
Oleh: Qusthalani*
Tahukah Anda apa perintah Allah yang pertama kali kepada umat Islam melalui Nabi Muhammad SAW ? Perintah itu diulangi oleh Jibril sang Pembawa Perintah sampai tiga kali karena begitu pentingnya. Ya, Anda benar. Perintah tersebut adalah untuk membaca. Jadi perintah Tuhan pada umat Islam yang pertama kali adalah membaca dan bukan syahadat, salat, ngaji, apalagi naik haji.
Tapi, tahukah Anda perintah Allah yang manakah yang paling ditinggalkan oleh umat Islam saat ini ? Ya, perintah membaca itu ! Jadi tidak salah kalau saat ini umat Islam menjadi umat yang paling tertinggal dibanding umat lain. Lha jelas karena mereka tidak melaksanakan perintah Tuhan yang pertama kok! Bandel kok pingin disayang.
Ada yang unik disini dan penuh misteri tentang kisah Nabi Muhammad pertama kali menerima wahuyu dari Jibril, yaitu perintah membaca. Pertama, Jibril memerintahkan Nabi Muhammad untuk membaca apakah kira-kira Jibril membaca teks untuk dibaca ? pasti jawabannya “Tidak, Jibril tidak membaca teks”. Saya yakin Anda juga akan mengatakan hal yang sama.
Anda Yakin ? (Bukankah sangat ganjil kalau kita meminta seseorang untuk membaca, tidak membaca teks yang kita minta untuk dibaca tersebut ?) Kalau seandainya kalian berada pada posisi tersebut, apa jawab kalian jika ada orang yang menyuruhmu membaca tapi, ia tidak membaca teks yang akan dibaca?” Pasti jawabannya “Apa yang dibaca”, atau “Apa yang harus dibaca”.
Begitu juga dengan Nabi Muhammad. Beliau tentu akan bertanya yang sama jika Jibril tidak membawa teks untuk dibaca tapi memintanya untuk membaca. Beliau tentu tidak akan menjawab, “Saya tidak bisa membaca” (Sampai tiga kali beliau menjawab). Itu artinya Nabi Muhammad pahham dan mengerti apa yang diperintahkan padanya. Oleh sebab itu, beliau menjawab dengan jawaban yang sama. Itu hanya menunjukkan simpulan bahwa Jibril membawa teks untuk dibawa Nabi Muhammad SAW. Karena Nabi Muhammad memang tidak bisa membaca pada waktu itu, beliau menjawab, “Saya tidak bisa membaca”.
Apakah akhirnya Rasulullah bisa membaca dan menulis “ Saya dan Anda pasti sangat yakin beliau akhirnya bisa membaca dan menulis. Sungguh tidak masuk akal jika Rasulullah tidak mau belajar membaca dan menulis padahal Ayat Al Quran tentang perintah membaca dan menulis diturunkan padanya. Tidak ada perintah Allah yang tidak dilakukannya sendiri dahulu sebelum diwajibkan pada umatnya.
Apa pentingnya membaca dan menulis ? Jawaban yang sangat perlu kita jawab. Kita bisa menyimak sejarah Nabi Muhammad pada abad ke 14 dahulu. Pada Perang Badar, Nabi Muhammad membuat kebijakan yang ganjil soal tawanan perangnya. Para tawanan yang miskin ditawari sebuah kesepakatan yaitu mereka diminta untuk mengajar 10 orang anak-anak dan orang dewasa Madinah dalam membaca dan menulis. Jika mereka telah bisa mengajari 10 orang anak tersebut, mereka boleh bebas tanpa membayar tebusan apapun. Jadi, mengajar literasi membaca dan menulis menjadi syarat pembebasanm mereka. Tawaran seperti sungguh ganjil dan tidak pernah terjadi dimanapun. Untuk apa kemampuan membaca dan menulis pada zaman yang masih jahiliyah dan tidak ada buku tersebut ? . Pertanyaannya apa relevansi pengetahuan membaca dan menulis pada zaman ketika belum ada buku saat tersebut ?
Bukankah pengetahuan dan keterampilan lain seperti berdagang, berkebun dan lain-lain yang sesuai dengan kebutuhan saat itu jauh lebih relevan dengan kebutuhan umat saat itu ? Tapi, Nabi Muhammad lebih memilih keterampilan membaca dan menulis bagi umatnya.
Jawabanya sejarah menjawab. Seratus tahun kemudian berkat kemampuan literasinya umat Islam berhasil mencapai kejayaannya. Apa yang ditanam oleh Rasulullah pada saat Perang Badar berhasi dituai pada zaman kejayaan Islam. Zaman Kejayaan Islam (sekitar 750 M-1258M) adalah masa ketika para ilmuwan Islam menghasilkan banyak kontribusi terhadap perkembangan teknologi dan kebudayaan, baik dengan menjaga tradisi yang telah ada ataupun dengan menambahkan penemuan dan inovasi mereka sendiri. Kejayaan Islam jelas telah menyumbangkan tonggak peradaban yang tinggi pada dunia
Namun sanga menyedihkan meski hafal surat Al-Falaq iqra’ dan membacanya setiap hari dalam shalat tapi umat Islam tidak menjadikan membaca sebagai aktifitas sehari-hari yang harus diberlakukan sebagai ibadah sebagaimana kita memperlakukan salat, zakat, zikir, dll. Membaca tidak pernah dianggap sebagai suatu ibadah. Membaca bahkan dianggap sebagai perintah ajaran Islam. Ironis sekali!
Hasil penelitian PISA menempatkan siswa Indonesia pada posisi 48 dari 56 negara di dunia pada 2006 dengan skor rata-rata 393. Minat baca rendah ini pun terulang pada 2009. Hasil uji tes PISA yang dilakukan enam tahun kemudian yaitu pada tahun 2012 ternyata hasilnya lebih buruk lagi yang menempatkan Indonesia pada posisi kedua terburuk atau posisi 64 dari 65 negara. Vietnam saja yang baru merdeka berada pada posisi 20 besar. (Nah kalau Aceh urutaan keberapa ?)
Lalu apakah semua anak harus membaca buku sastra, apakah tujuan negara ini agar semua siswa menjadi sastrawan. Tentu jawabannya tidak, sastra hanya menjadi medium tempat lewat. Sastra mengasah dan menumbuhkan budaya baca buku secara umum.
Seorang Anak Baru Gede di tahun 1919 masuk sekolah SMA Dagang Menengah Prins Hendrik Schoool di Batavia. Wajib baca buku sastra menyebabkannya ketagihan membaca, tapi dia lebih suka ekonomi. Dia melangkah kesamping, lalu jadi ekonom dan ahli koperasi. Namanya Hatta. Seorang siswa yang sepantaran dia, di AMS Surabaya, juga adiksi buku. Kasur, kursi dan lantai kamarnya ditebari buku. Tapi dia lebih suka ilmu politik, sosial dan nasionalime. Dia melangkah ke samping dan jadi politikus. Namanya Soekarno. (Begitu banyak juga cerita ulama Aceh menjadi pengarang kitab ternama, sang deklarator GAM Tgk Muhammad Hasan Di Tiro juga begitu banyak karyanya yang dihasilkan).
Sastra menanamkan rasa ketagihan membaca buku, yang berlangsung sampai siswa menjadi dewasa. Mari sekarang kita bangkit, melaksanakan perintah Allah, yaitu membaca. Sesuai dengan profesi kita sebagai guru mari kita sukseskan program pemerintah untuk menumbuhkan budi pekerti dan karakter anak melalui budaya membaca (membaca buku selain buku pelajaran selama 15 menit sebelum pelajaran dimulai). Bagaimana menumbuhkan minat membaca siswa kita, itu menjadi tugas kita bersama dan kita pikul bersama, mudah-mudahan Aceh menjadi salah satu daerah yang akan mengulang kembali sejarah dimasa lampau.
Cuplikan buku Misteri di Balik Perintah Membaca 14 Abad yang Lalu (Satria Darma)
*Qusthalani, S.Pd.,M.Pd. (Ketua IGI Kabupaten Aceh Utara, Guru SMAN 1 Matangkuli)
Jurnal Pase Media Online Pase
Gas laju pak