekuk Dwana melangkah menaiki anak tangga menuju kamarnya. Sesampai di dalam kamar, Ia menaruh kembali puannya di atas meja jepara kecil di samping lemari. Lalu ia masuk ke kamar mandi. Guyuran air menyentuh kulit kuning langsatnya.

Air mengajarkan banyak hal kepada manusia. Tentang ketenangan jiwa dan kedamaian hati, serta meluruskan urat-urat sarafnya sambil berendam dalam air. Pikirannya melayang ke semua kejadian yang terjadi malam ini, mulai dari keinginannya menari di acara pesta pernikahan kakaknya besok tapi tidak disetujui semua ahli keluarga, nasehat Ummi, lepas kontrol saat di alun-alun hingga membuatnya menari di atas panggung, berjumpa dengan Said Hamzah dan terjerat dalam pesonanya sehingga ia jatuh cinta untuk yang pertama kali, dan yang terakhir, ketahuan menari oleh Abah sehingga ia dimarahi. Dwana menekan-nekan pelipisnya berkali-kali. Kepalanya jadi sakit memikirkan semuanya. Banyak hal yang terjadi malam ini. Entah apa yang akan terjadi besok?, wallahu’alam.
***
Percikan air menghantam lembut wajah seorang gadis yanga terbaring pulas di ranjang. Raut wajahnya menggeliat gelisah karena merasa ada benda basah yang mengenai wajahnya. Gadis itu membuka matanya, didapatinya seorang gadis cantik yang lebih tua darinya tersenyum kecut kearahnya.

“ Iish.. adik yang tidak baik. Hari ini kakakmu ini akan naik ke pelaminan, dan jam segini kamu masih tidur. Bangun Dwana! Atau, kamu mau kakak siram pakai air kulkas satu ember ya..?” gerutu Cut Phonna

“oh iya, aku lupa” ucap Dwana sambil nyengir tanpa rasa meneyesal sama sekali, bahkan Ia tidak mempermasalahkan kakaknya yang membangunkannya dengan memercikkan air ke wajahnya, baginya itu hal yang biasa. Memang sih, kalau sudah tidur, dirinya seperti orang mati, jadi susah jika dibangunkan pagi.

Cut Phonna yang sudah sangat geram dengan adiknya itu lansung menggeliti pinggang Dwana tanpa ampun.
“ Ampun kak, haha.. jangan! Hihihi.. geli…” teriak Dwana karena tidak tahan geli
“ Rasain kamu, bukannya minta maaf malah dengan entengnya cengar cengir begitu” ucap Phonna dengan tangan yang terus menggeliti Dwana. Karena tidak tahan dengan perlakuan kakaknya, Dwana pun akhirnya balas menggelintik pinggang kakaknya.
“Ah geli.. hihihi..hahaha… aku tidak tahan, hahaha…. berani kamu yaa, uhhh. Hehe.. hahaha” Phonna yang merasa sangat kegelian pun mengoceh tidak jelas
“rasakan pembalasanku” Seringai usil Dwana menghiasi wajahnya pada pagi yang cerah, secerah tawanya. Kedua kakak beradik itu asyik menggeliti satu sama lain. Tawa kebahagiaan terdengar nyaring ke penjuru kamar Dwana. Tanpa sadar, Syarifah Nur melihat aksi putri-putrinya di depan pintu sambil tersenyum. Batinnya bersyukur atas kehadiran dua orang putri yang diamanahkan Al Khaliq padanya. Mereka telah membawa tawa kebahagiaan yang menghiasi rumahnya. Walaupun di satu sisi Ia merasa sedih karena sebentar lagi, satu putrinya akan pergi dari rumah dan satunya lagi akan menyusul juga pastinya. Tak mau berlarut-larut dalam kesedihan dan takutnya juga kedua putrinya melihat dirinya seperti ini, Syarifah Nur bergegas turun ke bawah untuk melihat persiapan yang telah di kerjakan oleh khadimah-khadimah(Asisten Rumah Tangga) yang bekerja di rumahnya.

***
Seminggu yang lalu, undangan telah di sebar ke seluruh pelosok kota. Mulai Tetangga, teman, rekan kerja, kerabat jauh maupun dekat hadir pada acara sakral ini. Cut Phonna telah dirias laksana bidadari dari khayangan. Polesan lipstik dibibir merekahnya, bulu mata anti badai dipasang diatas bulu mata aslinya, wajah kuning langsat disulap menjadi warna putih, seputih hamparan salju di kutub utara, riasan kelopak mata yang bervariasi, ditambah mahkota yang tersemat diatas kepalanya yang terbalut hijab putih yang senada dengan gaun putih yang di kenakannya tampak indah terjuntai ke bawah. Dan tangan yang sudah dihiasi inai merah menghiasi kedua telapak tangan dan kakinya. Tidak boleh ada kesalahan dalam acara pernikahannya, terutama keluarganya sendiri yang menginginkan acara sakral ini dilansungkan semeriah mengkin karena ia adalah putri sulung dalam keluarganya. Hari ini Ia akan menikah dan menjadi makmum bagi imammya. Banyak hal yang berkecamuk di dadanya akan status yang akan berubah dan tanggung jawab yang akan diembannya kelak.

Akad nikah akan diadakan di mesjid raya Al Kautsar. Mesjid mulai di penuhi oleh tamu-tamu undangan dari lantai satu hingga lantai dua. Rombongan kedua mempelai telah sampai dan duduk manis di shaf mesjid. Mempelai Pria berada di Shaf paling depan, dan mempelai Wanita di shaf ke empat. Teuku Jadir sendiri yang bertindak sebagai penghulu karena selama Ia masih hidup, dialah yang akan menjadi wali untuk putri-putrinya ketika mereka menikah. Seorang wanita yang bertindak sebagai protokol menyambut nama Hamzah dan mempersilahkannya untuk maju ke depan. Semua orang melihat ke arah Hamzah yang berjalan ke arah depan dengan seribu tanda tanya termasuk Dwana yang merasa jantungnya berdegup sangat kencang bagai orang yang habis lari maraton. Hamzah duduk bersila di depan mushaf Al-Qur’an. Kemudian, lembar demi lembar dibukanya kitab suci. Setelah jatuh pada surat yang di tuju. Ia pun mulai mengucapkan ta’auzd dan basmallah. Lalu, terdengarlah suara merdu yang menggema ke seluruh pilar-pilar mesjid Agung Al- Kautsar.
Ar Rahmaann…
‘Allamal Qur’aann..
Khalaqal insaann..
‘Allamahul bayaann..
Assyamsu walqamaru bihusbaann..

Baris perbaris kalam Tuhan dibacanya dengan tartil yang indah. Surah Ar-rahman yang dibacakannya mengingatkan semua orang akan hari akhir. Akan azab yang perih dan nikmatnya syurga yang akan Allah limpahkan kepada mereka orang-orang yang beriman kepada-Nya dan Rasul-Nya. Sungguh tiada ilah yang patut kita sembah melainkan-Nya sang penguasa alam semesta beserta isinya. Surat ini juga memberitahukan kepada ummat Muhammad bahwa bersyukurlah atas nikmat Tuhan. Atas apa yang diberikan-Nya, atas kehendak-Nya yang pasti terlaksana pada makhluk-Nya, atas Azab dan kenikmatan yang di janjikan-Nya. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah engkau dustakan ? pertanyaan itu diulang beberapa kali dalam surat itu untuk menegaskan apa yang di firmankan-Nya. Semua yang hadir mendengarkan lantunan ayat suci dengan sangat khusyuk. Tanpa sadar diantara mereka, buliran air mata pun mengalir dari sudut matanya. Semua larut dalam firman-Nya. Subhaanallah..
Shadaqallaahul’adhiimm
(Maha benar Allah atas segala firman-Nya)
“Allaahuakbar.. Allaahuakbar”. Semua yang hadir berseru memuji Tuhan setelah Hamzah selesai melantunkannya.
Selanjutnya protokol mengambil alih acara dan mempersilahkan Teuku Jadir untuk maju ke depan. Dengan gagah dan berwibawa Teuku Jadir mengambil Microfon dan memberikan renungan pernikahan kepada kedua mempelai
“Wahai anakku
Istri yang kamu nikahi, tidaklah semulia khadijah
Tidaklah setaqwa Aisyah
Dan juga tak setabah Fatimah
Justru Ia adalah wanita akhir zaman yang punya cita-cita menjadi sholehah

Wahai putriku
Suami yang menikahimu, tidaklah semulia Rasulullah Saw
Tidaklah setaqwa ibrahim
Tidak setabah Ayyub
Tidak segagah Ali dan Musa
Apalagi setampan Yusuf a.s
Justru Ia hanyalah laki-laki akhir zaman yang punya cita-cita,
membangun keturunan yang sholeh-sholehah

Wahai putra-putriku
Pernikahan mengajarkan kewajiban bersama
Suami menjadi pelindung, dan kamu penghuninya
Suami adalah nahkhoda kapal, kamu navigatornya
Suami bagaikan balita yang nakal, kamu adalah penuntun kenakalannya
Istri ladang tanaman, kamu pemagarnya
Istri adalah murid, kamu gurunya
Istri bagaikan anak kecil, kamu tempat bermanjanya

Saat suami menjadi raja, kamu nikmati madu singgahsananya
Saat suami menjadi racun, kamulah penawar obatnya
Dan..
Seandainya suami menjadi pilot yang lancang, sabarlah memperingatkannya”
Semua orang di mesjid mendengar isi renungan pernikahan dengan khidmat. Selanjutnya adalah acara yang paling ditunggu-tunggu oleh semua orang. Akad nikah.
Sang mempelai pria menjabat tangan Teuku Jadir dengan sigap. Lalu Teuku Jadir lansung mengucapkan bait-bait sakral dalam bahasa arab
“ ya Teuku Faisal bin Teuku Hasballah uzawwijuka ‘alaa ma amarallaahubihi min ismaakin bima’ruwfin aw tasriyhin bi ihsaanin ya Teuku Faisal bin Teuku Hasballah”
“ Labbayka” jawab mempelai pria dengan gagah. Kemudian Teuku Jadir melanjutkan lagi
“ Annkahtuka wazawwajtuka makhtuwbataka Cut Phonna binta Teuku Jadir Habsyi bimahrinn tsalatsina dzahaban wa ‘alatil ‘ibadah haalan”
“ Qabiltu nikaahaa wa tazwizjahaa bimahrin madzkur haalan”. Suara lantang pengantin pria menggema ke penjuru mesjid. Seruan “SAHH!!!” terdengar dari para saksi. Semua mengucapkan Aminnn dengan semangatnya. Selanjutnya Teuku Jadir memimpin doa dengan khidmat. Cut Phonna dituntun oleh Syarifah Nur dan Cut Dwana untuk berjalan mendekati pengantin pria. Senyuman merekah di bibir keduanya. Cut Phonna mencium tangan laki-laki yang telah menjadi suaminya itu dengan perasaan bahagia yang tiada tara. Sang suami pun mengecup kening gadis yang telah menjadi istrinya. Lalu, pengantin pria menyentuh ubun-ubun iatrinya dan melafazdkan do’a. Kemudian Ia melingkarkan cincin di jemari istrinya. Tepukan yang sangat meriah diberikan tamu undangan dari lantai 1 hingga lantai 2 mesjid. Pancaran kebahagiaan terlihat dari semua yang hadir ditempat itu.
***
Setelah acara akad nikah selesai, mereka semua menuju ke rumah Teuku Jadir karena pestanya akan di adakan di halaman rumah Teuku Jadir yang lumayan luas. Kedua pengantin telah berganti pakaian adat aceh di hotel lalu mereka kembali bersama rombongan kecuali Cut Dwana yang harus pulang duluan ke rumah karena Syarifah Nur memberinya tugas untuk mengatur dan mempersiapkan penyambutan kedua mempelai bersama rombongan.
Dwana yang sedang sibuk dengan mempersiapkan ini itu. Tiba-tiba datang serombongan anak kecil yang berjumlah 6 orang yang telah siap dengan perlengkapan tarian. Dwana pun kaget dengan kedatangan mereka.

“kak Dwana.. kita hari ini akan menari menyambut kedatangan linto baro(pengatin laki-laki) dan dara baro(pengantin perempuan)kan?” ujar salah seorang dari mereka
“iya kak, sesuai yang kita rencanakan kemarin itu. Loh, kakak kenapa masih memakai gaun itu. Seharusnya kakak memakai baju tarian seperti kita. Bukannya kakak akan mempersembahkan ranup ke linto kak Phonna?” ujar yang lain
Dwana diam membisu, dia tak tau harus berkata apa. Dia sendiri lupa dengan apa yang direncanakannya sendiri. Dia pun bingung. Karena, jujur Ia belum tahu harus mengambil keputusan apa. Di satu sisi Ia ingin sekali. Tapi, disisi lain kejadian semalam sangat menghantui dirinya.
“kak? Kenapa melamun? Kakak tidak akan ingkar janjikan? Kita sudah berlatih keras berhari-hari.” Ujar salah satu diantara mereka lagi. Dwana jadi tak tega.
“ Baiklah. Kalian masuk ke dalam dan duduk di ruang tengah dulu ya!” serunya
“siap bos” ucap mereka serentak dengan tangan hormat. Mereka terlihat sangat menggemaskan dan bersemangat. Dwana tersenyum lalu menaiki tangga dan masuk ke kamarnya.

Di dalam kamar, Dwana berdiri sambil memandang Puan. Pikirannya jadi kacau lagi. Rasa dilema lagi-lagi menyerangnya. Dan Puan itu pun kembali menjadi misterius, puan itu mulai berbicaranya dengan lagi
“Cut Dwana. Apa yang kau tunggu lagi? Ayo cepat berbenahlah, kita akan menari. Kau tidak kasihan kepada jerih payah anak-anak itu? Ayolah Dwana! Menarilah! Menarilah! “ Dwana masih mematung, berusaha mengenyahkan imajinasinya tentang puannya yang bisa bicara. Dalam hati, Ia berusaha beristigfar, terus beristigfar. Melawan candunya. Bruukkk!!.
Dwana terjatuh, tersimpuh dan menangis.
“aaaaarggghhh! Hiks..hikss.. ya Allah…! kenapa sangat sulit menggapai hidayahmu? Kenapa sangat sulit mendaki jurang dosa ini? Ulurkan tanganmu ya Allah..! sekarang aku datang memohon kepadamu. Bantu aku bangkit ya Allah. Enyahkan semua kerikil yang ada di sepanjang jalanku menuju Syurga-Mu. Selamatkanlah aku ya Allah. Selamatkan hamba yang berlumur dosa ini ya Allah.. Astagfirullah. Astagfirullah. Astagfirullahal’adhiimm.”
Jeritan Dwana terdengar sangat pilu. Siapapun yang mendengarnya pasti akan merasa tersayat. Perlahan Dwana bangkit dan menghapus air matanya. lalu merapikan dirinya. Ia sudah membuat keputusan. Lalu ia keluar dan menemui anak-anak tari.
***
Rombongan kedua pengantin telah tiba di rumah Teuku Jadir Habsyi. Desain acara pesta yang berkesan mewah itu tertata sangat indah. Gema shalawat badar dilantunkan oleh grup nasyid AKAPELA dari sekolah Dwana sendiri terdengar sangat merdu. Rombongan yang datang bersama tamu-tamu undangan yang sangat banyak terlihat berseri-seri. Lalu rombongan bersama pengantin masuk ke dalam rumah. Di pintu, mereka lansung mendapat sambutan yang tak di duga-duga. Anak-anak tarian lansung membentuk barisan. Tangan, kaki, dan pinggul mereka mulai berlenggak lenggok sesuai irama serune kale dan gendang yang terdengar heboh ke seluruh ruangan. Teuku Jadir, Syarifah Nur, dan Cut Phonna, lansung merasa cemas. Apa yang dilakukan Dwana?apa di benar-benar nekat akan menari hari ini?. Teuku Jadir sudah merasa waswas dan mulai diselimuti amarah.

Tarian Ranup Lam Puan dimainkan dengan sangat indah. Tapi, Dwana belum nampak batang hidungnya. Lalu terdengarlah suara gelang kaki dari arah belakang anak-anak. Dwana tampil dengan baju khas tarian tapi sedikit Syar’i karena jilbabnya dijulurkan menutupi dada. Tapi tetap cantik dengan tiara kecil yang tersemat di atas kepalanya. Dia berjalan berlaha-lahan dengan anggun dan memegang puan yang sudah berisi ranup(sirih). Tapi, tunggu! Ada yang aneh! Dwana tidak menari. Dia hanya berjalan mendekati pengantin. Penari-penari cilik itu membuka barisan seperti menyambut sang ratu yang baru turun dari singgahsananya. Setelah sampai di depan kedua pengantin, Ia mangayunkan puannya ke depan lalu sedikit membungkut seolah mempersembahkan. Teuku Jadir, Syarifah Nur, dan Cut Phonna yang tadi sempat cemas berganti dengan wajah keheranan. Lalu linto baro mengambil satu ranup. Kemudian Dwana berdiri seperti semula dan tersenyum.
“Selamat datang penganting baru. Selamat mengarungi mahligai rumah tangga. Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warrahwah. Aminn… dan cepat-cepat beri Dwana keponakan ya..” celutuk Dwana yang sontak membuat semua orang yang hadir tertawa. Teuku Jadir, Syarifah Nur, dan Cut Phonna pun ikut tertawa dan tersenyum penuh arti. Mereka yakin, Dwana sudah dewasa. Dari jauh, Hamzah tersenyum dan membatin kamu berhasil melawannya Cut Dwana.
Acara pesta pun berlansung dengan semestinya. Tidak ada yang kurang. Tidak ada rusak. Momen bahagia seperti ini sedang di pandangi oleh Dwana dari balkon atas dengan puan masih di tangannya. Lalu terdengar suara langkah kaki seseorang yang mendekat ke arahnya. Dwana menoleh ke belakangnya.
“Abah..” ucap Dwana
“ Peluk Abah nak” ucap Teuku Jadir
Dwana pun memeluk erat Abahnya. Kehangatan menjalar ke seluruh tubuhnya.
“ Abah telah memilih jodoh untukmu. Abah yakin dia bisa menjadi imam yang baik untukmu kelak”
“Abah? Siapa dia? Ini terlalu cepat.” Kagetnya
“ tenanglah. Abah sudah mengatur semuanya. Dia berasal dari keluarga baik-baik dan paham agama. Tapi, tidak apa-apa jika kamu tidak menyutujuinya nanti. Tapi setidaknya turunlah! Dan lihatlah siapa dia, baru kamu putuskan!.” Ujarnya menjelaskan
“Baik Abah”
“ kalau begitu, ayo turunlah”. Teuku Jadir menuntun Dwana menuruni tangga. Di bawah, keluarga dan tamu undangan memandanginya dengan wajah ceria. Dwana jadi bingung. Loh, kenapa semua menatapku begini? Aku seperti tuan putri hari ini. Lalu terlihat seorang laki-laki tua seumuran abahnya menghampiri mereka. Dwana merasa seperti mengenal laki-laki tua itu. Setelah diteliti dengan baik ternyata benar, dia memang mengenalnya. Teungku H. Said Hamid. Seorang tokoh masyarakat yang sangat di segani. Beliau menyapa dengan ramah.

“ Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh”
“ Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh” ucap Teuku Jadir dan Dwana serentak
“ Nak Dwana. Anak saya ingin mengatakan sesuatu kepada kamu. Saya harap nak Dwana berkenan “
“ iya Waled. Saya berkenan”
Lalu seseorang keluar dari kerumunan para tamu dan mendekat ke arah mereka. Dwana kaget. Karena orang itu adalah Hamzah. apakah Hamzah orangnya? Bisiknya dalam hati.

“ Assalamualaikum”
“Waalaikum salam”
Lalu Hamzah berlutut dan mempersembahkan cincin dengan ukiran indah di depan Dwana dan semua orang disana. Mereka sudah mulai terlihat heboh dan berbisik-bisik. Dwana melotot, melongo atas apa yang dilakukan Hamzah itu diluar perkiraannya.
“ Bismillah, atas nama Allah aku berniat meminangmu. Izinkan aku untuk membimbingmu Cut Dwana. Izinkan aku untuk bersama denganmu hingga menuju jannah-Nya. Aku ingin menghiasi hidupmu dengan tawa. Izinkan aku menjadikan nestapamu sebagai lukaku. Maukah kau menjadi istriku wahai kekasih hatiku?”

Dwana tak sanggup berkata-kata lagi. Jantungnya lansung berdegup sangat kencang. Dia jadi bisu dan beku bagai patung. Aish! Dia sangat membenci keadaan seperti ini. Sedangkan semua orang melihat ke arahnya, menunggu jawaban yang keluar dari bibir Dwana. Hamzah pun mulai di selimuti rasa gugup yang luar biasa. Kecantikan, kepintaran, dan perjuangan hijrah Dwana menjemput hidayah telah membuka daun pintu hatinya yang dijaga selama ini. Pertahanannya memang sudah luntur jauh-jauh hari saat berjumpa Dwana. Tapi, dia terus mengelaknya. Dan hari ini ia ingin berterus terang. Menunggu apa jawaban Dwana sekarang bagai telur di ujung tanduk. Ia jadi panas dingin.
Dwana memandang Hamzah dengan tatapan lembut. Lalu Ia melihat ke arah sekelilingnya. Ia mengambil nafas dalam-dalam lau mengembuskannya.
“Tak sadar ku pun terpesona
Dengan indahnya lantunan ayat-Mu
Yang berkumandang dari lisanmu
Hatiku pun luluh merindu
Tersadarku kala kau perlihatkan
Pancaran semangat dan ketulusan jiwa
Hati mana yang tak bergetar
Aku sudah terbuai
Jujur ku tlah jatuh
Ke dalam pesona jiwa dan ragamu
Tanpa sadar kau buka daun pintu
Yang berkatup jeruji besi dan peluru
Disini ku tlah bersedia
Bila engkau datang dengan bait”Qabiltu”
Kan ku sambut dirimu
Assalamu’alaikum wahai calon imanku”

Jawaban Dwana yang berbentuk kata-kata puitis terdengar mengalun di telinga Hamzah. lalu diresapi dengan baik-baik. Kemudian senyum pun mengembang di wajahnya. “Diterima? Alhamdulillah.” Teriak Hamzah tanpa sadar. Gemuruh tepukan tangan yang sangat meriah diberikan tamu undangan. Banyak yang berbisi-bisik iri kepada mereka karena serasi katanya. Dwana melirik puan yang masih dipegangnya. Karena puan ini aku jauh dari tuhanku. Tapi, karena puan ini juga akhirnya aku tahu arah kembali ke jalan-Mu. Dan cinta datang juga karena puan ini. Cinta ke pada-Mu dan kepada hamba-Mu. Puan pulam jiwaku

. Terima kasih telah bersamaku hingga saat ini. Dan, ya Allah! Tetap bimbing aku agar tetap menjadi hamba yang taat kepada-Mu. Batin Dwana
***

-END-

About Iklima Naya

Akrab disapa Ima. Kelahiran Aceh Utara, 29 Maret 2001. Hobi baca novel, khususnya yang bikin baper. Haha. Impian, pengen jadi sastrawan. Mohon doa 🙏 aaminn..

Check Also

BERKUNJUNG KE RUMAH CUT NYAK MEUTIA SRIKANDI DARI ACEH

Karya Keisha Elsria Mulya Teman-teman, kamu pernah berkunjung ke Aceh enggak sih? Soalnya, di Aceh …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *