Ahad/Minggu , 13 Juni 2021
Home / Droe ke Droe / IGI bukan Seperti Club Sepak Bola Tarkam

IGI bukan Seperti Club Sepak Bola Tarkam

IGI bukan Seperti Club Sepak Bola Tarkam

Fitriadi
Sektretaris Wilayah IGI Aceh

Seorang teman bertanya sama saya, Kenapa IGI tidak mengambil iuran setiap bulan dari anggotanya seperti organisasi lain.

Jadi begini, IGI merupakan organisasi profesi guru yang pada hakikatnya adalah dipimpin oleh guru dan berkhidmat untuk guru. IGI hanya mengambil uang regestrasi anggota 50.000 untuk seumur hidup, dan malah sering membuka pendaftaran gratis pada momen-momen tertentu. Penggunaan uang regestrasi ini pun untuk kepentingan bersama, dimana dari 50.000 ini pun pengurus kabupaten mendapatkan 25.000 yang digunakan untuk melatih para guru dengan berbagai program gratis seperti IGI visit school, IGI Saweu sikula dan lainnya. Sedangkan jatah untuk provinsi sebesar 15.000 juga digunakan untuk melatih guru seperti program Meugiwang IGI.

Para pengurus IGI pun sadar, kita yang terlahir dari rahim guru tentunya wajib membantu para guru, pengurus kabupaten tidak perlu sembah-sembah pengurus provinsi ketika datang ke daerahnya, tidak perlu ada kalungan bunga apalagi harus menginap di hotel dan dijamu makan seperti berfoya-foya, kita siap tidur dirumah guru kadang kala di SPBU, karena kita sadar subtansi membangun organisasi bukan pada kemegahan apalagi sanjungan.

Motto IGI ” Sharing and Growing Together_Berbagi dan Tumbuh Bersama”, bukan hanya tertulis dengan bagus dalam AD/ART, tetapi betul-betul melekat dalam jiwa setiap pengurus dan anggota IGI. Kita sebagai guru sadar hanya organisasi yang dikelola oleh guru sendiri yang mengerti persoalan guru.

Lalu darimana operasional IGI melakukan berbagai pelatihan gratis untuk guru. Kalau di ibaratkan, IGI seperti club sepak bola modern yang menggandeng sponsor untuk membantu para guru meningkatkan kopentensinya selama ini, kita bukan seperti club sepakbola konvensional yang menggantungkan hidup dari APBA dan APBN.

Lalu siapa saja sponsor yang mendanai kegiatan IGI, ada perusahaan Samsung, Casio, Narasi TV dan beberapa perusahaan besar lainnya. Kita memang mengakui ada pelatihan yang sifatnya mandiri, dimana para peserta membayar sendiri uang untuk makan dan cetak sertifikat, sedangkan untuk biaya instruktur tetap ditanggung oleh sponsor. Tapi frekuensi kegiatan berbayar itu sangat kecil dan jarang.

Pada hakikatnya, memang tidak salah mengutip iuran wajib dari anggota selama tertuang dalam AD/ART organisasi dan penggunaannya jelas serta dapat dipertanggungjawabkan kepada anggota. Tetapi IGI belum berpikir untuk menggunakan pola konvensional tersebut, karena kita akan tetap menggunakan skema organisasi modern.

Keberadaan anggota IGI adalah sifatnya legal karena IGI adalah organisasi yang di akui oleh negara. Sesuai amanat UU guru dan dosen tahun 2005 dimana setiap guru wajib menjadi anggota organisasi profesi, dan sifatnnya tidak mengikat untuk memilih organisasi profesi guru yang di anggap cocok pada diri masing-masing guru.

Bagi guru yang sudah menjadi anggota IGI, maka boleh menolak untuk membayar iuran wajib atas nama organisasi lain. Ini zamanya guru merdeka dimana mereka boleh memilih organisasi profesi yang mereka suka, tidak ada paksaan, kalaupun ada yang memaksa anggota IGI membayar iuran wajib untuk orprof lain, maka itu dianggap pungli dan boleh dilapor pada pihak yang berwajib, tetapi kalau pun ikhlas memberikannya itu tidak masalah, anggap aja seperti masyarakat menyumbang untuk club sepak bola yang akan bertanding pada perayaan HUT RI 17 Agustus.

Wasalam
Banda Aceh, 24 Januari 2021
Fitriadi
Sektretaris Wilayah IGI Aceh

About Admin

Check Also

Lakukan Rapat Koordinasi Persiapan Pembatik,  UPTD Balai Tekkomdik Disdik Aceh Undang Duta Rumah Belajar

Jurnalpase.com| Banda Aceh – Unit Pelaksana Tekhnis Dinas Tekhnologi Komunikasi Pendidikan (UPTD Tekkomdik) Dinas Pendidikan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *