Home / Opini / Apa yang Menjadikan Indonesia “Indonesia”?

Apa yang Menjadikan Indonesia “Indonesia”?

Cover Buku Sains 45. (aipi.or.id)

“Apa itu Indonesia?” dan  “Mengapa kita merasa sebagai orang Indonesia?”

Adalah dua pertanyaan yang akan selalu relevan diperbincangkan. Jawaban atas kedua pertanyaan itu terus berkembang sesuai dengan perubahan zaman, sejak era prakemerdekaan hingga pascareformasi. Pada akhirnya, pemahaman tentang identitas keindonesiaan bisa menjadi pijakan untuk menentukan masa depan bangsa.

Sebelum Soewardi Soerjaningrat menyebut “Indonesia” sebagai identitas politik pada awal abad ke20, “Indonesia” hanya kata yang merujuk suatu wilayah geografis, bukan etnografis atau budaya, terlebih politik. “Jika saya seorang Belanda…saya tidak akan merayakan kemerdekaan saya di tanah yang Rakyatnya kita tolak kemerdekaannya…”. Tulisan Soewardi Soerjaningrat yang menyindir perayaan Seabad kemerdekaan Belanda dari Prancis tersebut secara gamblang menempatkan posisi Belanda dan “Hindia”.

Setelah 70 tahun Hindia merdeka, dan menjadi Indonesia—kata yang digunakan lebih dari seabad lalu bagaimana menjelaskan sekelompok masyarakat yang berbeda etnis, suku, agama, dan hidup terpisah secara geografis merasa memiliki identitas yang sama sebagai orang Indonesia?

Definisi dan makna tentang Indonesia selalu berubah sesuai dengan konteks dan zamannya. Pada awal masa berdirinya, Indonesia dimaknai sebagai modal politik untuk memobilisasi rakyat guna memerdekakan diri dari kolonialisme. Belanda menghindari kata “Indonesia” yang membawa semangat

perlawanan sehingga lebih memilih “Hindia”, “Hindia-Belanda”, atau  “Hindia Timur”. Setelah kemerdekaan, identitas Indonesia sebagai suatu bangsa lebih diarahkan sebagai bagian dari konstruksi ideologi politik dan untuk pembangunan ekonomi nasional.

Kini, pertanyaan mengenai identitas Indonesia kembali terasa mendesak, terutama dalam era pascareformasi yang demokratis dan terdesentralisasi. Dunia yang semakin terkoneksi baik secara ekonomi, politik, dan sosial, serta munculnya letupan konflik ideologis berbasis identitas membuat pemahaman mengenai identitas Indonesia semakin diperlukan. Melihat konteks nasional dan global yang semakin terfragmentasi tapi sekaligus terkoneksi, tampaknya konstruksi identitas kolektif kini lebih berfokus pada karakter dan perilaku manusia Indonesia, bukan lagi pada proyek politik dan ekonomi.

Keberhasilan dalam memahami identitas Indonesia akan membuat perencanaan masa depan Indonesia lebih mudah dilakukan. Sebaliknya, kegagalan dalam mengenali diri dapat menimbulkan berbagai masalah seperti terhambatnya proses pembangunan nasional hingga munculnya konflik sosial dan disintegrasi.

Usaha untuk menjabarkan identitas Indonesia harus selalu memperhatikan tingginya keragaman di Indonesia, baik secara geografi, biologi, budaya, nilai, bahasa, praktik, dan institusi sosial. Tak hanya itu, Indonesia kini memiliki “keragaman temporal” dengan komunitas masyarakat digital yang bisa hidup berdampingan dengan kelompok masyarakat yang masih menggunakan teknologi pramodern, atau masyarakat individualis modern yang hidup bersandingan dengan komunitas kolektif tradisional.

Tingginya keragaman lokal itulah yang menjadikan formulasi identitas kolektif “Indonesia” sudah tak sama lagi. Sepanjang abad ke-20, identitas negara-bangsa identik dengan ideologi nasional yang bersifat politis, abstrak, dan menyeluruh. Indonesia, misalnya, memiliki Pancasila sebagai ideologi nasional. Ideologi politis dan komprehensif ini perlu diturunkan dan dijabarkan seiring dengan berkembangnya aktivitas transnasional, yang membentuk jejaring global dalam ranah ekonomi, sosial, dan budaya.

Perubahan aktivitas dan perspektif ini membawa konsekuensi pada perlunya kita mengidentifikasi kembali identitas Indonesia, identitas yang memanusiakan manusia Indonesia. Identitas memanusiakan manusia Indonesia bisa digali dengan usaha sistematis dan empiris untuk memahami kepercayaan, nilai, pikiran, karakter, dan perilaku manusia Indonesia. Pada akhirnya, usaha-usaha itu  ditujukan guna merancang sebuah kehidupan bersama yang harmonis dan membahagiakan individu-individu Indonesia. Apakah identitas Indonesia bersifat statis dengan sebuah esensi keindonesiaan yang dimiliki setiap orang Indonesia? Apakah terdapat kepercayaan inti, fondasi moral, dan kearifan kolektif yang menjadi perekat bagi beragamnya populasi di Indonesia?

Apakah identitas keindonesiaan merupakan produk dari interaksi misalnya konsensus dan negosiasi sehingga selalu beradaptasi dengan perkembangan zaman dan tempat?

Pertanyaan ini perlu dijawab dalam beberapa level. Secara spesifik, di level mikro atau individu, kita perlu memahami karakter psikologis dan budaya manusia Indonesia. Sementara di level makro atau kolektif, kita perlu mengidentifikasi narasi Indonesia. Selanjutnya kita perlu memahami hubungan timbal balik antara keduanya. Bagaimana kumpulan manusia Indonesia saling berinteraksi membentuk narasi Indonesia bersama dan bagaimana narasi Indonesia mempengaruhi karakter dan perilaku manusianya?

Humaniora Digital

Sains interdisipliner, terutama antara sains sosial budaya dengan sains komputasi dapat digunakan untuk menjelaskan hubungan sebab-akibat dan hubungan makna dari suatu fakta sosial. Misalnya, melakukan  studi longitudinal untuk memahami evolusi makna “Indonesia” sejak prakemerdekaan hingga sekarang. Pemahaman sejarah dan historiografi Indonesia juga perlu terus dikembangkan untuk mengidentifikasi berbagai narasi tentang keindonesiaan.

Kita juga perlu membangun koleksi komprehensif tentang berbagai kepercayaan, karakter, perilaku, hingga kebiasaan yang umum di Indonesia dalam berbagai konteks, mulai dari pola pengasuhan anak, pola makan, hingga mekanisme penyelesaian konflik. Usaha digitalisasi budaya, baik budaya tulis, visual, maupun lisan perlu terus digalakkan dan diaplikasikan di berbagai bidang, termasuk dalam pengelolaan sumber daya hayati, kesehatan, ketahanan pangan hingga mitigasi bencana yang bersumber dari kekayaan budaya Indonesia. Dengan demikian kita dapat mengembangkan model-model dinamika untuk memahami dinamika narasi dan budaya keindonesiaan, serta cara kita melakukan hubungan sosial. Semua ini akan bermuara pada pengembangan budaya Indonesia yang adaptif dan berkelanjutan.

Kutipan dari buku sains45, agenda Ilmu Pengetahuan Indonesia menyongsong satu abad kemerdekaan.

About Redaksi

Check Also

Pelantikan Kepala Sekolah

3 Alumni PPS AP Kepengawasan Jadi Kepala Sekolah Di Aceh

Jurnalpase.com| SEKDA Aceh dr. Taqwallah. M.Kes, mengambil sumpah jabatan sekaligus melantik 433 Kepala Sekolah di …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *