Tiga Sosok yang Hilang
Karya : Tia Amelia
Siswa SMPN 2 Dewantara
Jurnalpase.com|cerpen : Syabir adalah seorang kepala keluarga yang memiliki seorang istri dan tiga orang anak. Istrinya bernama Kamsah, putra pertamanya bernama Zabir, yang keduabernama Ziharra, dan si bungsu Zaharra. Namun mereka harus berpisah di malam yang baik yaitu malam bulan puasa.
Ketika malam itu Zaharra sebagai anak terkecil Syabir dan Kamsah,membangunkan bundanya untuk sahur seperti lima malam yang sudah berlalu. Namun belum sampai Zaharra ketempat tujuannya, ia melihat bundanya sudah bangun dan sedang duduk di meja makan. Zaharra menghampiri ibunya yang sedang menangis dengan memegang sebuah piring yang indah. Piring itu adalah piring yang sering digunakan oleh ayahnya untuk makan. Zahara bingung. Sebenarnya apa yang terjadi dan mengapa bunda menangis tidak seperti biasanya, dan mengapa kakak dan abangnya belum bangun untuk sahur bersama. Apakah mereka tidak tidak berpuasa esok hari, tanya Zaharra dalam hatinya. Rasa ingin tahu itu mendorong Zaharra untuk bertanya pada ibunya.
“Bunda, kenapa bunda nangis?”
“Kenapa ayah, kak Ziharra dan bang Zabir nggak bangun sahur, bun?”, tanya Zaharra serius.
Bunda tercekat, suaranya tertahan di tenggorokan. Perlahan bunda menenangkan diri sambil mengumpulkan kekuatan untuk menjawab pertanyaan bungsunya.
“Wahai Zaharra anakku, ayah, kak Ziharra, dan bang Zabir sudah pergi mencari uang untuk Zaharra. Karena Zaharra masih kecil jadi Zaharra tidak bisa ikut. Nanti kalau Zaharra sudah besar, bunda akan ajak Zaharra untuk bertemu mereka.”
Zahara mengangguk-angguk seolah mengerti. Gadis empat tahun itupun tidak bertanya lagi.
“Ya udah. Kita sahur berdua aja ya, bun”, sahut Zaharra.
Bunda tersenyum, lalu mengambil piring dan menyendok nasi untuk Zaharra dan dirinya. Meskipun Zaharra masih kecil tetapi ia ingin belajar berpuasa sampai magrib. Zaharra ingat kata ayah dan bundanya kalau bukan sejak kecil kita belajar berpuasa, maka ketika besar tidak ada jalan untuk bisa berpuasa. Kata-kata itu kelak yang menguatkan Zaharra berpuasa sebulan penuh.
Selesai menyantap sahur bunda dan Zaharra menunggu waktu shalat subuh. Azanpun berkumandang, dan mereka berdua melaksanakan shalat berjamaah. Bunda sebagai imam, dan Zaharra menjadi makmum. Selesai shalat, bunda melanjutkan berdoa.
“Bunda…”, lirih Zahara memanggil
Bunda menghentikan doanya, berbalik menghadap putrinya yang duduk bersimpuh di belakangnya.
“Iya, Zaharra. Ada apa anakku sayang?
“Zahara belum puas dengan jawaban bunda…”, jawab Zahara to the point.
“Apa karena Zaharra mau masuk sekolah…, makanya ayah, kak Ziharra dan bang Zabir harus kerja banting tulang, Bunda? Siang malam mereka bekerja untuk Zaharra. Apa itu memang mereka lakukan untuk Zaharra, Bunda?”, berondong Zahara.
“Nak…, tidak ada salahnya kan ayah, kakak dan abang itu bekerja untuk Zaharra? Biar Zaharra bisa sekolah dan nantinya Zaharra bisa cerdas, dan Zaharra bisa mengangkat harkat, martabat dan harga diri keluarga kita. Zaharra anakku, sekarang ada yang Zaharra tanyakan lagi? Coba Zaharra tanya biar Zaharra tidak berfikir yang tidak-tidak, karena itu akan membawa kita ke jalan yang tidak baik. Memangnya Zahara mau seperti itu? Kalau bunda sih, nggak mau. Tetapi itu bisa kita ubah dengan cara bertanya jika itu masih membingungkan Zaharra”, jawab bundanya masygul.
“Bunda, emangnya kita bisa bertemu dengan ayah, kakak dan abang lagi? Apakah itu akan terjadi?”, gadis kecil masih belum puas.
“Iya, sayang. Kita akan bertemu dengan orang yang kita cintai nanti di syurga, yang tempatnya sangat indah, bahkan tidak ada tempat di dunia ini seindah syurga. Kita hidup di dunia ini hanyalah untuk sebentar saja. Maka kita tidak perlu membanggakan diri karena kita ini ibarat kapas yang sebentar diterbangkan oleh angin, dan kelak akan jatuh ke tanah kembali.”
“Nah, sekarang Zaharra sudah pahamkan? Bunda sudah menjelaskan sedetil-detilnya. Bunda harap Zaharra tidak berfikir yang jelek-jelek lagi, ya?”
Bunda berusaha tegar, namun sebenarnya hatinya telah remuk seremuk-remuknya. Pikirannya kalut, dia hampir tak dapat menghadapi hari esok seandainya tak ada Zaharra.
“Oh ya, bunda dari dulu belum dikasih tahu sama Zaharra, apa sih cita-cita anak bunda ini?”, lanjut bunda.
Zaharra tersenyum. Dan bunda dapat melihat senyuman itu dalam cahaya remang bohlam.
“Biarlah Zaharra aja yang tahu. Kelak bundapun akan tahu kok,” jawabnya.
“Jangan-jangan…, Zaharra mau jadi tukang sapu halaman rumah orang, ya? Makanya kamu merahasiakan”, goda bunda.
“Ah, bunda”, rajuk Zaharra sambil menyandarkan tubuhnya ke legan bundanya. Rajukan manja.
&&&&&&&
Matahari sudah muncul dari persembunyiannya, pertanda bunda harus pergi mencari nafkah. Bunda harus bekerja banting tulang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan Zaharra sejak suami dan dua orang anaknya meninggalkan mereka. Bahkan bunda tidak tahu bagaimana nasib mereka sekarang, apakah mereka masih hidup atau sudah tiada.
Sejak mereka pergi, bunda harus bekerja sebagai pembantu rumah tangga di kota. Upahnya lumayanlah untuk memenuhi kebutuhan mereka berdua. Bagi orang lain mungkin uang sejuta rupiah tidak berarti apa-apa, namun bunda bersyukur karena setiap rezeki itu sudah ada yang mengatur. Bunda percaya bahwa dengan bersyukur maka kita akan selalu merasa cukup.
Tetapi masalahnya tidak berhenti sampai di situ. Majikan bunda tidak membolehkannya membawa anakke tempat kerja. Untung saja ada Bu lusi, tetangga mereka yang dengan suka rela menawarkan diri untuk dititipi Zaharra di rumahnya. Bu Lusi tinggal seorang diri di rumah besarnya setelah suaminya meninggal. Dan tetangganya itu tidak memiliki seorang anakpun, sehingga ia dengan senang hati menjaga dan merawat Zaharra. Jadi bunda tidak perlu membayar sepeserpun kepadanya meskipun ia telah menjaga Zaharra seharian penuh. Lagipula Bu Lusi itu terbilang kaya. Sesekali Zaharra dan bunda diajak jalan-jalan ke luar kota olehnya. Bu Lusi telah menganggap bunda seperti saudaranya, dan Zaharra seperti anaknya sendiri.
Hari demi hari terus berlalu, tahunpun berganti. Kini Zaharra sudah berusia lima tahun, saatnya gadis lincah itu masuk TK. Bunda jauh-jauh hari telah menabung untuk keperluan sekolah putri semata wayangnya. Sekolahnya tidak jauh dari tempat tinggalnya, TK BABUN NAJAH. Karena sekolahnya dekat, jadi Zaharra tidak mau diantar oleh bunda ke sekolah. Ia berkeras untuk berangkat dan pulang sendiri.
“Zaharra udah besar, bunda. Bunda fokus aja kerja, jangan pikirin Zaharra. Ciuuss…”, kata Zaharra sambil mengacungkan dua jari tangannya ke udara. Mata Zaharra terbuka penuh untuk meyakinkan bundanya. Bola matanya yang hitam jernih terlihat jelas dari matanya yang bulat. Sorot mata itu mencerminkan keteguhan hatinya.
“Tapi teman-teman Zaharra semua diantar oleh orang tuanya. Masak Zaharra berangkat sendiri?”, pangkas bunda.
“Gini lho, bun. Pagi kita bisa berangkat bareng, itupun kalau bunda maksa. Tapi bunda nggak perlu jemput Zaharra, agar waktu kerja bunda bisa lebih lama. Kalau bunda asyik keluar-keluar nanti gaji bunda dipotong sama bos bunda. Mau bunda gajinya dipotong? Nggak kan…?”, Zaharra berargumen panjang lebar.
“Dasar Zaharra, pintar sekali dia berteori, persis ayahnya”, batin bunda. Otaknya memang encer. Baru masuk TK saja Zaharra sudah bisa membaca dan mengaji. Sewaktu abang Zabir masih ada Zaharra selalu minta diajari membaca dan mengaji Iqra’. Hasilnya Zaharra paling maju diantara teman-teman sebayanya.
“Baiklah kalau Zaharra maksa, bunda setuju. Nanti bunda minta tolong bu Lusi untuk dititipin Zaharra di rumahnya”.
“Ihh, bunda. Memangnya Zaharra barang, pake bilang dititipin segala … ”, rajuk gadis kecil itu sambil merengut.
Bunda tersenyum dan mengacak-acak rambut panjang Zaharra yang dikuncir. Tetapi bunda tahu kalau Zaharra setuju dengan usul bunda. Semoga bu Lusi bisa membantu. Lagian masuk sekolahnya masih dua minggu lagi.
Hari ini tepat setahun setelah kepergian ayah, abang Zabir dan kak Ziharra dalam kehidupan Zaharra. Tetapi bukannya Zaharra melupakan mereka,malah ia semakin rindu terhadap ketiga sosok yang hilang itu. Zaharra terus mengenang kebersamaan mereka. Dulu, setiap sore hari abang Zabir membonceng Zaharra naik sepeda di jalan kecil di tepi tambak, meskipun Zaharra harus merengek-rengek agar abangnya mau memboncengnya. Kini setiap Zaharra melihat bekas luka di lututnya ia pasti ingat abang Zabir, karena bekas luka itu akibat ia terjatuh dari boncengan abangnya. Setiap mengenang kejadian itu air mata Zaharra menetes menahan rindu.
Malam ini malam terakhir puasa. Zaharra terbangun oleh suara alarm dari nokia jadul milik bunda. Gadis kecil itu segera bangkit dari tidurnya dan melangkah gontai ke dapur menemui bunda. Tahun-tahun lalu yang membangunkan Zaharra adalah kak Ziharra. Kakaknya suka menggelitik telapak kaki Zaharra sampai ia benar-benar bangun walaupun adiknya menangis dan marah-marah. Zaharra sebal dengan perlakuan kakaknya waktu itu, tetapi sekarang dia berharap agar kakaknya muncul untuk menggelitik kakinya. Tetapi semua itu hanya sebatas impian belaka. Dan mimpi itu tak akan pernah menjadi nyata.
“Eeh, anak bunda udah bangun”, sambut bunda sambil menyeduh teh dalam gelas.
“Ayo cuci muka, biar kita sahur bareng”, lanjut bunda.
Zaharra berjalan gontai menuju sumur. Ia menciduk air dengan gayung untuk membasuh muka dan kumur-kumur. Bunda tidak perlu menemaninya karena sumur itu berada di dalam rumah.
“Bunda…, kapan ayah, kak Ziharra, dan abang Zahir pulang?”, tanya Zaharra setelah mereka selesai sahur.
“Apa besok mereka pulang, bun? Zaharra kangeeeen sekali. Zahara ingin mereka bersama kita lagi. Mereka nggak perlu cari uang untuk Zaharra, Zaharra nggak butuh uang. Apalagi mereka pergi jauuuh sekali, bahkan untuk ditelpon nggak bisa.”
Bunda menuntun Zaharra duduk di kursi, menggenggam kedua tangannya dan diletakkan di pangkuan bunda.
“Zaharra…, dengar bunda. Bunda juga kengeen sekali pada mereka bertiga. Tetapi kalau bunda kangen, bunda selalu berdoa agar mereka baik-baik di sana. Bunda berdoa agar nanti kita bertemu dalam keadaan sehat dan bahagia. Kalau Zaharra kangen, sebaiknya Zaharra juga berdoa untuk mereka, terus Zaharra mengaji biar mereka bisa mendengar suara Zaharra yang merdu.”
“Mereka juga pasti kangen sama Zaharra. Tetapi mereka kan lagi bekerja biar dapat uang yang baaanyaaak sekali untuk Zaharra. Biar Zaharra nanti bisa masuk ke universitas yang hebat. Karena itulah ayah, bang zabir, dan kak Ziharra nggak bisa pulang dan nggak bisa bersama kita pada hari lebaran besok. Bunda harap Zaharra nggak sedih. Kalau di dunia kita nggak bisa bersama, semoga Allah akan mempertemukan kita nanti di sebuah tempat yang indah. Tempat itu adalah sebuah tempat yang sangat dirindukan oleh setiap manusia yang baik dan taat kepada Allah. Dan ketikakita bertemu di sana makanggak akan ada perpisahan di antara kita lagi. Kita akan selamanya bersama ayah, bang Zabir dan kak Ziharra yang kita cintai dan sayangi. Namun bunda dan Zaharra harus sabar menunggu kapan tibanya waktu itu ”, terang bunda dengan lembut.
Bulir-bulir air mengembang dari kedua mata bunda. Suaranya parau menahan perihnya cobaan hidup yang coba dirahasiakan dari putri kecilnya. Zaharra sempat melihat itu, tetapi bunda segera menghapusnya dan berpura-pura tersenyum. Bunda membelai rambut Zaharra dengan lembut, kemudian merengkuh tubuh Zaharra ke dalam pelukannya. Zahara bisa merasakan kehangatan pelukan bunda dan tubuhnya yang harum. Namun Zaharra tidak tahu kalau kesedihan dan penderitaan bunda lebih berat dari apa yang dia rasakan.
@@@@@
Allaahu akbar… Allaahu akbar … Allaahu akbar. Laa ilaha illallahuwaallaahu akbar. Allaahu akbar walillahil hamd. Suara takbir berkumandang dari segala penjuru. Hati-hati buncah dengan rasa bahagia. Puasa sebulan penuh telah dijalani, tiba hari ini umat muslim merayakan hari yang fitri. Tak terkecuali Zaharra dan bundanya. Zaharra yang sudah bangun dari subuh tadi, sudah siap dengan baju baru dan mukena barunya. Setelah sarapan Zaharra dan bundanya berangkat ke mesjid untuk melaksanakan shalat id. Mereka berangkat lebih cepat karena mereka hanya berjalan kaki. Lagipula mereka ingin shalat dengan khusyuk tanpa terburu-buru.
Zahara senang sekali meskipun mereka tidak shalat di dalam mesjid, tetapi ia dan bundanya bisa berdiri di shaf paling depan.
“Senang ya bun, bisa berdiri di depan. Tapi dulu ada kak Ziharra di samping Zaharra, sekarang nggak ada. Ayah dan bang Zabir juga nggak ada”, kata Zaharra setengah bergumam.
“Sekarangpun kak Ziharra ada di sini, kok. Cuma kita tidak bisa melihatnya. Ayah dan bang Zabir juga ada. Zahara jangan sedih ya, kan ada bunda yang selalu menemani Zaharra”, jawab bunda pelan sambil tersenyum dan mencium kepala anaknya.
Takbir masih terus berkumandang, dan jemaah mulai ramai berdatangan. Seperti biasanya, sebelum shalat ied bunda melaksanakan shalat tahiyatul masjid. Zaharra juga ikut berdiri dan shalat seperti bundanya. Zaharra sudah tahu bagaimana prosesinya karena sejak dua hari yang lalu sudah diajari oleh bunda lengkap dengan prakteknya. Kemudian seluruh jamaah melaksanakan shalat idul fitri dan dilanjutkan dengan mendengarkan khutbah hari raya. Zaharra tidak tahu apa isi khutbahnya karena dia sibuk memperhatikananak-anak seusianya bermain-maindi halaman mesjid. Mereka semua memakai baju baru, sendal atau sepatu baru, sama seperti dirinya. Ada anak-anak kecil yang berjalan, naik turun tangga mesjid, dan sesekali bercengkrama dengan saudara mereka. Gembira sekali mereka semua, tidak seperti dirinya. Zaharra bahkan tidak bisa betemu dengan saudara-saudaranya. Entah dimana mereka sekarang.
Setali tiga uang dengan putrinya, bundapun merasakan pilu yang mendalam. Lebaran ini adalah lebaran pertama yang dilalui tanpa suami dan kedua anaknya. Harapan untuk bertemu dengan mereka adalah mustahil untuk terwujud. Bunda meyakini bahwa mereka telah tiada di dunia ini. Meskipun bunda selalu menenangkan Zaharra kalau dia bertanya tentang mereka, tetapi untuk membohongi dirinya sendiri manalah mungkin. Lihat saja, meski bunda berusaha sekuat tenaga untuk tidak bersedih, tetapi isak tangisnya tak dapat disembunyikan dari putrinya.
“Bunda. Kok bunda nangis?”
Zaharra yang sedang terbawa perasaannya sendiri terheran-heran menemukan bundanya tersedu sedan sambil menundukkan kepala. Bunda cepat-cepat menghapus airmata dengan kedua tangannya yang terbalut mukena putih berendanya.
“Ah…, bunda… bunda nggak nangis kok, sayang”, gagapnya.
“Bunda cuma terharu mendengarkan ustad membaca doa. Indaaah sekali bacaannya.”
“Oh…, kirain”, jawab Zaharra.
Selesai shalat ied ibu dan anak itu saling bersalaman. Mereka juga bersalam-salaman dengan jemaah lainnya baik yang mereka kenal maupun yang tidak. Kata bunda bersalaman itu adalah salah satu bentuk silaturahmi, bukan semata-mata untuk meminta maaf. Dan silaturrahmi akan memperpanjang umur kita.
“Minal aidin wal faidhin. Mohon maaf lahir dan batin ya, kak Lusi”, kata bunda sambil memeluk tetangganya.
“Ya. Minal aidin wal faidhin. Maafin saya juga ya, Kamsah…”, jawab bu Lusi sambil memeluk bunda.
“Oh, ya. Lebaran ke empat saya mau pulang ke Langsa. Apa kalian berdua mau ikut? Kalian tidak ada rencana ke tempat lain kan?”, sambung bu Lusi.
Belum sempat bunda menjawab, bu Lusi melanjutkan.
“Kalau kalian ikut, nanti kita bisa jalan-jalan ke kebun binatang, atau ke hutan bakau, atau kemana aja yang Zaharra mau. Oh… ke waterboom…. Gimana? Zahara mau kan ?”
“Ya, ya! Zahara mau!”, teriak Zaharra kegirangan.
“ Tapi, … bunda ikut ya?”, rengeknya pada bundanya.
“Insyaallah, bunda ikut”, jawab bunda.
“Tapi apa tidak merepotkan, kak?”, tanya bunda pada bu Lusi.
“Ah, kamu ini…. Ya nggaklah. Eh, yuk kita pulang.”
Akhirnya mereka meninggalkan halaman mesjid, pulang ke rumah masing-masing.
Tibalah hari yang ditunggu-tunggu oleh Zaharra. Ia senang sekali karena ia akan diajak jalan-jalan oleh tetangganya ke tempat yang jauh. Telah lama ia mengimpikan untuk pergi ke kebun binatang, tetapi kata bunda mereka harus punya uang juta-jutaan kalau mau ke sana. Meskipun Zaharra kecewa, tetapi dia tidak sampai hati untuk merengek pada bundanya.
“Zaharra…, ayo minum antimo-nya biar nggak mabuk nanti”, kata bunda.
“Malu kita kalau muntah. Nanti mobil bu Lusi bisa kotor dan bau.”
“Iya, bunda”, jawab Zaharra patuh.
Zaharra tidak ingin membantah apapun yang dikatakan bunda karena dia sudah tidak sabar ingin merasakan kenyamanan mobil Avanza bu Lusi dan perjalanan jauh-nya yang akan dia tempuh hari ini. Ini adalah perjalanan pertama bagi Zaharra dan bundanya setelah musibah itu. Di perjalanan Zaharra asyik melihat ke kanan dan kiri, memperhatikan lalu lalang kenderaan yang seperti sedang berlomba menuju garis finis. Tiba di sebuah kawasan industri, Zaharra terpana melihat dua pasang cerobong api yang menjunjung tinggi ke udara.
“Bunda! Lihat ada api di tiang itu! Itu kebakaran ya bunda?”, Zaharra bertanya beruntun karena panik. Bu Lusi yang duduk di samping supir memutar tubuhnya dan menoleh ke arah Zaharra dan bundanya di bangku belakang.
“Itu bukan kebakaran, Zaharra. Tapi pabrik sedang membuang gas yang kotor. Jadi untuk membuangnya harus dibakar”, jelas bu Lusi.
“Oh…, itu yang namanya pabrik?”, tanya Zaharra.
“Kalau gitu, ….”, Zahara tidak melanjutkan kalimatnya, dia terdiam.
“Kalau gitu… kenapa, nak?”, tanya bunda.
‘Mmm, …mmm…., apa mungkin … ayah, kak Ziharra dan bang Zabir kerja di pabrik itu bunda?”, tanya Zaharra lagi. Dia berharap ketiga orang itu ada di sana seperti kata bunda bahwa mereka sedang bekerja untuk mencari uang yang banyak. Seperti tetangga-tetangga Zaharra yang kerja di pabrik, katanya gajinya besar.
“Ah…, Zaharra. Mereka tidak bekerja di sini. Tetapi jauuuhh … sekali. Yang penting kita berdoa agar mereka selalu sehat, ya?”, bujuk bunda.
“Ya, deh”, jawab Zaharra tak puas.
Perjalanan menuju ke kampung halaman bu Lusi baru seperempat awal. Biasanya untuk mencapai kota itu butuh waktu hampir empat jam dalam keadaan normal. Tetapi berhubung lagi lebaran, waktu tempuh bisa lebih lama. Zaharrapun akhirnya tertidur di pangkuan bundanya, mungkin antimo yang diminumnya sudah bereaksi. Bunda memangku kepala Zaharra dan menaikkan kedua kakinya ke atas jok agar dia bisa tidur dengan nyaman. Zaharra tertidur semakin lelap dan dalam. Jiwanya melayang-layang terbang meninggalkan dirinya. Semakin jauh….
“Zaharra….zaharra….zaharra….”, terdengar suara-suara memanggilnya berulang kali.
Zaharra berusaha mencari, tetapi suara itu semakin menjauh. Zaharra berlari menyusul, berlari… dan terus berlari, jatuh-bangun. Tetapi Zaharra tidak menyerah, dia bangkit lagi dan berlari lagi sekuat tenaganya. Suara itu terus saja memanggil namanya. Akhirnya Zaharra tahu kalau itu suara ayah dan kedua saudaranya. Karena itu Zaharra terus mengejarnya. Tiba-tiba Zaharra telah tiba di kaki bukit. Ternyata di balik rimbunnya pepohonan dan semak-semak di kaki bukit itu, ada sebuah ceruk seukuran satu meteran dalamnya. Zaharra melihat dengan jelas ketiga orang yang memanggilnya memasuki ceruk itu. Dia mengikuti, tetapi ketiga orang itu menyuruhnya berhenti.
“Stop, Zaharra. Kamu jangan masuk. Kamu harus melanjutkan hidupmu.”
Zahara berhenti, tetapi hanya sebentar. Keinginannya yang sangat kuat memerintahkan kakinya terus melangkah.
“Berhenti Zahara!”, suara itu membentak. “Kamu harus sekolah sampai pintar. Kamu juga harus menemani bunda. Kamu harus pergi, Zaharra. Dunia kita berbeda.”
Zaharra tidak peduli. Dia terus melangkah menuju lubang di kaki bukit itu, tetapi sebuah kekuatan mendorongnya keluar. Zaharra jatuh bertumpukan lututnya. Sakit sekali.
“Zaharra, … pergi! Bunda memanggilmu…. Ayo pulang!”, suara yang lain membentaknya.
Zaharra bimbang. Dia tidak bisa memilih antara panggilan ibunya dan kerinduannya kepada ketiga orang yang telah lama dirindukannya. Tangan Zaharra menggapai-gapai ingin masuk dalam ceruk bukit itu agar dia bisa bersama dengan ayah dan kedua saudaranya, sementara tangan bunda berusaha sekuat tenaga meraih tubuh Zaharra. Akhirnya… bunda berteriak sekeras-kerasnya : “ZAHARRA!!! JANGAN TINGGALKAN BUNDA! BUNDA TIDAK MAU HIDUP TANPA ZAHARRA!”
Zaharra meronta-ronta…, kemudian menjerit :”AYAH…., KAK ZIHARRA…., BANG ZABIR…..JANGAN PERGI !!!!”
Bunda kaget sekali mendapati Zaharra seperti orang kerasukan, tidak terkecuali bu Lusi dan bang Lukman. Bang Lukman menepikan mobilnya tanpa disuruh, kemudian dia turun dengan sigap untuk menenangkan Zaharra. Supir andalan bu Lusi ini terkenal bisa mengobati orang kerasukan. Bu Lusi juga turun mengikuti langkah supirnya. Tetapi ternyata Zaharra bukan kerasukan, dia hanya bermimpi. Setelah beberapa saat dia kembali tenang dan membuka matanya.
“Bunda, Zaharra tadi ketemu dengan ayah, …kak Ziharra, … dan bang Zabir. …. Zaharra kejar mereka … tapi Zaharra disuruh pergi…”, gadis itu bercerita sambil terisak.
Bunda lega karena Zaharra hanya bermimpi, tetapi dia terkejut dengan apa yang diceritakan oleh putrinya. Jantungnya berdegup kencang, darahnya berdesir dan mengalir dengan cepat ke seluruh urat nadinya.
“Mereka lari terus…., Zaharra kejar sampai Zaharra jatuh-jatuh, tapi mereka tetap tinggalin Zaharra. Ayah bilang, Zaharra harus sama bunda, harus sekolah sampai pintar, dan…, dan ….”
“Dan…, dan apa …., nak?”, tanya bunda tidak sabar.
Zaharra menangis terisak-isak tidak dapat melanjutkan ceritanya.
“Ayo nak, ceritakan. Dan … apa Zaharra?”, desak bunda.
“Sudahlah Kamsah. Biarkan anakmu tenang dulu”, bujuk bu Lusi.
Bu Lusi mengambil botol air mineral di pintu mobil, lalu membuka tutupnya dan diserahkan kepada Zaharra.
“Zaharra, ayo diminum airnya, nak, biar tenaganya kembali lagi. Zaharra capek kan?”
Anak itu bangkitperlahan dibantu oleh bundanya. Kemudian dia menyambut botol air mineral dari tangan bu Lusi dan meminumnya beberapa teguk.
“Gimana…? Zaharra udah baikan sekarang?”, tanya bunda.
Zaharra mengangguk.
“Kalau begitu …, kita lanjutkan perjalanan ya?”, tanya bu Lusi.
Zaharra mengangguk lagi.
Bu Lusi naik ke mobil, bang Lukman juga. Mobil itu bergerak kembali setelah setengah jam-an berhenti. Zaharra yang sudah terjaga duduk bersandar dirangkul oleh bundanya, sambil sesekali kepalanya dibelai.
“Bunda…, masih jauh ya perjalanannya?”, tanya Zaharra ingin tahu.
“Oh…, udah dekat kok, nak. Sekitar satu jam lagi insyaallah kita sudah sampai”, bu Lusi menerangkan.
“Kenapa …? Zaharra lapar, ya?”
“Hmm…, nggak bu. Kalau udah sampai aja nanti Zaharra makannya.
Bunda mengangguk setuju. Dia percaya kalau Zaharra memang belum lapar karena tadi sebelum berangkat anaknya makan banyak.
“Bunda…, tadi dalam mimpi Zaharra, ayah bilang kalau Zaharra harus pulang. Katanya Zaharra harus temanin bunda, Dan ayah bilang kalau … dunia kita berbeda”, Zaharra melanjutkan bercerita tanpa ditanya.
Ketiga orang yang mendengarnya terperanjat, terutama bunda. Meskipun selama ini bunda berusaha menerima kenyataan apapun yang terjadi terhadap suami dan kedua anaknya, tetapi dalam hati kecilnya dia masih menunggu keajaiban. Dia masih mengharapkan mereka kembali pada suatu saat. Dia selalu mengharapkan kabar baik dari mereka, tetapi ternyata harapan itu tidak pernah akan menjadi kenyataan. Ternyata sekarang mereka telah berada di alam yang berbeda.
“Kamsah…. Kamu yang tabah, ya! Kamu harus bersabar dengan cobaan ini. Kamu harus percaya bahwa selalu ada hikmah di balik semua cobaan yang Allah berikan”, bu Lusi memberi nasehat.
“Iya, kak. Insyaallah.”
@@@@@
Setahun yang lalu, malam ke enam bulan puasa. Jam dinding sudah menunjukkan pukul dua belas lewat seperempat, tetapi Syabir belum juga bisa memejamkan matanya. Sejak beberapa hari terakhir dia sering merasa ketakutan. Pikirannya kalut mengingat ancaman demi ancaman yang diterimanya melalui telepon genggamnya. Tetapi dia menelan sendiri masalah yang sedang dihadapinya, bahkan Kamsah istrinya tidak diberitahu. Dan akhirnya, malam ini ancaman itu benar-benar terjadi. Tepat jam satu malam pintu depan digedor dengan keras. Kamsah terbangun mendengar suara ribut di luar rumah. Orang-orang memanggil-manggil nama suaminya.
“Syabir…, Syabir…, keluar kau! Keluar…! Kalau tidak kami dobrak rumahmu!”, terdengar suara bentakan beberapa lelaki dari arah depan dan samping rumah. Syabir yang telah pasrah segera bangkit untuk menjemput takdirnya. Tetapi istrinya melarang sambil memegangi kaki suaminya agar dia tidak bisa melangkah. Terjadi perdebatan antara keduanya. Kamsah menyuruh Syabir untuk melarikan diri dari pintu belakang, atau bersembunyi di atas loteng rumahnya. Tetapi suaminya menolak karena dia merasa tidak bersalah. Apapun resikonya akan dihadapi. Perdebatan mereka itu membangunkan Zabir dan Ziharra. Mereka bangun mengikuti langkah ayah bundanya ke pintu depan. Di luar orang-orang masih berteriak dan mengancam akan membakar rumah kalau Syabir melarikan diri.
Setelah pintu dibuka , dua orang laki-laki langsung mencengkram lengan Syabir di kiri dan di kanan. Beberapa orang lainnya yang bersenjata berjaga-jaga dalam jarak belasan meter. Senjata mereka diarahkan ke Syabir. Ayah tiga anak itubagaikan kambing yang tercucuk hidung, diam seribu bahasa. Dia tidak berusaha menjelaskan apapun karena tidak akan berguna. Inilah akhir takdirku malam ini, batinnya.
Sebelum pergi dia menoleh istrinya untuk terakhir kali.
“Abang pergi, Kamsah. Jaga anak-anak”, katanya datar.
Khamsah ingin melarang, tetapi urung. Seorang lelaki bersebo telah membentaknya.
“Masuk! Ini urusan laki-laki!”
Zabir dan Ziharra yang sejak tadi memeluk kaki ibunyaturut memperhatikan kejadian itu.Tetapi begitu ayahnya berjalan naik ke mobil, mereka melepaskan Kamsah dan berlari secepat kilat menyusul ayahnya. Kamsah hendak mengejar, tetapi ia didorong dengan kasar oleh laki-laki itu sampai ia terjatuh, kemudian pintu dikunci dari luar. Itulah yang terjadi pada malam naas itu. Kamsah menangis meratapi takdir yang menimpa keluarganya. Ingin minta tolong, tetapi pada siapa? Ini tengah malam, dan lagi orang-orang tidak ada yang berani berurusan dengan maut.
Perempuan itu kini benar-benar sendiri karena kedua orang tuanya sudah lama meninggal dunia. Sedangkan suaminya sendiri tidak pernah mengenal siapa orang tuanya, karena sejak kecil dia tinggal di panti asuhan. Sejak itu Kamsah tidak pernah bertemu dengan suami dan anak-anaknya. Dia sudah berusaha mencari keberadaan mereka, tetapi tidak ada titik terang. Sampai akhirnya harapannya sirna oleh mimpi yang dialami Zaharra. Dia selalu berusaha menenangkan dan menghibur Zaharra, semoga kini dia sendiri dapat tabah dan ikhlas dengan takdir yang dialami.

Jurnal Pase Media Online Pase