
SAYONARA CINTA
Oleh: Kak Marni, SMAN 2 Seuneudon Aceh Utara
Aku ingat hari itu mendapat tugas sebagai piket tentu saja harus melakukan semua pekerjaan dari mulai piring sampai harus siap menanak nasi ketika teman-temanku pulang selesai mengikuti kegiatan lomba yang diadakan di bumi perkemahan Seulawah Scoth Camp.
Sambil mencuci piring di sungai yang tak jauh dari perkemahan, sayup-sayup aku mendengar lagu yang lagi hit dikalangan Penegak. Ya lagu Cinta tak Sebatas Patok Tenda. Perlahan ku ikuti dengan lembut syair yang mendayu itu …
Berawal dari perkemahan ini
Rasa itupun hadir di hatiku…o..o..o
Menghiasi seluruh sukmaku
Cinta bersemi di bumi perkemahan
Kuikuti syair yang mendayu itu sambil terus mencuci piring di sungai yang mengalir. Tiba-tiba,
“ Wid….Widya “ ada seseorang yang memanggilku dibalik semak semak. Aku menoleh, astaga ternyata dia adalah kak Ajmir. Perasaanku tak karuan tak sadar aku merasa takut pertemuan ini diketahui orang lain.
Tanpa sadar aku sedikit keras berkata, “ ngapain kemari kamu kak Ajmir “?
“ Duh … sana pergi !”. ucapku sedikit memaksa.
“ Aku takut kak!”. kalau ketauan kamu ada disini dengan pembina lain atau ketauan sama kak Tasya pembina kami. Bisa maatiiilah kita. Wajah Widya pun pucat pasi karena ketakutan.
“Sssseeeiiiiiiitttt…. jangan heboh gitu dong. “ bujuk Ajmir.
“Kalau kamunya ribut seperti itu, sudah pasti dech ketauan kalau aku ada disini”. Dengan tatapan matanya yang tajam Ajmir menatap Widya seakanm memohon agar jangan merasa ketakutan. He e … anggukku dengan masih ketakutan.
“Gini ya Wid, kamu ngak usah takut ketauan. Saat ini semua pembina lagi mengikuti gelang ajar. Termasuk pembina kamu yang cerewet itu. Dan perkemahan sepi. Jadi kita ngak mungkin ketauan. Percaya dech Wid…”
Akupun meneruskan mencuci piring dengan ditemani kak Ajmir yang nongkrong di batu besar berada didekatku.
Tepat pukul 12.30 semua teman-teman sudah berkumpul ditenda dapur dan siap untuk makan siang bersama. Kami semua duduk melingkar termasuk juga kak Tasya. Pinsa pun memberikan aba-aba.
“Duduk siap grak ! kakak-kakak, sebelum kita mulai makan siang. Marilah kita berdoa agar makanan yang kita santap menjadi berkah. Doa mulai…”
Kamipun membaca doa Allahuma bariklana fima razaktana wakina ajabanar. “selamat makan kakak-kakak…” pinsa memberikan komando agar segera menyantap makanan yang sudah tersedia. Kamipun menjawab.
“Terimakasih kak …” tampa banyak bicara kamipun melahap makanan tampa ada yang tersisa. Selesai doa kami buruan bangkit untuk bersiap sholat zuhur berzamaah di tenda kecamatan.
Waktupun cepat berlalu, serah terima piketpun aku lakukan, agar secepatnya aku mempersiapkan diri mengikuti lomba menulis artikel. Yang temanya asal mula adanya Pramuka di Bumi Pertiwi. Cerobong sekretariatpun berbunyi.
“Salam Pramuka.. ! diumumkan kepada kakak-kakak yang mengikuti beberapa giat agar segera berkumpul di depan tenda kecamatan masing masing. Dalam hitungan 10 semua sudah siap dengan atribut lombanya.”
Cerobong terus berbunyi… “sembilan…delapan…tujuh… enam..lima …”
“ siap.! Lapor.! Kami dari gudep 24.534 siap mengikuti kegiatan.” Dengan gagah aku melapor pada bu Camat.
“Lanjutkan …!” jawab Bu Camat. Dengan cepat aku berlari ke tempat yang sudah ada di matrik kegiatan.
Ternyata keindahan hadir ditempat lomba. Kami yang perwakilan Gudep pastinya satu ruangan antara Sangga Pa dengan Sangga Pi.O..la..la ternyata aku mendapat tempat duduk dekat dengan Ajmir. Pastinya setuasi itu membuatku sangat gugup. Berbeda dengan kak Ajmir yang dengan santainya memandangku tersenyum. Perlahan dengan sedikit gemetaran akupun duduk disebelahnya.
“ Hai Wid… sapanya.”
“Hai juga jawabku.”
“Kenapa bajumu basah Wid ? Pertanyaaan kak Ajmir semakin membuatku bertambah gugup.
“ bismillah…” aku berusaha kosentrasi. Sesaat kakak dewan juri didampingi kakak-kakak dari DKC pun. Setelah pengarahan dari dewan juri, lomba artikelpun dimulai.
“Adik-adik waktunya habis dan tolong jangan lupa nama juga nama pangkalannya dicantumkan “seruan kakak dewan juri.
“Siap…!” tampa komando kami menjawab. Ya…emang gitu jawaban kami. Selalu siap dalam setuasi apapun.
“Wid tunggu !” kak Ajmir memanggilku.
“Ya kak.”jawabku malu bercampur bahagia.
“Kamu mau pulang terus ke tenda ya?” tanya kak Ajmir. “ Aku antar boleh wid ? kak Ajmir menyambung pertanyaannya sambil menyodorkan permen kiis untukku.
“ Boleh kak, tapi sampai pintu gerbang kecamatan aja ya.” Jawabku.
“Trimkasih ya…” kak Ajmir memandangku bahagia. Sambil berjalan kamipun berbincang ala anak pramuka, serasa belum lima menit. Kami sudah sampai digerbang kecamatan.
“Terima kasih kak, sampai jumpa.” Pamitku.
“Tunggu Wid.” Kak Ajmir menyodorkan sesuatu. Ya sebuah surat dengan sampul berwarna Pink.” Sampai jumpa kembali.” berlalu kak Ajmir sambil melambaikan tangan.
Sampai di kemah aku tidak langsung membuka surat yang kak Ajmir berikan. Ini bukan waktu yang tepat untuk membukannya. Kusimpan surat itu disela sela tas karelku.
Treng….treng… lomba dan bakti sosial telah selesai. Malam ini harus istirahat yang cukup untuk persiapan esok pagi. Ya… persiapan untuk penjelajahan di hutan belantara Perkemahan Selawah Scout Camp. Kegiatan yang selalu jadi pujaan bila ada perkemahan. Bersatu dengan alam dengan berbagai alang rintang yang tersedia. Pastinya merupakan tantangan tersendiri untuk kami yang berjiwa pramuka.
Tak butuh lama petugas piket membangunkan kami. Hanya dengan satu kali cerobong pengeras suara berbunyi Banggggguuuuunnnn….. hampir serentak warga bumi perkemahan mengeliat dan terbangun. Tak butuh lama juga kami mempersiapkan diri untuk sholat subuh berjamah. Pergi dan pulang juga kami tak lupa melapor di tenda kecamatan, selesai sholat waktunya senam pagi. Aku yang biasa senam tampil paling depan. Tampa diminta aku langsung melakukanya karena itu adalah hobbyku. Senam pramuka, puco-pocu sampai gema mamerepun selasai.
Saatnya sarapan pagi dan peking perlengkapan menjelajah.
Pinsa dengan gagahnya memeriksa tenda yang akan kami tinggalkan. Mungkin untuk jangka waktu 7 jam. Karena jarak tempuh kami sekitar 25 Kilo. Kemungkinan lebih. Demikian info dari Pinsa.
“Semua sudah lengkap ?” pinsa bertanya. Kamipun menjawab.
“Siap !” sambil berlari keluar dari gapura. Aku yang ditugaskan memegang kompas. Pastinya berjalan paling depan. Kamipun berjalan ke tenda kecamatan untuk melapor dan langsung kelapangan untuk persiapan pemberangkatan setiap tiem sangga yang akan menjelajah lebatnya hutan Seulawah. Setelah pelepasan oleh Ka.kwarda kamipun berjalan mengikuti rute yang sudah ada. Satu persatu pos kami lalui, dari Pos peking, menaksir, kompas, PPGD sampai arang lintang terlewati dengan sempurna. Muka yang belepotan dengan lelah yang luar biasa tetap membuat kami terus bersemangat. Sambil menyanyikan Yel-yel kamipun menuju aliran sungai untuk membersihkan diri. Alhamdulillah kami sampai kemah setelah mandi pukul 16.15. masih cukup banyak waktu untuk sholat Asyar dan istirahat untuk persiapan upacara api unggun nanti malam.
Aku berbaring bersama teman teman sanggaku, rasa lelah membuat kami satu persatu ada yang terpejam walaupun kami tau bukan saat yang tepat untuk tidur. Kutarik tas karelku, kuambil surat yang diberikan kak Ajmir untukku. Perlahan ku buka..
“Buat dirimu Widya…”
Berawal dari kutatap matamu, dan menjabat tanganmu saat berkenalan. aku merasakan geteran yang berbeda dalam relung hati ini, aku tau kamu belum tentu membalas rasa yang ada. Hingga setiap saat terbayang senyum dan wajahmu Widya. Geteran cinta ini terus membelenguku. Widya, Kurasa ku telah jatuh cinta padamu dibumi perkemahan ini.
Widya… Telah kunyatakan besarnya rasa ini padamu, aku tidak berharap kamu untuk menjawabnya sekarang. Yang pasti, Baret dan kacu yang kita kenakan bersama saaat kamu mencuci piring di sungai tempo hari menjadi saksi bisu kita. Aku ingin cinta kita erat bagai simpul mati. Yang mengikat kita sampai ajal menjemput….
Bumi Perkemahan, 15 Juni 2017
Aku yang jatuh cinta
Kulipat dengan rapi surat kak Ajmir seperti semula, entah apa yang ada dalam hatiku. Yang pasti aku merasakan getaran aneh yang lebih setelah membacanya. Kulihat arloji ditanganku. Waktu masih menunjukkan pukul 17.30. masih ada waktu untuk membalas surat kak Ajmir.
“Dariku yang di Sangga Putri…”
Kak, aku sudah tau curahan hatimu, aku juga tidak tau rasa apa yang ada dihatiku. Yang pasti akulah wanita yang bahagia saat ini. Tapi Maafkan aku kak, cintamu laksana mesteri sandi rumput, akankah sekokoh peonering yang kita ikat saat kita membutuhkannya. Kuharap kk tidak membuang cintaku ketika rasa itu hilang. Cikal ini akan terus tumbuh apabila terpupuk dengan indah…
Bumi Perkemahan , 18 Juni 2017
Widya
Malam ini adalah malam terakhir kami berada di bumi perkemahan. Esok setelah penutupan kami akan bongkar tenda dan sayonara bumi perkemahan. Pentas seni berlangsung begitu seru, berbagai seni digelar, dari menari, komedi sampai berbalas pantun. Oh ramai sekali. Tepuk tangan setiap saat bergemuruh memecah heningnya pegunungan Seulawah. Sama dengan apa yang aku rasakan saat ini.
aku kurang kosentrasi dalam menikmati pentas seni, aku berharap seseorang muncul dibatas tali ini. Tiba2….
“Wid…Widya.” aku kenal dengan suara itu,. Ya suara kak Ajmir yang seperti kuharapkan. Aku menoleh…
“widya, kamu sudah membaca suratku.” Kak Ajmir bertanya.
“Sudah kak, jawabku.”
“ Ambilah ini kak, Sebagai balasan rasaku.” Setelah kak ajmir menerima suratku. Tiba2 dia menghilang, entah kemana. Mungkin dia segera membacanya. Belum sempat aku berpikir lebih dalam. Kak Ajmir sudah muncul kembali dibatas tali.
“widya… ambilah.” Kak Ajmir menyodorkan satu bungkusan yang terbalut rapi. Aku menerimanya dengan hati berbunga-bunga. Pentas seni usai dan api unggunpun dimulai. Semua mengikuti persepsi api unggun dengan hikmat. Api unggun terus membara membumbung tinggi begitu indah. Membara dan seindah perasaanku saat ini.
Hening sudah bumi perkemahan. Pastinya warga yang ada sudah tertidur pulas. Aktifitas seharian yang membutuhkan tenaga super membuat warga perkemahan tak berdaya menahan ngantuk dan lelah.
Pagi yang cerah, setelah melaksanakan sholat subuh, senam dan sarapan pagi. Kamipun bersiap diri untuk mengikuti upacara penutupan. Semua lengkap. Dan kami menuju lapangan upacara. Kata2 haru yang disampaikan oleh Ka.Kwarda atas suksesnya perkemahan Giat prestasi. Membuat warga perkemahan bertepuk tangan. Upacara penutupan berakhir dengan doa. Pengumuman sang juarapun dibacakan satu persatu. Pangkalan kami juga tidak ketinggalan mengondol beberapa piala dan salah satunya lomba menulis artikel.
Dengan cepat kami bongkar tenda dan mempeking semua perkelangkapan yang kami bawa. Mobil jemputanpun sudah menanti kami. Akupun izin pada pinsa untuk ke sangga pa. Pinsa mengizinkan dan akupun tak menyia nyiakan untuk bertemu kak Ajmir. Memberikan bungkusan yang kubungkus tadi malam. Hanya sebuah kacu tanda kenangan yang kuberikan.
Semua perlengkapan sudah naik di truk angkutan. Satu persatu kamipun naik hingga terakhir pinsa diikuti oleh kak Tasya pembina kami. Semua teman teman di bumi perkemahan melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan. akupunpun membalasnya dengan mengucapkan
“Sayonara Cinta …”
Jurnal Pase Media Online Pase