Home / Cerpen / Murid ku Terkena Narkoba

Murid ku Terkena Narkoba

Murid ku Terkena Narkoba

oleh,

Sumarni Wati

            Saat ini adalah tahun ke empat saya bertugas di salah satu sekolah dasar yang ada di wilayah kecamatan Dewantara Kabupaten Aceh Utara. Awal tahun pertama keberadaan saya di sekolah dasar itu menjadi sejarah yang tidak terlupakan. Banyak hal yang saya temukan, sehingga membuat saya harus lebih meningkatkan perhatian dan kesabaran dalam menghadapi cobaan serta tantangan yang ada di sekolah ini.

Tahun pertama bulan kedua, saya kaget dan sedih mendengar berita bahwa salah satu murid kelas empat Tomi (bukan nama sebenarnya), menjadi perhatian saya begitu juga dengan guru-guru yang lain. Tomi menjadi anak yang terlalu agresif di dalam kelas, dia suka mengganggu teman-teman, mengambil punya teman, merusak peralatan yang ada di kelas dan suka bercakap kotor. Prilaku Tomi juga tidak wajar, sebagai anak yang masih kecil seharusnya Tomi tidak berperilaku seperti itu.

Kehadiran Tomi di sekolah membuat teman-teman sekelasnya tidak fokus dalam belajar, ia menjadi perhatian guru-guru yang selalu mengelus dada ketika melihat perilakunya. Ia suka membuat keributan di kelas, dan mengganggu teman-temannya, bahkan sering membuat temannya menangis. Hampir setiap hari ada yang menangis di kelas akibat ulah Tomi.

Guru-guru menjadi prihatin dan kewalahan menghadapi Tomi yang semakin hari tingkahnya semakin menjadi. Ia memiliki tubuh yang kurus tinggi, rambut ikal dan kulit yang hitam. Teman-teman Tomi merasa senang dan nyaman ketika tomi tidak hadir ke sekolah. Bukan hanya teman sekelas yang di ganggu oleh Tomi, saat waktu istirahat tiba,  Tomi juga suka membuat masalah dengan teman kelas yang lain, semua teman Tomi takut padanya.

Tomi sangat di kenal oleh guru dan murid-murid yang ada di sekolah. Ia tinggal di pesisir pantai bersama bapak, ibu, serta dua orang abang dan tiga orang adik. Tomi tidak terlalu serius saat pembelajaran berlangsung, buku dan peralatan sekolah jarang ia bawa. Ia sering mengambil punya teman-teman saat belajar membuat ruangan menjadi riuh. Sebagian guru menyerah menghadapi Tomi.

Saya meluangkan waktu untuk mencari data tentang Tomi melalui teman-teman yang tinggal berdekatan dengan Tomi. Ani salah satu temannya di sekolah yang bertetangga dengan Tomi, ia tau bagaima sikap Tomi saat berada di rumah. Ani banyak bercerita tentang Tomi. Cerita Ani membuat saya harus lebih ekstra menangani kasus yang terjadi pada Tomi. “Saya sering melihat Tomi menghirup lem kambing dan menghisap rokok, buk” Tutur Ani kepada saya.

Tomi adalah anak yang kurang mendapat perhatian dari kedua orang tuanya. Pekerjaan orang tua Tomi sehari-hari buruh pemotong batu bata, terkadang ia bekerja sebagai nelayan menarik pukat. Upah yang diterima tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari, karena pembayaran yang diterima sesuai dengan banyak atau tidaknya pekerjaan yang dilakukan.

Tepatnya hari rabu pertama kali Saya memanggil dan mendekati Tomi, ia hanya melihat tanpa reaksi apapun. Saya tersenyum kepadanya dan mengulurkan tangan pada Tomi sambil mengucap salam. Hari-hari berikutnya saya mencari Tomi, tanpa mengurangi perhatian saya pada yang lain, tapi Tomi tidak kelihatan, Tomi sering tidak hadir ke sekolah.

Saya pergi kerumah Tomi ingin mencari tau cerita yang sebenarnya setelah mengetahui alamat rumahnya dari Ani. Setelah sampai pada alamat yang di tuju, saya tidak bertemu dengan Tomi. Ibu Tomi yang sedang bersiap hendak pergi ke tempat pemotongan bata mengatakan “Tomi tidak di rumah buk, ia sudah pergi sejak pagi ke sekolah.” Lalu saya menjawab “Tapi Tomi tidak ada di sekolah dan sudah sering seperti itu.” Orang tua Tomi mengakui kalau Tomi sudah sering di nasehati tapi Tomi tidak berubah.

Tomi mendapat perhatian lebih dari saya. Ketika Tomi datang saya selalu duluan memberi senyuman dan mengulurkan tangan pada Tomi. Akhirnya lambat laun Tomi pun mulai mau bersalaman dengan saya. Kesempatan ini tidak saya sia-siakan. “Bilang apa salamnya nak?” Tanya saya. Tomi diam saja dan menarik tangan nya dengan cepat. Saya tersenyum dan mengucapkan “Terimakasih Tomi sudah mau bersalaman sama ibu. Waktu salaman jangan diam saja ya! Ucapkan salam.”

Hari berikutnya, Tomi sudah mulai mau menyalami saya sambil mengucapkan salam. Saya menjawab salamnya dan bertanya “Mengapa selama ini Tomi jarang masuk sekolah?” namun, Tomi diam tidak menjawab sepatah katapun. Saya tetap tersenyum ramah padanya sambil mengatakan “Ibu senang Tomi mau bersalaman, nanti waktu istirahat bantu ibu menyusun buku di lemari ya!” Ia mengangguk tanpa mengeluarkan suara.

Waktu istirahatpun tiba. Tomi menghampiri saya. “Bu? tadi ibu bilang mau menyusun buku,” Tomi mengingatkan saya.

“Ia, Benar Tomi!” Ini waktu yang tepat untuk bisa bertanya langsung pada Tomi, batin saya. Sambil menyusun buku kami berbincang bincang.

“Kemarin Tomi kemana? Mengapa tidak sekolah?”

Tomi diam sambil terus menyusun buku.

“Tomi jarang masuk sekolah ya? Kemana aja Tomi pergi?” tanya saya lagi.

“Bermain” jawab Tomi tiba-tiba sambil memperhatikan saya.

Sambil tersenyum saya mengatakan, “Boleh bermain tapi jangan lupa sekolah ya!”

Waktu istirahat selesai semua anak-anak sudah masuk ke dalam kelas. Tomi masih bersama saya, terlihat dari wajahnya ia senang membatu saya.

“Tomi besok sekolah bantu ibu lagi ya, ibu senang Tomi mau membantu ibu. bukunya sudah rapi, pekerjaan ibupun jadi cepat selesai, Tomi memang anak yang baik, terimakasih Tomi!.” Tomi mengangguk sambil berlalu pergi menuju kelas. Keesokan harinya Tomi masuk sekolah, ia menghampiri saya. Saya tersenyum dan mengulurkan tangan bersalaman. “Assalammualaikum” Tomi mengucap salam, saya pun menjawab “Waalaikumsalam.”

Hari-hari berikutnya Tomi selalu terlihat datang ke sekolah, ia pun sudah mulai ada perubahan. Sepertinya ini waktu yang tepat mengajaknya bercerita tentang dirinya. Saya memanggil Tomi secara khusus ke ruangan saya. Percakapan pun dimulai.

“Bagaimana kabar Tomi hari ini?” tanya saya kepadanya.

“Baik bu” jawab Tomi.

“Akhir-akhir ini Tomi sering datang ke sekolah ya, sepertinya kamu mulai nyaman datang kemari?”

“tidak juga bu” jawabnya dengan suara kecil

Saya mengatakan “Mengapa Tomi tidak nyaman? Maukah Tomi bercerita kepada ibu?  supaya ibu bisa membantu!” Tomi diam beberapa saat.

“Tomi! Ibu mau mendengar pengalaman tomi selama tidak masuk sekolah. Ibu tidak akan marah, ibu percaya dan senang mendengar cerita Tomi.”

“Saya lebih senang main diluar buk”

“memangnya diluar bermain apa?” tanya saya penasaran

“Saya disuruh beli rokok bu, saya dikasih uang jajan setelah membeli rokok. Saya senang dikasih uang jajan oleh abang-abang itu” jawab Tomi dengan polosnya.

“Abang-abang? Abang-abang yang mana?” Saya semakin penasaran.

“Itu buk, yang ada di desa Siren!”

Keseharian Tomi sering bermain ke desa Siren. Di sanalah Tomi mendapat teman dan perhatian, namun sayang teman Tomi adalah anak remaja dan orang dewasa yang berperilaku kurang baik dan suka menghirup lem kambing. Tomi yang paling muda diantara mereka. Sejak saat itu Tomi sering bermain ke sana sampai Tomi kecanduan menghirup sesuatu yang dapat mengakibatkan kecanduan seperti narkoba. Ternyata masalah ini yang terjadi pada Tomi, sehingga membuat Tomi malas sekolah dan jahil terhadap teman-temannya. Hal ini yang menyebabkan Tomi malas pergi sekolah, dan menjadi kendala terhadap proses pembelajarannya. Semua nilai pembelajaran Tomi sangat rendah sehingga rata-rata setiap mata pelajaran tidak tuntas.

Menghadapi kasus Tomi bukanlah semudah membalikan telapak tangan. Perlu bimbingan khusus dan proses yang membutuhkan waktu supaya Tomi bisa kembali seperti anak-anak yang lain pada umumnya. Saya menggunakan strategi yang berbeda dalam menghadapi Tomi. Memberi perhatian, senyuman,  mendampingi dan mengajak berbicara secara empat mata agar tomi mulai terbuka kepada saya. Setiap hari saya menunggu kehadiran Tomi mengajak untuk menemani dan membantu saya baik dalam proses pembelajaran maupun saat istirahat. Saya menasihati Tomi agar menjauhi dan tidak bermain lagi dengan para orang dewasa di desa siren. Saya mengatakan padanya, jika ia kesana hanya karena mengharapkan diberikan uang, maka saya bisa memberikan sesuatu yang lebih berharga daripada itu.

Setiap pagi jika berpapasan degan Tomi saya selalu pertama mengulurkan tangan bersalaman.  Mengajak kerjasama membantu pekerjaan di sekolah, tidak lupa memberi apresiasi  pada semua pekerjaan yang sudah di kerjakan oleh Tomi. Saya tidak pernah jenuh melakukan hal yang bisa membuat Tomi merasa diperhatikan. Motto yang saya gunakan untuk menghadapi Tomi dengan menambah sedikit kesabaran semua akan baik-baik saja, dan pasti akan ada hasilnya. Kesabaran yang di pupuk selama ini mendapatkan hasil seperti yang di inginkan, hampir delapan pekan secara intensif saya mendekati Tomi, akhirnya ia dapat berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Tomi yang dulunya jahil kepada teman-temannya sekarang mulai bersahabat dan tidak lagi mengganggu teman-temannya. Tomi menjadi anak yang baik, kreatif, hormat, dan patuh pada guru-guru yang lain. Setiap pagi sampai di sekolah Tomi menyalami semua guru yang ditemui.

Perubahan Tomi membuat semua teman-temannya jadi senang terhadap Tomi, begitu juga dengan bapak dan ibu guru senang melihat perubahan yang terjadi pada Tomi. Baik perubahan sikap maupun perubahan dalam belajar Tomi sudah mulai meningkat, walaupun belum mendapat nilai yang terbaik, namun sudah tuntas di dalam pembelajaran.

Menghadapi permasalahan yang ada di kelas harus dengan pendekatan dan perlu menanbah kesabaran, memberi apresiasi, dengan senyuman dan pujian.

Banyak Hal yang saya temui selama saya bertugas di salah satu Sekolah Dasar yang terletak di pesisir pantai kecamatan Dewantara Kabupaten Aceh Utara. Tahun pertama tepatnya baru dua bulan saya bertugas banyak PR yang harus saya selesaikan, banyak hal yang harus saya pelajari untuk menyelesaikan tugas yang menurut saya sangat berat. Tomi murid kelas empat (bukan nama sebenarnya), yang membuat saya harus ekstra menambah kesabaran begitu juga dengan guru-guru yang lain saat proses belajar mengajar berlangsung.

Kasus Tomi diatas membuat saya mengerti betapa pentingnya perhatian, kesabaran, serta kasih sayang yang kita berikan kepada murid. Menanggapi setiap kasus yang terjadi pada murid, kita tidak boleh memvonis bahwa murid tersebut bersalah dan harus diberi hukuman atas kesalahan yang diperbuatnya. Terkadang tingkah lemah lembut lebih dapat menyentuh hatinya. Keseriusan, kesabaran, kerja keras, dan tanggung jawab dengan menambah kesabaran InShaa Allah akan mendapatkan hasil yang baik.

Penulis

Sumarniwati,M.Pd

Kepsek SDN6 Dewantara,

 

About Admin

Check Also

KERESAHAN GURU TERHADAP KELULUSAN MURID

Berawal di akhir Maret 2020 covid 19 melanda Dunia. Saat persiapan try out murid kelas …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *