Home / Opini / Klo Prip

Klo Prip

Qusthalani, Ketua IGI Kabupaten Aceh Utara. foto : dok.jurnalpase.com

Secara terminologi klo prip terdapat dua padanan kata yaitu  klo jika diartikan dalam bahasa Indonesia berarti tuli dan prip artinya peluit. Namun secara kontruks budaya, klo prip biasa digunakan untuk orang-orang keras kepala di Aceh. Sebuah kata terakhir untuk memperingatkan seseorang, ketika mereka tidak pernah menggubris sebuah larangan yang ada.

Klo prip diibaratkan seperti seseorang yang tuli, sekencang apapun peluit ditiupkan ditelinganya dia tidak akan mendengar. Sekeras apapun suara, ia tetap tidak merespon

Klo prip sebuah ungkapan dalam keseharian masyarakat Aceh. Padanan kata ini tak jauh berbeda dengan penyebutan “Aceh Pungo”, “Beuhe Tungang”, “ret dimanyang”, dan beberapa lainnya. Tempat dan waktu penyebutannya menentukan makna dari kata-kata tersebut.

Lalu apa hubungannya klo prip dengan kondisi saat ini ?

Kita ketahui bersama, bahwa kondisi negara kita Indonesia saat ini sedang status darurat covid-19. Pemerintah melalui kementerian terkait telah mengumumkan suatu kebijakan yaitu social distancing.

Apa itu social distancing ?

Social distancing merupakan upaya mengurangi jumlah aktivitas di luar rumah dan interaksi dengan orang lain, mengurangi kontak tatap muka langsung. Langkah ini termasuk menghindari pergi ke tempat-tempat yang ramai dikunjungi, seperti supermarket, bioskop, dan stadion. Kebijakan ini merupakan langkah awal sebelum pemerintah menerapkan lockdown bagi daerah yang terdampak covid-19 ini, jika keadaan semakin parah.

Turunan dari kebijakan social distancing ini yaitu sekolah-sekolah sebagian wilayah Indonesia diliburkan secara serentak. Kenapa penulis katakan sebagian, karena ada beberapa daerah tidak meliburkan sekolahnya karena pimpinan daerahnya klo prip terhadap aturan yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat.

Nah, disini ada beberapa kejanggalan yang terjadi dilapangan. Ketika sekolah sebagai pusat pendidikan diliburkan, dengan harapan anak-anak tidak berkumpul beramai-ramai. Pengumpulan massa seperti itu ditakutkan akan menambah masalah penyebaran virus covid-19, tetapi yang terjadi anak-anak dibawa sama keluarganya berlibur ke pantai, atau mall-mall yang ada di kota besar. Pusat wisata penuh dengan orang-orang yang sedang memanjakan diri dengan menikmati hari liburnya. Padahal jelas-jelas libur yang dimaksud disini adalah tidak ke sekolah, menghindari keramaian dan berdiam diri di rumah. Namun kita tetap klo prip, menganggap kita memiliki imun tubuh layaknya super hero dalam cerita komik.

Lalu bagaimana perangai masyarakat kita Nanggroe Aceh Darussalam saat ini.

Dalam dunia pendidikan, Aceh setali tiga uang dengan daerah lainnya. Daerah yang menganggap diri sebagai daerah yang telebeh ateuh rueng donya ini, tak mau kalah. Ketika pemerintah melalui kementerian pendidikan dan kebudayaan mengeluarkan Surat Edaran No. 3 Tahun 2020 tentang Pencegahan Covid-19 Pada Satuan Pendidikan, didukung oleh Surat Edaran Nomor 19 Tahun 2020 itu mengatur tentang penyesuaian sistem kerja aparatur sipil negara dalam upaya pencegahan penyebaran virus Corona di lingkungan instansi pemerintah. Ada 18 instruksi yang harus ditaati satuan pendidikan. Di antaranya institusi harus memberikan izin serta memonitor ketidakhadiran warganya, siswa atau pekerja yang tidak masuk karena sakit. Siswa diwajibkan belajar di rumah dan guru memonitor siswa untuk belajar secara daring.

Disini artinya guru dan siswa dilarang ke sekolah, berkumpul dan ngerumpi bersama teman-temannya. Namun, guru masih klo prip. Guru begitu semangat ke sekolah, disaat pemerintah menghimbau untuk menghindari keramaian. Seakan wabah ini adalah sebuah lucu-lucuan saja, kita menganggap remeh dengan keadaan yang ada.

Para pemimpin satuan pendidikan juga seiring sejalan, dengan santainya mengadakan berbagai kegiatan mengumpulkan orang banyak. Padahal jelas-jelas ini telah dilarang dalam Surat Edaran Gubernur Aceh Nomor 440/4820 tanggal 12 Maret 2020. Para pimpinan kita dnegan santai mengadakan reuni dan kegiatan remeh temeh lainnya, yang seyogyanya kegiatan itu bisa ditunda. Menganggap remeh dan klo prip itu tak jauh berbeda, itu yang ada dalam cara pikir berbagai oknum pimpinan satuan pendidikan tersebut.

Begitu juga dengan tingkah masyarakat Aceh yang tak bisa lepas dengan warung kopi. Dalam berita yang dilansir dari tribunews.com, ditemukan masih banyak masyarakat kongkow di warung kopi. Ini didapatkan dari hasil razia satpol PP pada hari kedua pemberlakuan social distancing.  Mereka tak peduli dengan himbauan yang ada, watak keras yang sudah melekat dalam diri masyarakat Aceh menjadikan ini hanya angin lalu saja.

Ada lagi kondisi baru-baru ini dimana MUI mengumumkan fatwanya, bahwa menghimbau masyarakat menghindari untuk sementara waktu shalat berjamaah dan shalat jumat. Ini dikhususkan bagi daerah-daerah  red area sebagaimana telah ditetapkan oleh BNPB. Daerah-daerah yang penyebarannya sudah mengkhawatirkan, seperti Jakarta, Surabaya, dan beberapa daerah lainnya.

Tiba-tiba muncul berbagai ahli fatwa amatiran lainnya bertebaran di media sosial, kita dengan ilmu sebesar zarrah langsung membully para ulama kita, langsung menjudge bahwa ulama MUI berbeda akidah dengan kita. Segitunya kita sebagai umat yang telebeh ateuh rueng donya menafsirkan itu. Para pemfatwa faceboooker ini setelah ditelisik, shalat lima waktu saja masih bisa dihitung jari.

Padahal jelas-jelas disebutkan bahwa ini himbauan untuk daerah yang sudah berbahaya penyebarannya, dikhawatirkan akan memperparah keadaan. Tidak perlu membandingkan dengan Aceh, Secara terang benderang disebutkan sebagai daerah yang teleubeh ateuh rueng donya. Aceh masih berada dalam status waspada, yaitu o persen pasien positif covid-19.

Penulis tidak akan menguraikan lebih jauh tentang ini, karena keterbatasan ilmu dan juga Aceh tidak lebih baik dari negara-negara lain di luar sana. Sebagai seorang yang beriman, kita wajib patuh terhadap ulama, umara dan mari kita mengikuti titah dan langkah guru ngaji kita bersama. Jangan sampai kita klo prip dengan perintah yang ada, dan beuhe tungang dengan wabah yang tak kasat mata.

Per tanggal 21 Maret 2020, bertambah 81 Orang positif COVID-19 di Indonesia, sehingga menjadi 450 Kasus. Sembuh secara total ada 20 kasus dan meninggal 38 kasus. Indonesia masih berada dalam rating tertinggi persentase kematian akibat wabah corona ini. Namun kita jangan telalu menganggap remeh, jika kita tetap klo prip, tidak mematuhi himbauan untuk tetap berada di rumah. Maka tidak menutup kemungkinan, Aceh juga akan dilibas oleh wabah tha’un ini. Semoga kita tetap bersabar dan surut satu langkah demi kemaslahatan bersama. Wallahualam bissawab

 

*Qusthalani, S.Pd.,M.Pd, Ketua IGI Kabupaten Aceh Utara

About Redaksi

Check Also

Pelantikan Kepala Sekolah

3 Alumni PPS AP Kepengawasan Jadi Kepala Sekolah Di Aceh

Jurnalpase.com| SEKDA Aceh dr. Taqwallah. M.Kes, mengambil sumpah jabatan sekaligus melantik 433 Kepala Sekolah di …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *