
Jurnalpase.com|Lhoksukon-Bupati Aceh Utara H.Muhammad Thaib meresmikan Museum Islam Samudra Pasai, yang berlokasi di Gampong Beuringen, Kecamatan Samudra, Kabupaten Aceh Utara, selasa (9/7).
Bupati Aceh Utara dalam sambutannya mengharapkan kepada semua pihak agar menjaga serta merawat Museum Islam Samudra Pasai yang telah dibangun dengan penuh perjuangan.
“Museum ini kita bangun agar anak cucu kita tidak melupakan sejarah bahwa nenek moyang kita dulu adalah sebuah bangsa yang disegani dunia,” ungkap Bupati Aceh Utara yang akrab disapa cek mad.
Ia menambahkan, museum ini didirikan bertujuan sebagai sarana pelestari, pusat penelitian, pengembangan dan pemanfaatan Cagar Budaya di Kabupaten Aceh Utara.
Sementara itu Kepala Disdikbud Aceh Utara Saifullah, M.Pd mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah berpartisipasi dalam pengembangan kebudaayaan dan sejarah Aceh, kita sangat mengapresiasi langkah baik pemerhati sejarah Aceh, peneliti, filolog, penulis, dan para jurnalis yang telah berjuang memajukan khazanah sejarah Aceh.
Setelah memberikan sambutan Bupati Muhammad Thaib mengunting pita dan menandatangani prasasti sebagai tanda mulai dibukanya museum untuk masyarakat umum.
Sebagaimana diketahui,museum Islam Samudra Pasai merupakan museum Kabupaten Aceh Utara yang disahkan dengan SK Bupati Aceh Utara Nomor: 430/44/2017 tanggal 26 Juli 2017 yang dibangun secara bertahap mulai tahun 2011 sampai tahun 2016. Berlokasi di Gampong Beuringen, Kecamatan Samudra, Kabupaten Aceh Utara, daerah jejak peninggalan Kerajaan Islam pertama di Asia Tenggara, Dari sinilah jalan dakwah bermula paling awal dan menembus ke seluruh penjuru nusantara.
Dari Pasai juga para mubalig berdakwah sampai ke pulau jawa yang dilakukan oleh Maulana Malik Ibrahim seorang ulama dari Kerajaan Pasai sehingga lahir para wali songo (wali sembilan).
Museum Islam Samudra Pasai mengoleksi berbagai benda cagar budaya seperti replika nisan Kesultanan Kerajaan Islam Samudra Pasai yang menjadi peletak pondasi dasar dalam gerak dakwah yang terorganisir dalam kesatuan politik Islam di bawah kuasa sultan-sultan agung (abad 7 H-10 H/13 M-16 M).
Selain replika batu nisan juga mengoleksi keramik dan gerabah yang berasal dari mancanegara, mata uang emas atau dirham, manuskrip Shirat Al-Mustaqim sebuah karya agung dalam bidang Fiqih Islam karya Syaikh Nuruddin Ar-Raniry, manuskrip mushaf Al-Qur’an karya tulisan tangan intelektual Aceh di masa lampau.
Selain itu, juga mengoleksi karya sastra, buku sejarah, alat seni tradisional Aceh, perhiasan, peralatan adat, dan senjata tradisional.
Museum Islam Samudra Pasai memiliki luas bangunan 2.850 M2. Memiliki koleksi sejumlah 340 koleksi yang terdiri dari kelompok etnografika, filologika, numismatika, dan historika.
Museum tersebut dibawah kontrol dan kendali bidang Kebudayaan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Aceh Utara.
Museum ini dibuka setiap hari kerja mulai hari Senin sampai Jum’at setiap jam kerja.
(Laporan: Hamdani Mulya)
Jurnal Pase Media Online Pase
Sangat disayangkan mesium nya sudah rontok duluan baru diresmikan.
Saya katakan rontok karena memang bangunannya seperti tidak terawat, mulai dari pagar, relief, dinding bahkan pajangan yg terdapat di luar ruanganpun sudah banyak yang sompel.
Boleh jadi, saat ini sudah mengalami perbaikan ya…
Semoga saja semua pihak, dinas terkait maupun masyarakat dapat menjaga dan merawat gedung tsb sehingga dapat berguna dan menjadi bukti sejarah untuk anak cucu kita jika Aceh pernah jaya.