Home / Inspirasi / SANG JENDERAL SEKOLAH

SANG JENDERAL SEKOLAH

Oleh

Fitriadi, S.Pd.I, M.Pd

jurnalpase.com|insprasi :

Panglima Para Jenderal
Jam masih menunjukan pukul 06.00 Wib, ketika sebagian manusia masih terlelap dalam mimpi indahnya, sesosok manusia tegar telah hadir ke sekolah di pagi dingin yang masih menusuk tulang. Dengan gagahnya menarik pintu pagar yang malam itu lupa dikunci oleh penjaga sekolah. Aku yang dari azan shubuh tadi sudah terbangun dan siap dengan seragam kebanggaan, melihat lewat celah jendela. Ternyata ada mobil yang sudah terparkir tepat dipintu kantor sekolah, tetapi tidak terlihat dimana pemiliknya. Tiba-tiba pintu kantor berbunyi perlahan, pertanda seseorang sedang masuk ke dalam. Tidak beberapa lama pinger print yang terpasang diruang guru bersuara serak,,,, terima kasih!!!!. Aku yang masih diruang kurikulum merasa yakin, pasti kepala sekolah sudah datang menyambut pagi senin ini dengan semangat yang luar biasa.

Tanpa komando langsung aku membuka pintu, menyambut dengan senyum sang “panglima” yang sudah tepat berada di depan pintu ruang kurikulum, sebenarnya dalam hati aku berguma, ini orang kok cepat sekali datang ke sekolah!!, belum sempat aku melamun lebih lama, langsung sang panglima berucap, hari ini siapa yang bertugas melaksanakan upacara bendera?. Kelas X- Akuntansi jawabku tegas. Apakah mereka sudah mempersiapkan diri pada hari sabtu kemaren, lanjutnya. Sudah be!!! jawabku penuh yakin. Di sekolahku semua guru dan siswa memanggil kepala sekolah dengan sebutan “BABE” entah darimana asal usul nama tersebut, setahuku beliau bukan orang Aceh tetapi orang Betawi yang merantau ke Aceh. Mungkin saja karena berasal dari betawi maka nama babe dijadikan nama panggilan sehari-hari oleh guru, siswa dan masyarakat umumnya. Padahal dari tanda pengenal yang melekat dibajunya jelas tertulis namanya “NURDIN”

Upacara hari senin itu berjalan tertib, tanpa ada hambatan apa-apa. Pembina upacara pagi itu guru paling senior di sekolahku. Nasehat dipagi itu, sungguh sangat bermakna bagi para siswa-siswi. Jam sudah menunjukan pukul 09.00 wib, tiba-tiba handy talky (HT) yang terletak dimejaku berbunyi, dari ujung sana seseorang memanggilku, untuk segera masuk ke ruangnya, suara itu tidak asing bagiku, itulah suara sang “panglima”. Tanpa pikir panjang, setelah memastikan data di laptop ku sudah tersimpan dengan aman, segera aku bergegas menuju ruang babe.

Tanpa panjang mukadimah, apalagi bersenda gurau, “panglima” langsung membuka tema diskusi. Kita untuk menjadikan sekolah ini, sebuah sekolah yang unggul. Maka semua kita harus berkomitmen membangun, kita harus membangun sumber daya manusia yang handal dan berkompeten dan ini adalah tantangan bagi kita seorang guru, kalau membangun fisik atau gedung, itu adalah hal yang sangat gampang kalau kita memiliki anggaran. Tetapi membangun sumber daya manusia adalah hal yang paling sulit dan tidak semua orang memikirkannya. Aku yang serius mendengar penjelasan tersebut, masih termanggut manggut, perlahan aku cerna dengan berbagai analisis dan logika. Ternyata apa yang disampaikan sangat tepat untuk kondisi pendidikan sekarang ini. Mari melatih para guru-guru kita untuk menjadi guru masa kini, kita bekali mereka dengan ilmu yang baru, pengetahuan mereka kita upgrade kembali.

Siang itu diskusi berakhir dengan santapan lontong yang dipesan dari kantin sekolah, ketika aku meninggalkan ruangan kepala sekolah. Pikiranku masih penuh tanda tanya, apalagi dengan beberapa lembar kertas yang dicoret-coret hasil pembahasan diskusi. Beban berat yang ada dipikiranku bukan masalah coretan kertas tersebut, tapi konsep apa yang harus aku persiapkan untuk menjawab tantangan kepala sekolah sang “panglima” besar, untuk mendesain sekolah ini menjadi sekolah yang berbudaya mutu dan unggul. Semua orang mengetahui, kepala sekolah adalah seorang manager yang harus memiliki visi dan misi yang jelas untuk membawa sekolah kearah yang lebih baik. Ketika sekolah memiliki seorang manager, yang bisa mendesain arah kemajuan, ini adalah nilai plus yang dimiliki oleh seluruh warga sekolah. Kepala sekolah tidak ubah seperti seorang “panglima perang”, yang menyusun taktik dan cara untuk merebut “kemenangan”. Seorang panglima tentunya memahami suatu masalah mulai dari akar rumput, seorang panglima harus memiliki jiwa patriot tanpa berhenti berjuang sebelum kemenangan direbut, walaupun kiri, kanan, depan, belakang dihadang. Para Jenderal Konseptor

Ruang 3 meter x 2 meter itu mungkin menjadi ruang paling bersejarah dan berkesan bagiku selama menjadi guru di SMKN Taman Fajar. Semua guru juga tahu, selain ruang kerja sang “jenderal”, ruang tersebut juga menjadi ruang diskusi para jenderal-jenderal di SMKN Taman Fajar. Sebenarnya mereka semua memiliki ruang tersendiri yang disediakan oleh sang “panglima”, tetapi entah kenapa setiap hari semua berkumpul di ruang tersebut, entah karena ruangan tersebut terasa adem dari semua ruangan, atau entah dianggap cocok untuk berdiskusi dengan nyaman. Kalau boleh dibilang, ruangan tersebut merupakan “server” SMKN Taman Fajar, karena hampir semua keputusan pengembangan sekolah lahir dari diskusi-diskusi para “jenderal sekolah” diruang tersebut. Kepala sekolah juga tidak jarang masuk ke ruang tersebut, hanya untuk berdiskusi dan juga untuk menyemangati para “Jenderal” dengan lelucon yang sangat memotivasi.

Aku mungkin sudah lupa, hari apa dulu pertama menjadi warga SMKN Taman Fajar, yang jelas mulai tahun 2011. Tetapi itu tidak penting bagiku, yang penting sudah memberikan yang terbaik bagi sekolah ini, itu menurut pendapat sendiri. Menjadi seorang guru di kampung orang, tentunya bukan hal yang mudah untuk dijalankan. Tetapi tidak menjadi sebuah kendala bagiku yang sudah melalang buana menjadi guru di beberapa sekolah. Menjadi guru baru, dilingkungan baru, tidak ubahnya menjadi “Linto Baroe” dalam sebuah keluarga baru. Itu pikiran sebagian besar orang. Anehnya, aku baru berada di SMKN Taman Fajar belum genap satu minggu, ketika itu. Kepala sekolah saat itu langsung memberi tanggung jawab untukku, menjadi seorang wakil kepala sekolah bagian manajemen mutu dan sampai akhir karir di sekolah tersebut jabatan wakil kepala sekolah masih tetap dipercayakan kepadaku tetapi di bidang kurikulum.

Jabatan wakil kepala sekolah bagian kurikulum, tentunya memiliki pengaruh besar untuk menentukan arah dan tujuan sekolah ke depan. Karena semua orang tahu, kurikulum adalah dasar pengelolaan sekolah kearah yang lebih baik. Kita tidak boleh terlena dengan jabatan yang menjadi tugas dan tanggung jawab. Tugas yang sangat berat di kurikulum adalah memastikan proses belajar mengajar di sekolah berjalan lancar sesuai tuntutan jaman. Kita harus bisa menjadi konseptor handal untuk mendesain arah perkembangan sekolah demi kemajuan di masa yang akan datang. Banyak hal baru yang harus kita pikirkan untuk menjadikan sekolah tersebut unggul disegala bidang, yang paling penting adalah kerjasama dengan semua guru serta warga sekolah.

Sebenarnya aku punya program besar untuk sekolah ini, yaitu mendesain sebuah sekolah yang unggul dibidang teknologi, lingkungan dan manajemen. Tidak harus malu ketika kita menanam pohon bersama, membersihkan kamar mandi demi kenyaman serta membersihkan sampah untuk kesehatan warga sekolah. 5 tahun mungkin waktu yang sangat singkat bagiku membangun sekolah bersama tim yang sangat tangguh, kalau boleh diumpamakan, mereka adalah “armada perang” yang siap menggapai kemenangan. Membangun tim tangguh tidak semudah membalik telapak tangan, karena pola pikir orang yang bermacam ragam, tetapi dengan ada tim tangguh disebuah sekolah, tentunya akan melahirkan hasil dari program yang dibangun bersama.

SMKN Taman Fajar memiliki 4 orang wakil kepala sekolah dan 5 orang Ketua Jurusan. Sebenarnya mereka para “Jenderal Sekolah” yang saban hari membuat taktik perang untuk kemajuan sekolah. Wakil kepala sekolah bidang kesiswaan merupakan Jenderal yang mengatur taktik, supaya para siswa-siswa menjadi nyaman berada di sekolah dengan membuat program ekstrakurikuler serta mendesain kegiatan kesiswaan yang mengakomodir minat dan bakat para siswa. Satu prinsip yang dipegang oleh waka kesiswaan adalah sekolah adalah “Lembaga Pendidikan Bukan Lembaga kehakiman” artinya sekolah adalah tempat dididiknya manusia, agar menjadi manusia berguna bagi nusa, bangsa dan agama. Kita tidak boleh menghakimi siswa yang keterbelakangan moral apalagi menghukumnya dengan hukuman yang tidak mendidik. Selanjutnya sekolah memiliki wakil kepala sekolah bidang hubungan dinas dan industri, “Jenderal” ini memiliki tugas yang luar biasa besar yaitu bagaimana mendesain program sekolah agar lulusan SMK menjadi tenaga yang terampil dibidang masing-masing setelah mereka dikirim ke dunia usaha dan dunia industri. Wakil kepala sekolah bidang sarana dan prasarana merupakan “jenderal” yang punya wewenang mengatur segala kebutuhan sekolah untuk kelancaran manajemen dan proses belajar mengajar.

Tidak banyak yang tahu, bahwa peran ketua jurusan hampir sama dengan peran kepala sekolah. Mereka bisa diibaratkan sebagai kepala sekolah kecil dalam lingkup program keahlian masing-masing. Keberadaan para “jenderal” ini tidak bisa dipisahkan dengan dunia SMK, karena ditangan mereka punya tanggung jawab besar mengantarkan lulusan SMK menjadi tenaga handal yang siap diterima oleh dunia usaha dan dunia industri. Menjadi para “jenderal” di sekolah adalah suatu keharusan, karena setiap para “jenderal” punya konsep untuk mencapai suatu keberhasilan. Kalau boleh kita umpamakan, melawan kebodohan tidak beda dengan melawan penjajah. Setiap kita harus memiliki taktik perang untuk melawan penjajah. Kebodohan adalah musuh bersama yang harus dilawan, dan juga harus disingkirkan. Melahirkan lulusan sekolah yang kompeten tidak bisa dengan cara yang mudah, tentu harus dipikirkan taktik yang tepat, cerdas dan efektif, hal ini harus dimiliki oleh para “Jenderal Sekolah”.

Penulis merupakan Sekretaris IGI Wilayah Aceh

About admin

Check Also

Pendidikan Aceh Utara Punya Pedoman Baru! Kacabdin Muhammad Johan Luncurkan Buku “Membangun Budaya Mutu”

Lhoksukon| Jurnalpase.com, 06 November 2025 – Kepala Cabang Dinas (Kacabdin) Pendidikan Wilayah Kabupaten Aceh Utara, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *