Home / Opini / YUK WISATA BATIN KE MAKAM CUT NYAK DHIEN SUMEDANG

YUK WISATA BATIN KE MAKAM CUT NYAK DHIEN SUMEDANG

Sumedang merupakan satu Kabupaten di wilayah Jawa Barat. Mendengar Sumedang, hal pertama yang terlintas di kepalamu mungkin adalah tahu Sumedang, salah satu camilan legendaris yang kini mudah ditemui di mana-mana. Inilah yang bikin daerah ini dijuluki Kota Tahu. Namun ternyata, Sumedang ini gak selalu berhubungan dengan tahu, lho. Dalam sejarah, Sumedang menjadi salah satu pusat budaya Pasundan. Juga ada beragam destinasi menawan yang tentu saja layak untuk dikunjungi para pejalan.

Di tengah suasana Liburan, mungkin Anda perlu berwisata religi bila singgah di Sumedang. Yap, satu destinasi terkenal di sini ialah makam Cut Nyak Dhien.

Rasa penasaran dari cerita lepas tentang makam Cut Nyak Dhien  yang berada di puncak bukit di Kabupaten Sumedang itu membuat saya dan rombongan berpacu dengan waktu agar sampai di tempat itu. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampui. Itulah yang Saya lakukan, sambil mengikuti diklat di Pulau Jawa menyempatkan diri mengunjungi nenek moyang masyarakat Aceh. Jalan negara ber-hotmix dari tol Cileunyi, lalu ambil arah Jatinangor, kemudian ke Tanjungsari, lalu ke Cadas Pangeran, hingga bertemu bunderan Polres Sumedang. Sampai di titik ini, kita belok kanan menuju arah Kompleks Makam Gunung Puyuh, jalan ini tidak menyulitkan sang sopir mengendari kendaraan untuk membawa kami ke kampung tersebut. Dari pertigaan itu, sang sopir mulai hati-hati dalam mengendarai kendaraan karena ada beberapa ruas jalan yang berlubang di Gunung Puyuh.

Seperti dalam catatan sejarah, Cut Nyak Dhien merupakan perempuan pejuang di Aceh. Selama 25 tahun ia bergerilya melawan kolonial Belanda. Hingga akhirnya, istri dari tokoh gerilya Teuku Umar ini ditangkap Belanda dan diasingkan ke Sumedang.

Cut Nyak Dhien ditempatkan di rumah panggung sederhana yang berada di Jalan Pangeran Aria Suriatmaja. Tak lama ia diasingkan, hanya 3 tahun hingga akhirnya menghembuskan nafas terakhir. Sampai akhir hayat, ia menetap di pengasingan. Karena itulah ada makam Cut Nyak Dhien di bukit kecil di tenggara Sumedang yang disebut Gunung Puyuh.

Makam Cut Nyak Dhien di Sumedang

Bentuk makamnya dibuat senyaman mungkin, lengkap dengan pendopo dan pagar rendah terbuat dari kayu. Di dalam pendopo, terlihat makam dari pahlawan Indonesia, Cut Nyak Dhien. Bagaimana, Anda tertarik ke makam Cut Nyak Dhien?

Senyuman dan sapaan pun tak luput dari bibir wanita-wanita tegar tersebut saat kami masuk ke area pemakaman. Karena diantara kami tidak ada yang tahu di mana letak makam Cut Nyak Dhien, saya bersama Deni, teman dari Jawa Tengah memberanikan diri menanyakan ke pos pondok penjaga makam.

“Lurus saja ke depan dan nanti ada turunan, terus ada foto dan tulisan Makam Pahlawan Nasional Njut Nya’ Dhien, di situlah kompleknya”, ucap bapak yang mediami pondok itu kepada kami.

“Di sana juga ada pengurus makam, jadi kalau mau tanya-tanya tentang riwayat makan juga bisa”, tambah pria tersebut dengan nada dan senyuman yang bersahabat.

Usai mengucapkan terimakasih, Saya dan Deni melanjutkan langkah menuju makam istri Teuku Umar tersebut.

Saat memasuki area makam yang pagarnya terpisah dengan komplek utama, terlihat sejumlah lampu taman yang mengelilingi makam yang dibangun dari batu marmer dan dilindungi oleh bangunan nuansa rumah adat Aceh dari kayu-kayu pilihan yang didatangkan dari Aceh guna menjaga kekhasan makam.

“Assalamu’alaikum. Silahkan masuk”

Sapaan ramah disertai salam dari seorang laki-laki paruh baya ternyata menyambut kedatangan kami. Dia juga langsung menyalami rombongan yang mencirikan keramahan pria berkumis itu.

“Selamat datang di makam Cut Nyak Dhien, saya Dadan penjaga makan ini”, ujarnya seraya mengenalkan diri kepada kami.

Dia juga menyampaikan jika ada yang ditanyai mengenai Cut Nyak, Ia bersedia menceritakannya dengan sebaik mungkin guna menumbuhkan rasa kecintaan anak bangsa terhadap para pahlawan negeri ini.

Ketika saya katakan berasal dari Aceh dan ini merupakan kunjungan pertama ke makam leluhur, ternyata itu membuat pak Dadang menjadi sangat gembira dan semakin akrab dengan menunjukkan beberapa simbol-simbol jika makam Cut Nyak Dhien sejak dulu tidak luput dari kunjungan para tokoh-tokoh Aceh.

Dari percakapan dengan penjaga makam, diketahui bahwa makam ini tidak pernah sepi dari pengunjung terutama orang-orang dari Aceh seperti para anggota dewan dan pejabat, di antaranya bapak Gubernur Irwandi beberapa waktu lalu.

Selain itu, di pintu masuk bagian dalam juga terdapat batu peresmian pembangunan meunasah dan pemugaran makam pahlawan nasional Cut Nyak Dhien yang ditandatangani Gubernur Aceh Ibrahim Hasan pada 7 Desember 1987.

Rumah panggung bercorak putih dan coklat yang merupakan meunasah yang berdiri kokoh menggunakan kayu dan ukiran khas Aceh serta dikelilingi lantai dasar yang menggunakan keramik putih terlihat jelas di belakang komplek makam.

Meunasah yang berada di sudut komplek tersebut terlihat sering digunakan masyarakat yang berkunjung untuk beristirahat, shalat dan ada juga yang menggunakannya untuk tempat khenduri, seperti khenduri dengan mengundang anak-anak yatim yang ada di lingkungan komplek makam.

Ketika ditanyai peran dan pandangan Cut Nyak Dhien bagi masyarakat Sumedang. Dadang menjelaskan jika Cut Nyak Dhien bagi masyarakat daerah tersebut bukan hanya dipandang sebagai pahlawan nasional, tapi juga tokoh agama Islam bagi meraka.

Cut Nyak sangat cinta dengan islam, dia mengajarkan banyak ilmu agama kepada orang-orang Sumedang. Bahkan banyak tokoh-tokoh seperti mantan Bupati, anggota DPRD yang orang tua mereka dahulunya belajar agama dan ngaji dari Cut Nyak Dhien.

Pada saat Cut Nyak Dhien diasingkan ke Sumedang dan diterima oleh Gubenur Jenderak Belanda J.B.V Heuts. Oleh Pangeran Aria Suriaatmaja yang dijuluki Pangeran Mekah yang juga menjabat sebagai bupati setempat menyerahkan perawatan Cut Nyak Dhien pada Ulama Masjid Agung Sumedang bernama K.H. Sanusi.

Namun dikarenakan saat ini rumah K.H Sanusi sedang diperbaiki, maka selama lebih kurang tiga minggu Cut Nyak Dhien dititipkan di rumah H. Ilyas. Kemudian kembali dirawat oleh K.H sanusi dan diteruskan oleh anaknya bernama H. Husna hingga akhir hayat Cut Nyak Dhien. Karena kedekatan Cut Nyak Dhien dengan keluarga tersebut dan sudah dianggap sebagai bagian dari keluarga, sehingga beliau dimakamkan di makam keluarga H. Husna di Gunung Puyuh, Desa Sukajaya, Kecamatan Sumedang Selatan.

Selama diasingkan di Sumedang, meskipun saat itu Cut Nyak Dhien tidak bisa melihat, namun beliau tetap memberikan pelajaran mengaji, khususnya untuk para ibu-ibu di daerah itu. Beliau pun mendapat julukan Ibu Perbu atau Ibu Ratu atau masyarakat Sumedang memanggilnya Ibu Suci.

Menurut penuturan Pak Dadan sebelumnya masyarakat tidak ada yang mengetahui itu makam pahlawan nasional Cut Nyak Dhien, tapi mereka hanya mengenalnya sebagai makam Ibu Perbu. Dan baru diketahui pada tahun 1948 setelah H. Husna meninggal.

Dalam hal komunikasi dengan masyarakat setempat, Cut Nyak Dhien hanya menggunakan bahasa Arab, karena beliau tidak bisa bahasa Sunda. Hal ini lah yang menjadikan Cut Nyak Dhien sangat dekat dengan anak H. Husna bernama Siti Hodijah yang membantu menterjemahkannya ke dalam bahasa Sunda.

Rumah bekas tempat tinggal Cut Nyak Dhien berukuran 12×14 meter dan tinggi 1 meter. Kamar tidur berukuran 3×5 meter serta panjangnya 2×2 meter. Dan rumah itu dibangun seperti halnya rumah adat Aceh.

Kedekatan Cut Nyak Dhien dengan keluarga K. H. Sanusi juga terlihat jelas hingga sekarang. Makam pahlawan nasional itu berada diantara makam-makam keluarga yang merawat dan menjaga tokoh kebanggaan orang Aceh tersebut.

Ketika ditanyai apakah ada honor atau gaji khusus dari pemerintah Sumedang maupun Aceh kepada dirinya sebagai penjaga makam. Dadan mengatakan jika selama ini tidak ada yang menggajinya melainkan dia hanya mendapat dari sumbangan para pengunjung.

Selain untuk keperluan makam uang sumbangan tersebut juga digunakan untuk menggaji dua orang yang turut membantunya merawat makam, bapak Ace Sambas dan ibu Kokom yang juga pasangan suami-istri.

Terlihat jelas, pekerjaan yang dilakoni Pak Dadan hanya berlandaskan keikhlasan untuk menjaga makam leluhur yang telah berjasa membela negara dan agama Allah serta sebagai wujud kepedulian pada sejarah bangsa ini.

Dia juga berpesan kepada Pemerintah Aceh untuk memberikan perhatian yang lebih kepada situs-situs sejarah tokoh-tokoh pejuang serambI Mekkah yang kini berada di luar Aceh.

Pak Dadan juga bersedia jika Gubernur Aceh mengundangnya ke Aceh untuk menyampaikan seluk-beluk sejarah Cut Nyak Dhien di Sumedang, sehingga nantinya kebenaran sejarah tokoh Aceh yang dimakamkan di tanah Sunda itu akan tetap terjaga.

Setelah hampir satu jam berziarah ke makam leluhur kami. Saya bersama Deni pun pamit kepada Pak Dadan sebagai juru kunci makan untuk melanjutkan perjalanan.

Setelah prosesi ritual memanjatkan doa selesai, Pak Dadan menyuguhkan kopi pahit kepada kami. Minum kopi merupakan sebuah tradisi dari warga setempat, apalagi jika datang dari Aceh. Jika tamu ingin minum kopi manis, maka tuan rumah akan menyediakannya di sebuah gelas tersendiri. Namun, tradisi disana disuguhkan kopi pahit kepada tamu.

Tujuan kami selanjutnya adalah Museum Geusan Ulun yang berada di Komplek perkantoran Pemerintah Kabupaten Sumedang. Setelah menempuh perjalanan selama 15 menit kami pun tiba di museum tersebut. Di sana kami melihat sejumlah situs-situs peninggalan daerah tersebut seperti foto-foto para Bupati Sumedang terdahulu dan alat-alat kesenian daerah.

Ketika memasuki ruang belakang museum ternyata di sana terdapat beberapa lukisan dan foto-foto Cut Nyak Dhien, termasuk foto Cut Nyak Dhien sedang duduk di teras rumah tempat tinggalnya di Sumedang.

Selain itu juga ada beberapa baju-baju dan selendang peninggalan Cut Nyak Dhien yang tersimpan rapi di dalam lemari museum peninggalan tokoh-tokoh masyarakat Sumedang itu.

Cut Nyak Dhien sudah menjadi bagian dari masyarakat di sini, makanya di museum juga tersimpan barang-barang peninggalan beliau. Hal yang sama juga diungkapkan Kang Pupung, seniman kesenian tradisonal tarawangsa beberapabulan yang saya temui di desa Rancakalong Sumudeang. Menurutnya makam Cut Nyak Dhien merupakan simbol kedekatan masyarakat Sumedang dengan masyarakat Aceh.

Setelah mengunjungi museum dan makan siang bersama. Saya bersama teman-teman kembali ke Kota Kembang Bandung untuk melanjutkan perjalanan kembali ke daerah. Sumedang telah menyimpan banyak pesona kekaguman pada sosok kepahlawanan Cut Nyak Dhien yang ternyata tidak hanya dikagumi dan diangungkan oleh masyarakat Aceh, tapi juga menjadi panutan bagi masyarakat Sumedang Jawa Barat hingga dijuluki sebagai “Ibu Perbu”.

 

*Qusthalani, Guru di SMAN 1 Matangkuli Aceh Utara. Putra Aceh yang pernah mengunjungi leluhur makam Cut Nyak Dhien di Sumedang

Referensi

http://writingthon.bitread.id/blog/2020/01/writingthon-jelajahi-sumedanghttps://wisatalengkap.com/tempat-wisata-di-sumedang/

https://www.gotravelly.com/blog/tempat-wisata-di-sumedang/

http://malaspulang.com/woww-10-tempat-wisata-di-sumedang-yang-wajib-kamu-kunjungi/amp/

https://wisatapro.com/tempat-wisata-di-sumedang/

About Redaksi

Check Also

Pendidikan “Boh Pingkoe”

JurnalPase.Com. Ibarat Boh kayee pingkoe, dum ek hayeu ta olah tetap han reumbang, krn boh …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *