Home / Cerpen / NAFAS KU DI PULAU ACEH

NAFAS KU DI PULAU ACEH

NAFAS KU DI PULAU ACEH

jurnalpase.com|cerpen: Pagi yang indah, angin sepoi-sepoi membuat aku terlena dengan pandangan disekelilingku. Pohon cemara menari nari, pohon kelapa bergoyang goyang tanda bahagia. Apakah mareka tak rela melepaskan kepergian kami ataukah mareka lagi menangisi akan kepergian kami. Ataukah mungkin itu lambaiyan terakhir mareka untuk kami sebagai salam perpisahan. Aku tidak bisa menjawabnya, aku hanya terdiam membisu dengan tatapan mata yang kosong hanya Tuhan yang tau akan jawaban itu semua.

Mursyidah spd

Nama ku Mursyidah,  tapi teman-teman memanggil ku dengan sebutan Tiara. Aku seorang Mahasiswa FKIP Biologi UNIVERSITAS SERAMBI MEKKAH ACEH. Sewaktu kuliah aku aktif di Organisasi PMI, Banyak ilmu dan pengalaman hidup yang kudapat lewat organisasi tersebut, banyak kawan yang kenal dari berbagai daerah selama aku bernaung dibawah bendera PMI. Pada tahun 2008 aku menyelesaikan kuliah ku, tapi aku tetap aktif sebagai relawan PMI, rasanya PMI sudah tidak bisa dipisahkan dari hidupku.

Menjadi seorang relawan adalah cita-cita ku sewaktu aku duduk di banggku SMA. Selama menjadi relawan PMI banyak kenangan Dan pengalaman hidup yang aku dapat, ada yang manis dan tak sedikit juga yang berat.

Pada suatu hari tepatnya hari senin tanggal 19 Desember 2004 kelompok kami mengadakan bakti social di sebuah daerah kepulauan, Yaitu di daerah Pulau Aceh Kabupaten Aceh Besar Propinsi Aceh. Kami mengadakan bakti social mulai dari tanggal 20 Desember sampai dengan tanggal 26 Desember 2004.

Ayo temen-teman semuanya memakai baju pelampung demi keselamatan kita, kata kak Amrin ketua kami. Sudah siap semua? Tanya nya lagi.

sudah kak! Jawab kami semua dengan serentak.

Ayo kita berangkat pak! Perintah Kak Amrin pada kapten bout.

Siap pak ketua, Jawab pak amat! Pak Amat adalah nama kapten Bout yang kami tumpangi.

Tiara, semua perlengkapan kita tidak ada yang tinggal kan? Tanya Kak Jal pada saya. Kak Jal adalah wakil ketua tim kami.

Tidak kak! Jawab saya dengan singkat.

Dua jam perjalanan laut yang sudah kami tempuh cukup melelahkan, banyak anggota tim yang mabuk laut.

Kak Amrin! Liat tu si Ona sudah Pegang-pegang kantong plastic, kayaknya mau ngeluarin bubur, Kata kak Jal sambil tertawa.

Ini Ona minyak kayu putih kamu cium-cium biar tidak pening! Kata ku sambil menyodorkan. Terimakasih Tiara jawabnya singkat.

Siap-siap ya, kita mau merapat ni, semuanya duduk karena arusnya agak kuat di muara. Tiba-tiba pak amat memberi aba-aba. Semuanya duduk dan berpeganga tak ada lagi yang berdiri seperti tadi. Dan akhirnya boutpun merapat di dermaga.

Warga yang berada di tepi laut sudah banyak yang menuju ketempat kami, mareka heran melihat kedetangan kami yang begitu banyak mungkin. Memang jumlah kami semuanya sebanyak 20 orang, 10 laki-laki dan 10 orang perempuan.

Assalamualaikum bapak-bapak dan ibu-ibu, kata kak Amrin menuju tenpat kerumunan warga yang melihat kedatangan kami. Waalaikumsalam …. Jawab mareka serenta! Maaf bapak-bapak dan ibu-ibu, kami adalah Relawan PMI yang akan mengadakan bakti social di desa ini selama beberapa hari, nama saya Amrin sebai ketua Tim! Kata kak Amrin memperkenalkan diri. Semua masyarakat yang ada hanya mengangguk-angguk kepala sambil tersenyum.

Ada yang bisa bantu kami kerumah pak Lurah sebentar pak! Tanya kak Amrin

Saya Pak, nama saya Lukma kata salah seorang pemuda memperkenalkan dirinya. Kita pergi sekarang atau bapak-bapak istirahat dulu? Tanya Lukman pada kak Amrin.

Jangan panggil kami bapak, karna kita masih sebaya, panggil saja saya ‘Amrin’! Setelah beristirahat sejenak kak Amrin memanggil kami, Jal, Surya, Tiara dan Ona kita ketempat pak lurah sebentar! Bawa buku nama-nama anggota dan surat izin kegiatan. Perintahnya pada kak Jal, dan kamipun menuju kesana.

Setelah berjumpa dengan pak lurah kami kembali ke pinggir laut menjumpai anggota yang lainnya.

Gimana tanggapannya kak? Tanya Amir sebagai ketua pelayanan.

Alhamdulillah! Pak lurah sangat senang, kita dikasih tempat di pekarangan balai desa, yang perempuan posnya di dalam balai desa sedangkan yang laki-laki kita buatkan tenda.

Horee …. Jawab yang perempuan serentak!

Selama berada di Pulau Aceh banyak kegiatan yang kami lakukan mulai dari pengobatan gratis sampai dengan sunat massal bagi anak-anak di sana. Penyambutan masyarakat disana sangat sangat bagus, kami dibuatnya seperti raja, ketakutan yang sudah kami lewatkan dari awal penyebrangan  sampai dengan medan tenpuh yang begitu sulit hilang seketika melihat masyarakat disana memperlakukan kami. Pada akhirnya kami harus meninggalkan mareka, walaupun mareka memohon kepada kami untuk tinggal beberapa hari lagi di tempat mareka. Memang secara kemanusiaan kami tidak tega melihat mareka begitu mengharap, tetapi kami sudah ada jadwal bakti social di tempat lain. Pada akhirnya dengan perasaan sedih kami dan mereka terpaksa berpisah.

Tepatnya pada hari Minggu pagi  tanggal 26 Desember 2004 jam 07.00 wib kami semua sudah berada didalam perahu, Pak Amat sudah siap didepan kemudi.

Apa kita sudah boleh berangkat Nak Amrin? Tanya pak amat.

Sebentar Pak, saya cek dulu anggota. Mana buku nama-nama anggota Tiara? Tanya kak Amrin pada ku. Ini kak, jawab ku sambil memberikan buku. Setelah dicek semuanya lengkap, ok pak kita berangkat! Pak Amat pun mulai menjalankan boutnya.

Setelah melambaikan tangan dengan isak tangis yang begitu sedih terlihat diwajah mareka, perahu yang kami tumpangi perlahan lahan mulai bergerak maju ketengah laut. Tapi ingatan kami masih seperti berada ditengah – tengah masyarakat Pulau Aceh, Tampa kami sadari tiba – tiba sebuah ombak besar menerjang perahu yang kami tumpangi, semua relawan PMI sampai dengan Nakhoda Perahu terkejut sambil mungucapkan tasbih.

Pada saat – saat mencekam tersebut, Pak Amat berkata! Sumuanya duduk jangan ada yang berdiri, jangan duduk di pinggir semuanya ketengah.

Ayo teman-teman semuanya, dengar instruksi dari pak Amat, Kata kak Amrin.

Saya melihat jam yang berada ditangan sudah menujunkan  pukul 07.45 wib. Berarti kami sudah 45 menit dalam perjalanan, Ombak besar Mengelilingi perahu yang kami tumpangi, Kami semua ketakutan luar biasa yang keluar dari mulut kami hanyalah nama- nama kebesaran allah dan ayat – ayat Suci Al-Qur’an. Nakhoda perahu sempat panik, tapi dia masih bisa mengendalikan perahu dengan tenang sambil menyuruh kami berdoa dan bernazar. Karena sekian lama dia menjadi nakhoda belum pernah dia melihat fenomena alam yang seperti ini.

Ombak besar mengelilingi kami, awan hitam membuat jarak pandang kami terbatas kami semua sudah pasrah kepada Allah, tak ada yang bersenda gurau semua wajahnya pucat. Tiba – tiba awan hitam perlahan – lahan mulai hilang, jarak pandang pun sudah mulai jauh, selama 1 jam kami menghadapi ujian dunia yang sangat mengerikan.

Tiba – tiba nakhoda perahu berkata sesuatu yang membuat kami saling pandang dan bertanya – Tanya satu sama lainnya.

Nak Amri! kita kehilangan jejak, monitor tidak berfungsi, daratan yang berada didepan kita hampa tampa bangunan apapun, kita tidak tau sekarang kita berada dimana, kata pak Amat.

Kak Amrin tidak berkata apa-apa, dia diam membisu. Jalankan saja bagaimana baiknya menurut bapak, kata kak Jal dengan suara lemah.

Perahu yang kami tumpangi masih berputar putar di tengah laut, tak lama kemudian pak amat berkata, kita kembali aja kepulau Aceh Ya? dan kamipun semua setuju dengan ucapan pak Amat. Sekitar jam 14 siang kami mulai memasuki kuala Pulau Aceh, alangkah kagetnya kami melihat fenomena alam yang begitu mengerikan yang belum pernah kami lihat selama hidup kami. Dipinggir laut terdapat manyat – manyat, kayu – kayu besar beserta sampah – sampah yang berserakan. Semua kami terdiam dalam perahu tampa ada yang bersuara, semuanya hening sampai kami ketepi laut. Tiba – tiba masyarakat pulau Aceh menghapiri kami ketepi laut dan kami sangat kaget karena kami belum tau apa yang sebenarnya baru saja terjadi diatas muka bumi ini. Kami semua turun dari perahu tak lupa kami menurunkan semua peralatan – peralatan kami,

Alhamdulillah!!! Adik-adik PMI semuanya selamat, kata masyarakat semua, kemudian mareka membantu kami menurunkan semua barang  barang kami. Kami beristirahat sejenak di tepi pantai sambil berbincang – bincang dengan masyarakat Pulau Aceh, disitulah baru kami tau kalau beberapa saat yang lalu baru saja terjadi gempa bumi yang sangat kuat dan air laut naik darat.

Banyak warga yang jadi korban baik yang meninggal maupun luka –luka ada yang parah dan ada juga yang ringan. Semua rumah di Pulau Aceh rusak berat bahkan ada yang runtuh sedangkan yang ditepi laut sudah dibawa oleh air. Setelah mendengar cerita tersebut kami langsung mendirikan tenda PMI di tempat yang dianggap aman oleh warga sekitar, setelah tenda siap kami dan warga mulai menyisir tepi pantai untuk melihat korban.

Setiap korban yang kami temukan masih hidup kami bawa ke posko untuk diobati sedangkan yang meninggal kami bawa  ke kuburan massal. Kami bersama warga yang selamat bahu membahu bekerja tampa kenal lelah, entah dari mana tenaga kami datang dengan tiba – tiba padahal tadi kami semuanya lemas akibat diterjang ombak besar dilaut.

Dua minggu sudah kami berada di Pulau Aceh setelah Tsunami, semua sudah pada teringan akan keluarganya, tapi kami tidak bisa berlayar karena tiada minyak bout.

Pak amat! Apa minyak yang ada tidak cukup untuk menuju Banda Aceh? Tanya kak Amrin suatu hari.

Tidak cukup nak, jawab pak Amat singkat. Tiba-tiba pak Amat berkata, nak amrin, liat tu kapal besar datang!Mudah-mudahan mareka menuju kemari, sambungnya,

Iya pak, jawab kak Amrin penuh harap!

Makin lama kapal tersebut makin Nampak besar, Pak amat masuk kedalam kapal mengambil alat untuk member kabar buat kapal yang berada di rengah laut tersebut.

Kak Amrin! Kayaknya itu kapal PMI yang kita naik waktu kesabang, kataku penuh kegirangan.

Dari mana kamu tau Tiara? Tanya kak Jal keheranan.

Saya tanda depannya ada warna biru, jawab ku. Memangnya yang ada warna biru kapal PMI semua? Celoteh Ona penuh canda. Makin lama kapal itu makin mendekat, dan akhirnya kami dapat memastikan kalau itu memang benar kapal PMI.

Horeee!!! Teriak teman-teman semua, kita sudah dijemput” Mudah-mudahan kita bisa pulang. Begitu kapal merapat di pelabuhan turunlah seorang yang sangat kami kenal, Rupanya kak Surya ketua PMI Propinsi.

Kak Surya? Panggil kak Amrin dengan suara keras!

Amrin? Jawab kak Surya sambil melihat kearah kami. Apakah ada anggota kita yang korban Amrin? Tanya kak Surya

Alhamdulillah tidak kak! Lalu kak Amrin menceritakan kisah kami waktu berada ditengah laut! Belum habis ceritanya kak Jal memotong pembicaraan dengan canda.

Kak Amrin pucat kak! Yang lain pada hilang ingatan semua tinggal saya sendiri yang segar bugar kata Kak Jal sambil tertawa.

Kak Jal hampir pingsan kak! Jawab ku, semuanya pada tertawa gembira. Syukurlah tidak ada anggota kita yang jadi korban, sekarang pikiran saya tenang setelah bertemu kalian semua, kata kak Surya.

Anggota baru ya kak? Tanya ku begitu melihat orang yang tidak ku kenal memakai seragam PMI.

Bukan! Itu relawan dari luar Aceh, mareka baru tiba dua hari yang lalu dan bergabung bersama kita.

Kak Surya! Kapal ini kapan kembali ke Banda Aceh ya? Tanya Ona dengan nada sedih. Oya! Kalau ada diantara adek-adek yang ingin pulang ke Banda Aceh silakan bersiap-siap, sebentar lagi kapal ini akan kembali ke banda Aceh. Kata kak Surya pada kami. Langsung dijawab oleh kak Amrin, Sebenarnya kami semua sudah dua hari yang lalu ingin kembali kak, tapi bout kami kehabisan minyak! Terang kak Amrin. Kalau memang di kapal itu ada minyak lebih isilah kedalam bout pak Amat biar kami semua pulang bersama nya, sambung kak Amrin.

Diatas kapal ada minyak dalam jerigen ambillah secukupnya, kata kak Surya. Setelah mengisi minyak kami semua menyiapkan barang-barang bawaan kami, sedangkan tenda, alat-alat dapur dan obat-obatan tidak kami bawa. Setelah berpamitan dengan masyarakat kamipun berangkat menuju Banda Aceh, setelah itu menuju kampung halaman masing-masing.

Satu minggu di kampung aku kembali lagi ke Banda Aceh untuk bergabung bersama PMI, jiwaku terpanggil untuk tugas yang mulia, Apalagi kampung dan keluarga ku tak ada yang jatuh korban karena jauh dari laut. Jadi aku bisa tenang untuk bekerja membantu orang-orang yang menjadi korban gempa dan Tsunami.

Penulis dengan nama Mursyidah spd..biasa dipanggil tiara.lahir di desa bale busu kec mutiara kab pidie putri dari pasangan Abdul manaf dan Kuliah..
riwayat pekerjaan..Guru SAMAN 1 tau lah selatan..Guru SAMAN 1 simeulue barat..SMPN 7 bandar baru pidie jaya..penulis aktif sbgai pengurus IGI di pidie jaya..pengurus MGMP pidie jaya..kepala laboratorium di SMPN 7 bandar baru..Bendahara SMPN 7 bandar baru..Relawan PMI NAD..relawan PMI pidie jaya..atau SATGANA…karya yg telah dihasilkan..cerpen tanah rencong nafasku..kumpulan puisi pidie jaya..kumpulan cerpen pidie jaya..piagam yang telah diraih PIGURA SAGUSAKU…melalui IGI kita saling berbagi dan tumbuh bersama..

About Admin

Check Also

Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran

3.1.a.7. Demonstrasi Kontekstual – Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran Oleh : Vonna Rohaza, S. Pd. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *