Minggu , 18 Januari 2026
Home / Inspirasi / Di Bawah Langit yang Sama, Kenangan Permainan Masa Kecil Bisa Menyatukan Indonesia, Kenapa !

Di Bawah Langit yang Sama, Kenangan Permainan Masa Kecil Bisa Menyatukan Indonesia, Kenapa !

 

Di Bawah Langit yang Sama, Kenangan Permainan Masa Kecil Bisa Menyatukan Indonesia, Kenapa !

Pernahkah kamu bertanya, mengapa permainan masa kecil kita begitu mirip meskipun kita tumbuh di tempat yang berbeda?

Seorang anak di Aceh melompat di atas kotak-kotak kapur memainkan engklek, sementara di pelosok Sulawesi, seorang anak lain melakukan hal yang sama, dengan aturan nyaris serupa. Di halaman sekolah kecil di Jawa, anak-anak berlari memainkan gobak sodor, dan di kampung di Sumatera, suara riuh tawa permainan yang sama juga terdengar menjelang sore. Seolah-olah kita semua tanpa pernah janjian, tanpa grup WhatsApp atau media sosial, sepakat memainkan jenis permainan yang sama, di waktu yang sama, dengan cara yang tak jauh berbeda.

Tahun-tahun itu adalah tahun-tahun ketika dunia anak-anak masih sederhana. Belum ada layar sentuh, belum ada notifikasi yang memecah konsentrasi. Yang ada hanya tanah lapang, segenggam kelereng, tali dari karet gelang, dan waktu luang yang tak terganggu.

Satu Negara, Satu TV, dan Seragam Sekolah yang Sama

Mungkin itulah rahasianya, kesederhanaan dan keterbatasan yang justru menyatukan. Di masa itu, hampir semua anak Indonesia menonton saluran yang sama: TVRI. Acara seperti Si Unyil mengajarkan nilai kerja sama dan memperkenalkan permainan tradisional. Tak peduli kamu tinggal di kota atau di dusun, kamu tumbuh dengan tontonan yang sama dan nilai-nilai yang ditanamkan secara halus tapi mendalam.

Di sekolah, buku pelajaran yang digunakan sama. Di dalamnya, cerita tentang permainan rakyat, lagu anak, dan nilai-nilai moral menjadi bagian dari pelajaran sehari-hari. Sistem pendidikan waktu itu meski banyak kekurangannya telah menjadi sarana pembentukan identitas bersama, bahkan tanpa kita sadari.

Kampung, Surau, dan Lapangan: Panggung Masa Kecil Kita

Kehidupan sosial anak-anak 80-an dan 90-an begitu dekat dengan ruang-ruang terbuka. Lapangan bola seadanya, halaman meunasah, pelataran rumah tetangga semua menjadi arena bermain. Tak ada batas waktu yang ketat. Satu-satunya penanda waktu adalah matahari yang mulai miring atau suara ibu yang memanggil dari dapur.

Permainan tradisional menyebar bukan lewat internet, tapi lewat mulut ke mulut dan pengamatan langsung. Anak-anak belajar dari kakaknya, dari teman yang baru pindah, dari tetangga yang menunjukkan cara main. Dan karena permainan seperti petak umpet, benteng, atau galah asin mudah diadaptasi, mereka bisa bertahan dan berkembang tanpa perlu aturan tertulis.

Masa Kecil yang Sama, di Tempat yang Berbeda

Mungkin inilah salah satu kenangan paling indah dari generasi itu: kita punya masa kecil yang seragam meski tak saling mengenal. Ada semacam kesepakatan tak tertulis di antara anak-anak Indonesia bahwa bermain adalah hak bersama. Tak peduli latar belakang, suku, atau bahasa semua diterima selama bisa berlari, tertawa, dan ikut bermain.

Dan ketika kita bertemu teman dari daerah lain, lalu menyadari bahwa dia juga pernah main lompat tali dengan lagu yang sama, atau tahu cara main gatrik, rasanya seperti menemukan saudara lama. Kenangan itu menjadi jembatan yang tak terlihat, yang menghubungkan kita sebagai satu bangsa.

Kini, Saat Semua Berubah…

Hari ini, anak-anak lebih akrab dengan gawai daripada tanah lapang. Dunia mereka lebih luas, tapi mungkin terasa lebih sepi. Mereka bisa bermain dengan siapa saja di dunia, tapi jarang mengenal nama tetangga sebelah rumah.

Tapi bagi kita yang pernah bermain di bawah langit yang sama, yang pernah tertawa karena kalah main kelereng atau sedih karena layangan putus dan nyangkut di pohon, kenangan itu adalah warisan yang tak ternilai.

Ia mengajarkan bahwa sebelum teknologi menyatukan dunia, permainan sederhana telah lebih dulu menyatukan Indonesia.[]

About Redaksi

Check Also

Zulfan Fadli, Ketua TPMPS SMPN 1 Lhoksukon

Merayakan Mutu, Menyiapkan Generasi Emas: Refleksi Perjalanan SPMI di SMP Negeri 1 Lhoksukon

Merayakan Mutu, Menyiapkan Generasi Emas (Refleksi Perjalanan SPMI di SMP Negeri 1 Lhoksukon) Oleh: Zulfan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *