Home / Opini / Tradisi Meugang Di Nanggroe Bertuah

Tradisi Meugang Di Nanggroe Bertuah

Kondisi Pasar di Hari Meugang. Foto. Pegi-pegi,com

Oleh: Qusthalani*

Aceh merupakan salah satu provinsi di ujung Sumatera dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Daerah yang memiliki gelar negeri Serambi Mekkah ini, memiliki beragam adat istiadat dan kebudayaan yang unik. Keberagaman budaya tersebut mulai dari Acara melahirkan, perkawinan, sosial masyarakat sampai dengan kematian. Semua tradisi ini tetap dipelihara oleh segenap masyarakat Aceh mulai dari kalangan bawah sampai dengan pemangku kebijakan, maka tak salah ketika Aceh disebut negeri kaya akan adat istiadat dan budaya.

Lalu bagaimana dengan tradisi sosial masyarakat Aceh ketika akan menghadapi puasa Ramadhan.

Aceh tak ketinggalan akan hal ini. Untuk menyambut bulan suci Ramadhan yang agung, masyarakat bertuah ini memiliki tradisi unik dan sangat bermanfaat bagi warganya, disebut dengan Meugang.

Apa itu meugang ?

Konon katanya meugang ini sudah ada dari zaman Kesultanan Aceh tempo dulu.  Menurut pemerhati adat budaya Aceh, Tarmizi A Hamid, masyarakat Aceh selalu memperingati meugang dengan gembira. Biasanya dilakukan selama dua hari menjelang Ramadan. Warga sering menyebutnya sebagai meugang ubit (kecil) di hari pertama, dan meugang rayeuk (besar) pada satu hari menjelang Ramadan, maupun hari raya. Sehingga jangan heran, warga di Aceh berbondong-bondong memenuhi berbagai lapak penjual daging baik di pasar maupun di lapak yang telah disediakan oleh Pemda setempat.

Selain itu, Tgk Badruzzaman, menjelaskan menurut sejarah tradisi meugang sudah diperingati pada masa Kerajaan Aceh Darussalam dipimpin Sultan Iskandar Muda yang berkuasa dalam periode tahun 1607-1636. Tradisi ini tercatat dalam Qanun Meukuta Alam Al Asyi atau Undang-Undang Kesultanan Aceh.

Dalam aturan tersebut itu, meugang juga disebut madmeugang, dengan kata lain meuramien (makan bersama) menjelang Ramadan maupun Idul Fitri, dan Idul Adha. Bunyi aturan meugang dalam Qanun Meukuta Alam tercantum pada Bab II, pasal 47, dengan bunyi sebagai berikut:

“Sultan Aceh secara turun temurun memerintahkan Qadi Mua’zzam Khazanah Balai Silatur Rahmi, untuk mengambil dirham, kain-kain, kerbau dan sapi dipotong di hari madmeugang. Maka dibagi-bagikan daging kepada fakir miskin, dhuafa, orang lasa, buta, yaitu pada setiap-tiap satu orang meliputi; daging, uang lima mas dan dapat kain enam hasta. Maka pada sekalian yang tersebut diserahkan kepada keuchik-nya masing-masing gampong daerahnya. Sebab sekalian semua mereka tersebut itu hidup melarat lagi tiada mampu membelikannya, maka itulah sebab Sultan Aceh memberi tolongnya kepada rakyat yang selalu dicintai.”

Badruzzaman menjelaskan perintah merayakan meugang awalnya dimaklumatkan sultan kepada keuchik (kepala desa) untuk mendata warga miskin. Daging kemudian dibagikan secara gratis kepada mereka, sebagai wujud kemakmuran.

Lain dulu, lain lagi sekarang. Kalau dulu Sultan memerintahkan kepada keuchik untuk melihat warga miskin, kemudian dipotong beberapa lembu dan dibagikan, dengan tujuan warga miskin dapat menikmati daging walau setahun tiga kali. Warganya dapat memasuki bulan suci ramadhan dengan suka cita dan beribadah dengan khusuk.

Nah sekarang, kita melihat kondisi miris di beberapa pelosok nanggroe bertuah ini. Anak-anak yatim, kaum dhuafa harus meringis dan mengeluarkan air mata ketika melihat tetangganya, temannya menikmati masakan lezat dari daging meugang itu. Hanya beberapa dari pemangku kebijakan, warga sekitar yang peka dengan kondisi tersebut. Sungguh miris.

Kala dulu di pedesaan yang adatnya masih kuat, orang tua akan melarang anak-anaknya bermain ke rumah tetangga atau sekolah pada hari meugang. Mereka wajib makan di rumah, karena begitulah cara merayakannya.  Lalu, bagaimana yang terkadang membeli beras saja mereka kesusahan.

Lain lagi dengan adat pengantin baru. Dulunya, pengantin laki-laki mempunyai kebanggan sendiri jika membawa pulang kepala sapi dan kerbau ke rumah mertua saat merayakan meugang.

Nah ketika harga daging sapi dihari meugang meroket tinggi, maka pengantin baru sekarang akan menjadi malu dan merasa tersisih dalam keluarganya sendiri.

Nilai-nilai sosial sudah mulai bergeser dari meugang di Aceh. Dulu pasar tidak mengambil laba banyak saat tradisi meugang, nilai sosialnya lebih tinggi, sekarang nilai ekonominya yang lebih banyak.

Belum selesai dengan harga daging yang membumbung tinggi, diperparah lagi dengan kondisi pandemi Covid-19. Wabah ini telah merongrong berbagai elemen kehidupan masyarakat, mulai dari ekonomi, sosial, sampai dengan ibadahpun dibatasi. Kondisi ekonomi warga diambang batas kritis ini, menjadikan beban tersendiri ketika meugang ada di pelupuk mata. Namun, suka tidak suka, mau tidak mau, Meugang adalah tradisi sakral di Aceh yang harus dilaksanakan sebelum Ramadan, Idul Fitri dan Idul Adha.

Tradisi meugang memang unik dan harus dipertahankan. Namun kembalikan tradisi ini ke fitrahnya, seperti awal mula diperintahkan zaman kesultanan Aceh. Seyogyanya, meugang membantu warga miskin bukan malah menjadi beban dan mengurai air mata mereka. Semoga.

*Qusthalani, S.Pd.,M.Pd. Ketua IGI Kabupaten Aceh Utara

About Redaksi

Check Also

Pendidikan “Boh Pingkoe”

JurnalPase.Com. Ibarat Boh kayee pingkoe, dum ek hayeu ta olah tetap han reumbang, krn boh …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *