Home / News / Workshop Penulisan Kreatif dan Penerbitan buku di isi dengan pembacaan Puisi.

Workshop Penulisan Kreatif dan Penerbitan buku di isi dengan pembacaan Puisi.

Foto : Hamdani Mulaya Mebacakan puisi

jurnalpase.com|Lhokseumawe- Unit Pelaksana Tugas (UPT) Kehumasan dan Hubungan Eksternal Universitas Malikussaleh (Unimal) Lhokseumawe menyelenggarakan workshop Penulisan Kreatif dan Penerbitan buku di aula Meurah Silue, Kampus Program Pasca Sarjana, Lancang Garam, Lhokseumawe pada Minggu (14 Juli 2019).

Acara tersebut menghadirkan pemateri tunggal Tia Setiadi kurator penerbit Diva Press dan redaktur penerbit Basabasi Yogyakarta.

Sebelum Tia Setiadi memberikan motivasi dan trik-trik menulis untuk peserta, acara diawali dengan menampilkan beberapa sastrawan Aceh membacakan puisi. Mahdi Idris sastrawan Aceh berlatar pendidikan pesantren tampil mempesona membawakan puisi berjudul “Dua Lanskap Tentang Hujan” karya Tia Setiadi, memukau para penonton. Lalu, Hamdani Mulya Guru dan juga  anggota Ikatan Guru Indonesia (IGI) Lhokseumawe penulis Buku Bahasa Indatu Ureueng Aceh naik ke pentas membaca tiga puisi bertajuk “Ibuku yang Anggun Cut Nyak Dhien”, “Wanita Bermata Rencong” puisi yang ditulisnya dimuat dalam buku antologi puisi sastrawan Indonesia-Malaysia.

Hamdani Mulya mengakhiri penampilannya dengan puisi bertema gempa Pidie Jaya berjudul “Secangkir Air Mata untuk Gempa Aceh”, mendapat gemuruh tepuk tangan peserta workshop penulisan kreatif. Kemudian Teuku Kemal Fasya penulis kondang nasional asal Aceh membaca puisi berjudul “Tanah Air Mata” karya Sutardji Calzoum Bahri membuat suasana lebih berkesan dan bermakna.

Tia Setiadi untuk memaparkan materi bagaimana cara menulis sebuah esai yang baik layak dimuat di media atau dapat diterbitkan dalam sebuah buku.

“Seorang manusia esai harus punya diksi yang kuat, perbendaharaan yang luas, dan juga bacaan yang luas,” ungkap Tia Setiadi penulis yang pernah memenangkan lomba menulis esai majalah Horison tahun 2008.

Tia Setiadi juga memaparkan bahwa seorang manusia esai harus punya cara pandang yang unik dan khas dalam tulisannya, Dia tidak puas dengan cara pandang biasa, Setiap masalah yang diangkat dilihat bukan hanya dari depan saja, tapi juga dari belakang, dari pinggir, dari bawah dari atas dan dari mana-mana.

Acara workshop penulis kreatif berjalan sukses diikuti 60 peserta dari kalangan guru, siswa, mahasiswa, pegiat literasi, dan penulis pemula.

Acara tersebut juga turut hadir Ayi Jufridar akademisi Unimal penulis novel Jejak Gerilya Jendral Sudirman, Syamsiah Ismail penulis buku berjudul Putroe Phang buku cerita anak diterbitkan Kemendikbud tahun lalu, juga hadir Nasrullah Thaleb penulis muda berbakat.

Laporan: Hamdani

About admin

Check Also

Aceh Bersinar di Panggung Nasional, Empat Siswa Sabet Juara FLS3N 2025

Jakarta | Jurnalpase.com, 24 November 2025 – Empat siswa Aceh berhasil menorehkan prestasi gemilang pada …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *