
Manusia, Adu Domba, dan Tepuk Tangan Kehancuran
Oleh: Qusthalani*
Di balik sifat sosial manusia yang mendambakan kebersamaan dan harmoni, terdapat sisi gelap yang sering kali terabaikan: kecenderungan untuk mengadu domba sesama. Fenomena ini bukanlah hal baru dalam perjalanan peradaban. Sejak zaman dahulu, praktik adu domba telah menjadi alat untuk mencapai tujuan tertentu, baik untuk kepentingan politik, ekonomi, maupun sekadar hiburan. Namun, ironisnya, konflik yang dihasilkan dari adu domba sering kali tidak hanya merugikan pihak-pihak yang terlibat, tetapi juga merusak tatanan sosial yang lebih luas.
Apa yang membuat manusia terlibat dalam adu domba? Salah satu alasannya adalah ego dan kebutuhan untuk merasa superior. Dengan menciptakan konflik di antara orang lain, seseorang dapat memanfaatkan situasi untuk mendapatkan keuntungan pribadi, baik dalam bentuk kekuasaan, perhatian, atau bahkan sekadar rasa kepuasan karena berhasil “mengontrol” orang lain. Sayangnya, korban dari praktik ini tidak hanya mereka yang langsung terlibat, tetapi juga masyarakat secara keseluruhan yang menjadi saksi keretakan hubungan sosial.
Lebih mengkhawatirkan lagi adalah respons masyarakat terhadap konflik yang dihasilkan. Banyak di antara kita, baik secara sadar maupun tidak, menikmati tontonan ini. Kita bertepuk tangan, tertawa, atau bahkan memperbesar konflik dengan menyebarkan rumor dan gosip yang tidak terverifikasi. Dalam konteks modern, media sosial menjadi arena utama di mana “tepuk tangan” atas konflik ini berlangsung. Setiap like, komentar provokatif, atau retweet terhadap konflik antarindividu atau kelompok adalah bentuk partisipasi aktif kita dalam mendukung adu domba tersebut.
Mengapa manusia begitu menikmati tontonan konflik? Salah satu alasannya adalah sifat alami manusia yang tertarik pada drama. Drama menciptakan cerita; cerita membangkitkan emosi; dan emosi memberikan rasa keterlibatan. Konflik sering kali menjadi pelarian dari kebosanan hidup sehari-hari, tetapi dengan biaya yang sangat mahal: kehilangan empati dan meningkatnya ketegangan sosial.
Tepuk tangan kita terhadap konflik tidak hanya mencerminkan sisi gelap masyarakat, tetapi juga menciptakan lingkaran setan yang sulit diputus. Dengan memberi perhatian pada konflik, kita secara tidak langsung memberikan insentif kepada pelaku adu domba untuk terus melakukannya. Kita menjadi bagian dari masalah, bukan solusi.
Apa yang bisa kita lakukan untuk memutus siklus ini? Pertama, kita perlu menyadari dampak buruk dari menikmati konflik sebagai tontonan. Empati adalah kunci untuk memahami bahwa setiap konflik melibatkan penderitaan nyata bagi pihak-pihak yang terlibat. Kedua, kita perlu membangun budaya dialog dan saling pengertian. Ketika konflik muncul, alih-alih menjadi penonton yang bertepuk tangan, kita harus menjadi mediator yang membantu mencari solusi. Ketiga, kita perlu lebih bijak dalam menggunakan media sosial dan berhenti memberi panggung kepada narasi yang memecah belah.
Adu domba adalah ujian bagi kemanusiaan kita. Tepuk tangan atas konflik hanya memperkuat keretakan sosial dan menodai nilai-nilai kebersamaan. Dunia akan menjadi tempat yang lebih baik jika kita memilih untuk tidak menjadi penonton konflik, melainkan pendukung harmoni. Karena pada akhirnya, apa yang kita tepuk tangan hari ini mungkin menjadi api yang membakar kita semua di masa depan.
*Qusthalani, Guru SMAN 1 Matangkuli
Jurnal Pase Media Online Pase