
(Peran Orang Tua Tunggal Dalam Tumbuh Kembang Pendidikan Keluarga)
Oleh: Qusthalani*
Lingkungan keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama, karena dalam keluarga inilah anak pertama-tama mendapatkan didikan dan bimbingan. Juga dikatakan lingkungan yang utama, karena sebagian besar dari kehidupan anak adalah di dalam keluarga, sehingga pendidikan yang paling banyak diterima oleh anak adalah dalam keluaga.
Tugas utama dari keluarga bagi pendidikan anak adalah sebagai peletak dasar bagi pendidikan akhlak dan pandangan hidup keagamaan. Sifat dan tabiat anak sebagian besar diambil dari kedua orang tuanya dan dari anggota kelurga yang lain. Bagi seorang anak keluarga merupakan persekutuan hidup pada lingkungan keluarga tempat di mana dia menjadi diri pribadi atau diri sendiri. Keluaga juga merupakan wadah bagi anak dalam konteks proses belajarnya untuk mengembangkan dan membentuk diri dalam fungsi sosialnya. Disamping itu keluarga merupakan tempat belajar bagi anak dalam segala sikap untuk berbakti kepada Tuhan sebagai perwujudan nilai hidup yang tertinggi. Dengan demikian jelaslah bahwa orang yang pertama dan utama bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup dan pendidikan anak adalah orang tua.
Keluarga seyogyanya terdiri dari Ayah, Ibu dan Anak, mereka memiliki peranan masing-masing dalam memberikan pendidikan bagi anak-anaknya. Nah, bagaimana dalam keluarga sudah terjadi cacat tubuh yaitu kehilangan salah satu orang tua sebagai pendidik dalam keluarga. Anak-anak bisa saja tinggal bersama Ayahnya ataupun Ibunda tercinta, kedua-keduanya memilki kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Kita tahu bersama bahwa tingkat perceraian dalam beberapa dekade ini selalu terjadi peningkatan. Perceraian bisa saja disebabkan oleh beberapa hal seperti yang diungkapkan oleh Holbert (2014), antara lain (1) Minimnya ekonomi, (2) Komunikasi yang terbatas antara suami istri, (3) Perselingkuhan, (4) Sering terjadi perbedaan pendapat, (5) Kesibukan pekerjaan masing-masing, (6) Saling curiga, (7) Saling bertengkar, (8) dan Kekerasan dalam rumah tangga. Penyebab-penyabab itulah yang akhirnya sang suami menceraikan istrinya, atau juga sebaliknya Sang Istri menggugat suaminya.
Berdasarkan data Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Aceh Tahun 2016, ANGKA perceraian di Aceh terus meningkat pascatsunami. Ironisnya lagi, keinginan bercerai itu berasal dari kaum perempuan. Pada tahun 2015 misalnya, dari 5.300 permohonan minta cerai, 3.850 permohonan diajukan oleh si perempuan. Untuk tahun 2016 malah lebih tinggi lagi, dari 6.800 permohonan cerai, 3.020 di antaranya diajukan oleh istri. Ini pun baru data resmi untuk kasus-kasus yang masuk ke Mahkamah Syari’iyah, yang diperkirakan hanya sekira 20 persen dari data yang sebenarnya. Mengapa ada kecenderungan kasus-kasus perceraian meningkat di seluruh Aceh? Mengapa pula sang istri yang berinisiatif mengajukan perceraian?. Penulis tidak akan membahasa jumlah perceraian yang saban tahun selalu meningkat, namun kita bisa melihat dari sisi pendidikan anak ke depan tanpa orang tua lengkap. Pendidikan sudah pincang, dan malahan ada yang mengarah ke limbah hitam.
Lalu bagaimana jika orang tua yang ada itu adalah seorang perempuan atau biasa disebut dengan janda. Ibu-ibu harus mendidik, mencari uang, juga bekerja dirumah seorang diri. Wanita itu sudah seperti wonder women, dipaksakan oleh keadaan harus semua bisa. Mereka harus bekerja siang malam untuk membiaya kehidupan keluarganya dan juga harus mendidik anaknya menjadi lebih berguna. Kemungkinan saja pendidikan orang tua tunggal berbeda jauh dengan pendidikan jika keluarganya sempurna.
Tentu saja tidak mudah menjadi orang tua tunggal wanita. Kimmel (1980) menyebutkan bahwa orang tua tunggal wanita menghadapi kesulitan mendapatkan pendapatan yang cukup, mendapatkan pekerjaan yang layak, pembayaran biaya untuk anak, dan kebutuhan lainnya. Data Pekka (2004) juga menyebutkan bahwa lebih dari separuh janda yang menjadi kepala keluarga di Indonesia hidup dalam kemiskinan. Hal ini sejalan dengan yang diungkapkan oleh DeGenova (2008) yakni bahwa tekanan finansial adalah masalah umum yang dihadapi orang tua tunggal, dan keluarga dengan orang tua tunggal lebih cenderung hidup dalam kemiskinan dibandingkan dengan orang tua lengkap (ganda). Penelitian menunjukan bahwa walaupun dampak memiliki pendidikan yang cukup baik sudah dikontrol, ayah tunggal tetap lebih baik secara ekonomis dalam menopang kehidupan keluarganya daripada ibu tunggal (Zhan dan Pandey dalam DeGenova 2008).
Untuk itu, melalui metode wawancara terhadap subjek, saya ingin mengetahui gambaran kehidupan keluarga dengan orang tua tunggal wanita secara menyeluruh. Terutama mengenai masalah-masalah yang dihadapi dan cara mereka menyelesaikan masalah tersebut.
Kimmel (1980) dan Walsh (2003) menyatakan beberapa permasalahan yang sering timbul di dalam keluarga dengan orang tunggal baik wanita maupun pria yakni merasa kesepian, perasaan terjebak dengan tanggung jawab mengasuh anak dan mencari sumber pendapatan, kekurangan waktu untuk mengurus diri dan kehidupan seksualnya, kelelahan menanggung tanggung jawab untuk mendukung dan membesarkan anak sendirian, mengatasi hilangnya hubungan dengan partner special, memiliki jam kerja yang lebih panjang, lebih banyak masalah ekonomi yang muncul, menghadapi perubahan hidup yang lebih menekan, lebih rentan terkena depresi, kurangnya dukungan sosial dalam melakukan perannya sebagai orang tua, dan memiliki fisik yang rentan terhadap penyakit.
Sedangkan masalah khusus yang timbul pada keluarga dengan orang tua tunggal wanita adalah kesulitan mendapatkan pendapatan yang cukup, kesulitan mendapat pekerjaan yang layak, kesulitan membayar biaya untuk anak, kesulitan menutupi kebutuhan lainnya. Sementara pada keluarga dengan orang tua tunggal pria masalah khusus yang timbul hanya dalam hal memberikan perlindungan dan perhatian pada anak (Kimmel 1980).
Pada kasus keluarga dengan orang tua tunggal yang terjadi karena perceraian, Duvall&Miller (1985) menyatakan bahwa baik bagi wanita maupun pria proses setelah terjadinya perceraian seperti orang yang baru mulai belajar berjalan dengan satu kaki, setelah kaki yang lainnya dipotong. Perceraian adalah proses amputasi pernikahan. Tidak peduli seberapa pentingnya perceraian tersebut, perceraian tetap saja menyakitkan.
Masa depan pendidikan anak yang direncanakan oleh kepala keluarga pada keluarga tunggal bergantung pada tingkat ekonomi mereka. Perceraian membuat seluruh kepala keluarga pada keluarga tunggal memiliki tugas ganda pada keluarga yaitu pencari nafkah dan pemelihara keluarga sehingga mereka dapat menilai dan mengukur kemampuan mereka dalam membiayai pendidikan anak. Pada kenyataannya, kendala pada tingkat ekonomi yang rendah membuat mereka memikirkan bahwa jika anak mereka ikut mencari nafkah maka akan meringankan beban keluarga. Tingkat ekonomi yang rendah juga mengharuskan mereka memberitahukan kepada anak mereka sedari awal bahwa mereka tidak dapat memberikan pendidikan lebih dari jenjang SMA. Meskipun begitu, seluruh responden tetap berharap dapat memberikan pendidikan untuk anak mereka hingga dapat mengubah nasib mereka dan juga agar anak mereka memiliki kehidupan yang lebih baik dari mereka.
Pola asuh menjadi dukungan yang paling kuat pada anak dalam menjalani pendidikan. Anak membutuhkan perhatian dan motivasi agar dapat meraih prestasi yang tinggi dalam pendidikan. Pada keluarga yang kehilangan figur salah satu orang tua akan menyebabkan berkurangnya perhatian dan juga motivasi bagi anak dalam menjalani pendidikan. Hal ini sejalan dengan penelitian Lange et al. (2013) yang juga memaparkan bahwa anak dengan single parent memiliki banyak kekurangan dalam mendapatkan perhatian pendidikan baik dirumah maupun di sekolah dibandingkan anak dengan orang tua yang lengkap disebabkan oleh hilangnya pengasuhan dari salah satu sosok orang tua dalam keluarga. Pola asuh diketahui dari pertanyaan mengenai frekuensi interaksi antara responden dan anak.
Qusthalani, S.Pd, M.Pd, Ketua IGI Aceh Utara, Inisiator Forum Guru Menulis Aceh Utara, Guru SMAN 1 Matangkuli Aceh Utara
Jurnal Pase Media Online Pase