Home / Cerpen / Tamu Tak Diundang

Tamu Tak Diundang

Tamu Tak Diundang
Oleh: Vonna Rohaza

Pagi yang cerah. Matahari merangkak membentuk sudut empat puluh lima derajat. Di lapangan ada Pak Mursal yang sedang melatih anak-anak bermain volley. Suasananya tenang di jam-jam seperti ini karena murid-murid sedang mengikuti pelajaran di kelas masing-masing.

Vonna Rohaza

Di ruangan berukuran 4 x 8 meter ini hanya ada beberapa orang guru yang tidak ada jadwal mengajar. Beberapa orang sibuk di meja masing-masing. Ada sekitar tiga puluh meja yang disusun berjejer ke belakang. Susunan meja tiga deret itu membentuk dua lorong di kiri dan kanan.
Aku sedang memeriksa pe-er anak-anak di pojok kanan paling belakang. Jam mengajarku nanti setelah istirahat. Di sampingku ada Bu Ida dan Bu Misna. Kedua guru fisika itu sedang membahas tentang materi listrik statis. Bu Ida yang lulusan Universitas Terbuka adalah jagonya dalam pelajaran fisika. Di meja paling depan Bu Hajjah sedang mengobrol dengan Bu Rohana. Mereka berdua adalah guru yang paling senior di sekolah ini. Bahkan Bu Hajjah yang mempunyai nama asli Suwartini adalah wakil kepala sekolah. Oleh karena itu mejanya menempati posisi paling depan menghadap ke arah meja lainnya.
Pak Bahar yang duduk di depanku sedang membaca koran yang baru disodorkan oleh seorang lelaki pengantar koran melalui jendela di sampingnya. Ia membaca headline dengan suara agak nyaring. ACEH DARURAT PERANG? Orang-orang yang tadinya sibuk dengan urusan masing-masing, tak urung mengalihkan perhatiannya ke arah pak Bahar.
Aku sempat melirik headlinenya yang ditulis dengan ukuran besar disertai tanda tanya. Ah, itu koran kemaren yang dengan heboh dijajakan di pasar oleh penjual koran. Ia sangat pandai menarik perhatian orang-orang agar korannya cepat laku. Dia bekeliling ke seluruh sudut pasar dengan sepedanya sambil membaca dengan keras headline yang menghebohkan itu. Aku berfikir bahwa berita tersebut sangat eye-catching, dan orang-orang akan buru-buru ingin tahu tentang situasi yang dihadapi daerahnya saat ini. Ternyata itu hanya sebuah pertanyaan, yang entah ditujukan kepada siapa oleh penulisnya. Menurutku itu kelewatan dan tidak bertanggung jawab. Karena judulnya bisa membuat sebagian orang mati berdiri.
Berita koran hampir sama setiap hari. Hanya lokasi saja yang berbeda. Kemarin berita pemberondongan di Kota A, hari ini penculikan di kota B, besoknya pemboman, penembakan, dan pembakaran, dan seterusnya, dan seterusnya. Pelakunya? Kadang-kadang disebut OTK (orang tak dikenal), kali lain kelompok bersenjata. Sebutan itu bisa berubah-ubah. Ada yang lebih ekstrim, yaitu GPK (gerakan pengacau keamanan). Pihak yang tertuduh kadangkala membantah, tapi kerap menerima bahkan mengklaim bahwa itu perbuatan mereka. Dengan begitu pihak lawan akan gentar nyalinya berhadapan dengan mereka.
Ah, sudahlah. Pegal otak jadinya kalau terus mengikuti berita koran. Katanya membaca adalah jendela dunia. Tetapi bukan berita tentang peperangan, kematian, atau penembakan misterius yang semakin marak. Berita semacam itu hanya akan membuat depresi sehingga kita takut untuk beraktifitas.
“ Assalamualaikum,” seorang pemuda memberi salam. Bu Hajjah menjawab dan mempersilah pemuda jangkung itu masuk.
“Maaf bu, saya mau bertemu bu Marwani. Apa beliau ada?”, dia bertanya dengan bahasa nasional yang fasih.
“Oh, ada. Silahkan duduk dulu, dek. Sebentar lagi bel ganti” , jawab wanita bertubuh mungil itu sambil menunjuk ke sebuah kursi kosong di depannya. Pemuda itu tersenyum setengah menangguk ke arah Bu Rohana, lalu di menempati kursi yang ditunjuk.
Lima menit kemudian bel pergantian jam dibunyikan. Bu Marwani dan beberapa guru lain masuk ke ruangan.
“ Bu Mar, ini ada tamu yang cari ibu” , bu Hajjah memanggil bu Marwani. Tamu itu mengangkat wajahnya begitu mendengar nama orang yang dicarinya disebut. Bu Marwani berjalan perlahan ke arah yang ditunjuk. Dengan wajah kebingungan ia menarik sebuah kursi di seberang pemuda itu.
“ Adek cari saya?”, wanita empat puluhan itu memulai percakapan. Dia menerka-nerka, siapa pemuda ini?, apa keperluannya?
“ Nggak ingat saya bu, ya? Saya Tahir, bu. Tahir Saputra”, pemuda itu memulai sambil bangkit dan mengulurkan tangan untuk bersalaman.
Bu Marwani menyambut tangan itu dengan setengah tersenyum. Keduanya duduk.
“Maaf, saya benar-benar lupa. Adek dari mana?”, wanita tinggi semampai itu bertanya dengan sungkan. Dia bingung bagaimana harus bertanya. Kalau dia menanyakan ‘saudara siapa?’, atau ‘ada perlu apa menemui saya’, pasti pertanyaan itu akan membuat tamunya tidak nyaman. Jadi Bu Marwani bersabar untuk mengikuti saja alur situasi yang akan dilaluinya.
“Saya ini mantan murid ibu. Ibu kan mengajar bahasa Inggris waktu saya kelas dua, bu. Ibu juga wali kelas saya waktu itu”, pemuda itu mulai membuka identitasnya dengan sangat meyakinkan. Ya, lebih kurang lima belas tahun lalu Bu Marwani memang bertugas di sebuah desa pesisir di bagian timur kabupaten kami. Sekolah itu hanya berjarak sekitar dua ratus meter dari bibir pantai. Dia ingat kalau dia pernah dibuat kelimpungan sewaktu masuk kelas setelah jam istirahat karena tidak ada seorang muridpun di kelas. Setelah dia melapor ke kepala sekolah, dia baru tahu bahwa kebiasaan mereka selalu nyebur ke laut waktu jam istirahat.
“Ooohhh, tadi ibu pikir siapa. Jadi sekarang kerja dimana?”, Bu Marwani ingin mengetahui lebih jelas tentang tamunya. Pemuda itu mengaku kalau dia bekerja di sebuah perusahaan farmasi di ibu kota. Dia dikirim oleh perusahaannya untuk menjalin kerjasama dengan beberapa rumah sakit di daerah ini.
“Mumpung lagi di sini kan, bu. Saya nanya sama temen-temen tentang keberadaan ibu. Mereka ngasih tau kalau ibu sudah pindah ke sini”, pemuda itu menjelaskan panjang lebar.
Obrolan itu berlanjut dengan santai. Bu Marwani berusaha berbicara senormal mungkin. Pemuda itupun mengimbangi dengan menceritakan tentang teman-temannya yang sekarang ada yang sudah jadi guru, ada yang jadi tentara, dan lain-lain. Tetapi Bu Marwani tidak ingat seorangpun yang diceritakan pemuda itu. Iapun lebih tidak ingat siapa diantara muridnya dulu yang sehari-hari menggunakan bahasa nasional. Tidak ada. Semua mantan muridnya adalah anak-anak kampung. Bahasa sehari-harinya juga bahasa daerah. Kalaupun ada yang berbahasa nasional, pasti orang tuanya pendatang. Tetapi tidak ada warga pendatang di daerah pesisir itu. Sampai seminggu guru wanita itu masih terus mencari-cari siapa sebenarnya sosok mantan muridnya itu.

@@@@@

Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Aku baru saja selesai memarut kelapa di dapur. Tiga butir kelapa itu akan kubuat santan untuk memasak rendang dan kuah lontong. Hari ini meugang, dan besok lebaran haji.
“Mak, telepon untuk mamak”, anakku berteriak memanggil. Aku meraih gagang telepon dengan tergesa.
“Assalamualaikum.”
“Teman, cepat ke sini. Kami di pos polisi simpang empat. Kemaren di sekolah ditemukan bom. Kami semua sedang diperiksa. Cepat ke sini sekarang! Kalau tidak, bisa gawat!”, suara di seberang telepon terdengar gemetar dan terburu.
Aku tidak perlu bertanya siapa. Dari caranya menyebut ‘teman’, itu pasti Bu Misna. Itu ciri khasnya memanggil, jarang menyebut nama. Segera kuganti pakaianku dengan pakaian yang pantas, meraih sehelai kerudung sembarangan dan memakainya secepat kilat.
“Nak, tinggal sama nenek, ya. Mamak mau pergi sebentar. Jangan minta ikut .”
Aku mendikte tanpa perlu persetujuan.
“Kemana, mak? Sekolah ya?”, anakku ingin tahu.
Dia tidak akan minta ikut kalau aku ke sekolah, makanya aku mengangguk saja.
Di pos polisi simpang empat telah ada pak kepala sekolah, pak Taher, pak Mursal, dan pak Bahar. Mereka duduk di sebuah bangku panjang di sebuah ruangan. Juga ada bu Hajjah, bu Rohana, bu Ida dan bu Misna. Guru-guru lain tidak ada. Ternyata kami yang dipanggil adalah yang berdomisili di sekitar lokasi sekolah.
“Duduk dulu, bu. Nanti dipanggil satu-satu”, polisi yang membawaku masuk berkata sambil berjalan ke sebuah pintu yang tertutup.
“Siapa di dalam?”, aku bertanya memberi isyarat.
“Si Amri. Dia babak belur dipukul tadi malam”, Bu Misna berbisik ke telingaku.
Amri tinggal di sebuah rumah di komplek sekolah karena dia penjaga sekolah. Berarti dialah yang pertama kali menanggung kemarahan aparat tadi malam, setelah mereka mendapati bahan peledak itu di sana.
Setelah itu giliran kami satu persatu. Bapak-bapak lebih dulu, baru ibu-ibu. Semua kena bentak, tak terkecuali pak kepala sekolah. Aku pasrah, hidup … atau mati.
“Siapa nama kamu?, seorang polisi yang dipanggil komandan bertanya dengan nada tinggi. Dia hanya sendirian di sana.
Aku mendelik, menahan jengkel karena polisi gendut itu meng’kamu’kan aku.
“Meutia Zahra”, aku menjawab.
“Mana ktp kamu?”, suaranya masih tinggi.
Aku menyerahkan ktp merah putih yang sejak tadi sudah ada di tangan. Aku berusaha tenang, Tetapi suhu dingin di ruangan ber-ac itu tak mampu meredam keringat di tubuhku.
“Sudah berapa lama kamu mengajar di sana?”
“Baru dua bulan, pak”.
Aku menelan ludah. Pahit.
“Oh, jadi kamu guru baru?”
“Ya, pak”, aku mengangguk.
Aku berusaha menjawab sesingkat mungkin agar aku tidak terjebak dengan jawabanku sendiri. Teman-temanku tadi yang pesan. Padahal aku bukan guru baru. Tujuh tahun sebelumnya aku bahkan menjadi guru di daerah bergaris merah.
“Kamu tahu itu apa isinya ?”, dia membentak sambil menunjuk sebuah kantong plastik hitam di atas meja di pojok ruangan. Mungkin dia tahu aku akan menjawab ‘tidak’, sehingga dia tidak menunggu jawabanku.
“Plastik itu isinya bom sama peluru. Kamu pernah lihat bom?”, sang komandan mencecarku dengan sengit.
Aku kaget. Terhenyak tubuhku ke sandaran kursi kayu. Aku takut luar biasa. Benarkah itu isinya bom? Kalau meledak bagaimana? Seluruh tubuhku kebas. Keringat dingin mengucur.
“Tidak, pak”, jawabku gelagapan, menggeleng kepala.
“Tapi semua itu ditemukan di sekolah kamu. Masak kamu tidak tahu?”, dia tidak percaya.
Aku diam. Jantungku berdegup kencang.
Polisi itu mengambil beberapa lembar foto dan ditunjukkan padaku. Foto pertama, sebuah ruangan yang kukenal, ada tulisan ‘Women’. Ternyata foto salah satu wc guru di sekolahku. Letaknya tidak jauh dari kantor guru. Setiap hari kami lalu lalang di depannya kalau hendak ke kelas. Tetapi ruangan itu sudah sebulan lebih tidak pernah dipakai.
Foto kedua, kantong plastik hitam seperti yang ditunjukkan tadi, tergeletak di lantai wc. Aku memperhatikan foto-foto itu tak berkedip. Jantungku terus berpacu seperti sedang menonton film thriller. Kapan dan bagaimana endingnya aku tidak tahu.
Foto berikutnya, seorang aparat berpakaian coklat tua sedang meraih sesuatu dari atas plafon yang terbuka. Ruangan itu lebih besar, beda tempat dengan yang pertama.
“Kau tahu dimana foto itu diambil?”, komandan polisi itu kembali bertanya.
Aku mengangguk. Itu mushalla. Dia menunjuk lagi foto yang pertama.
“Ini ruang apa?”
“WC, pak.”
“Pria atau wanita?”
“Wanita, pak.”
“Seharusnya kamu tahu, karena kamu wanita!”, komandan polisi membentak.
“Tapi, pak. Kami tidak pernah masuk lagi ke wc itu! Pintunya terkunci sejak lama. Lagipula, mana kami tahu ada bom. Setelah selesai mengajar kami langsung pulang”, jawabku gusar.
Kali ini aku benar-benar tidak bisa menahan emosi. Sejak dia menyebut ‘kamu’, aku sudah sangat geram. Tidak bisakah ia menghargai profesiku sebagai guru, meskipun aku masih lebih muda darinya? Dia juga seenaknya mencurigai orang. Memangnya aku tidak ada pekerjaan lain dengan menaruh bom di sekolah? Ah, itu berlebihan. Polisi itu hanya curiga kalau diantara kami ada yang tahu siapa pelakunya. Tapi tentu saja aku tidak tahu. Entah yang lain.
“Baiklah, kalau kamu tidak tahu. Kamu boleh keluar”.
Tidak kuduga, komandan itu akhirnya menghentikan interogasi.
“Bapak-bapak, masuk semua!”, dia memanggil lima laki-laki yang masih menunggu di ruangan luar. Tidak sampai lima menit, mereka keluar lagi.
“Ibu-ibu, kita sudah boleh pulang. Terima kasih sudah menemani saya”, pak kepala sekolah berkata sambil menyalami kami satu persatu. Kami semua lega, kecuali bapak-bapak, karena mereka dikenakan wajib lapor setiap hari selama sebulan. Udara panas di tengah hari mengantarkan kami pulang ke rumah masing-masing.
Lebaran Idul Adha telah berlalu. Hanya tiga hari saja kami menikmati liburan. Hari ini masih hari ke tiga lebaran, tetapi kami wajib masuk karena khawatir ada sidak, inspeksi mendadak. Aktivitas belajar mengajarpun belum normal karena sebagian besar murid masih berlibur.
Kejadian tiga hari yang lalu masih menjadi perbincangan hangat di sekolah. Aku sendiri tidak tahu persis kejadian yang sebenarnya. Di pos polisi tempo hari aku tidak sempat bertanya bagaimana kronologi penemuan bom tersebut sehingga kami sampai dipanggil untuk diinterogasi. Begitu pulang dari pos polisi kemarin, aku langsung konsentrasi untuk menyambut lebaran Idul Adha, memasak daging meugang, belanja kue-kue kering dan beberapa kebutuhan lainnya.
Bapak-bapak masih terus wajib lapor. Mereka berempat, plus Amri, baru saja kembali dari pos polisi itu. Waktu sudah jam delapan lewat, tapi kegiatan belajar belum dimulai. Aku dan beberapa teman sedang mengarahkan anak-anak untuk bersih-bersih di pekarangan depan. Tiga hari ditinggalkan, daun-daun kering bertebaran di mana-mana. Beruntung tadi malam hujan, sehingga debu tidak beterbangan saat menyapu. Suhu udarapun lumayan sejuk pagi ini.
Gedebaaammm! Pintu gerbang berdebam menghantam pagar beton di sampingnya. Suaranya sangat keras seperti sengaja ditabrak. Sebuah sepeda motor dengan suara tidak kalah bising meluncur ke pekarangan. Pengendaranya turun dan memarkir RX-Kingnya secara serampangan. Pemuda berbadan tegap itu terlihat gusar, menyerbu ke arah kantor. Di tangannya ada sebuah kantong plastik hitam, kelihatannya berat.
“Mana Pak Syarif?”, dia membentak seseorang di pintu.
Pemuda itu memasuki lobi. Aku mengikuti sekira sepuluh langkah di belakang.
“Ada di dalam, untuk apa?, Pak Mursal yang duduk di meja piket balas membentak. Pemuda itu tidak menjawab. Dia langsung membuka pintu di sebelah kirinya, masuk ke ruang administrasi. Pak Taher dan Bu Eli yang ada di sana terkesiap mendengar derit keras di pintu.
Pemuda itu berjalan melewati mereka tanpa menatap. Aku menekan bel yang ada di bingkai pintu dua kali, pertanda kegiatan belajar dimulai. Lalu aku memasuki pintu yang sudah terbuka itu. Pemuda tadi berjalan menuju ruangan Pak Syarif, kepala sekolah, yang terletak di bilik paling ujung. Kelihatannya dia kenal betul tempat ini. Dengan kasar dia membuka pintu disebelah kanannya dan langsung masuk saja.
“Siapa?”, aku tanya Pak Taher sambil mengibas wajahku sedikit.
Lelaki paruh baya itu menjawab setengah berbisik, “Si Rolan”.
Pak Mursal masuk. Dia melangkah perlahan mendekati ruangan kepala sekolah, kemudian berhenti di samping bingkai pintu yang terbuka. Aku agak lega. Kupikir dalam situasi seperti ini tenaga honorer itu bisa diandalkan.
“Mana guru cuak itu?”, dari dalam terdengar si Rolan membentak.
“Guru cuak? Siapa guru cuak?”, pak kepala sekolah bangkit dari kursinya dan balik bertanya. Suaranya terdengar kaget bercampur heran.
Aku dan Pak Taher memperhatikan kejadian itu melalui pintu yang terbuka. Kupikir ini pasti ada hubungannya dengan ditemukan bom tempo hari di wc guru dan di atas plafon mushalla. Tetapi apa maksudnya guru cuak?
“Ibu guru itu, mana dia? Dia yang cuak! Dia yang kasih informasi sama orang yang datang minggu lalu. Itu kan intel, yang ngaku-ngaku murid ibu itu?”, pemuda dua puluhan itu menjawab dengan keras. Pak kepala sekolah terbelalak mendengar tuduhannya. Dia sama sekali tidak tahu-menahu ada intel yang datang ke sekolah.
Aku menatap Pak Taher. Dia mengangguk-ngangguk sebagai tanda bahwa dia tahu siapa yang dimaksud. Aku berbisik pada Bu Eli, “Bu Marwani.” Orang yang kubisiki juga mengangguk.
Si Rolan mengangkat kantong kresek hitam di tangannya, lalu menumpahkan isinya. Puluhan butir peluru sebesar jari tangan berserakan di atas meja.
“Berani droneuh dengan ini? Kalau droneuh tidak ada nyawa serap, bayar semua yang sudah diambil sama polisi!”, si Rolan membentak. Pak kepala sekolah tidak dapat menyembunyikan rasa takutnya. Tubuhnya gemetar. Dia jatuh terduduk di sebuah kursi di balik meja.
Pak Mursal yang sudah geram masuk ke bilik itu, si Rolan menoleh dengan garang. Pak Mursal tak kalah garang. Udara pagi yang sejuk tidak mampu meredam emosi mereka. Keduanya saling berhadapan.
“Apa-apan kau ini? Memang kau nggak punya otak! Kau tahu siapa yang jadi korban kalau bom itu meledak? Anak-anak yang jadi korban, tau?”, Pak Mursal memaki sambil menunjuk muka pemuda di hadapannya itu.
Guru honorer itu mendidih mendengar ancamannya yang sudah kelewatan.
Pemuda berkulit gelap itu berang.
“Jangan banyak omong kamu! Aku nggak ada urusan sama kamu!”, dia menghardik pak Mursal.
“Aku juga nggak ada urusan sama kau. Tapi kau nggak usah ancam-ancam mau ambil nyawa orang. Kalau kau punya nyawa lebih, kenapa nggak kau simpan bom itu ke rumah kau, jangan taruh di sekolah! ”, Pak Mursal tak kalah berang. Mukanya merah, urat-urat lehernya menegang.
Si Rolan maju dua langkah, tangan kanannya hampir meraih kerah kemeja lelaki jangkung di depannya. Dengan sigap wasit sepak bola itu mengibas tangan kekar lawannya. Si Rolan ingin mengangkat tangan kirinya, tetapi dia kalah cepat. Tangan Pak Mursal yang lebih panjang telah mendorongnya hingga dia terjengkang ke belakang. Tapi ia cepat menguasai diri.
Seketika Pak Kepala sekolah melompat ke tengah. Dia harus bertindak. Kalau tidak situasi akan semakin runyam.
“Sudahlah, sudah. Coba tenang dulu. Duduk dulu Rolan, Pak Mur. Saya harap kita bisa berbicara baik-baik”, dia menggenggam tangan si Rolan, membujuknya sambil mengusap-usap punggungnya. Seperti terkena sihir, si Rolan menurut. Perlahan dia melangkah dan duduk di sofa, diikuti Pak Mursal dan pak kepala sekolah. Suasana berangsur dingin. Pak kepala sekolah sudah bisa mengendalikan keadaan.
“Begini, Rolan. Tentang barang yang kamu simpan di sini, kami semua tidak tahu. Kami baru tahu sore itu, waktu polisi menemukannya. Sekarang saya dan empat orang pegawai saya dikenai wajib lapor setiap hari selama satu bulan”, pemimpin sekolah itu membuka dialog.
“Saya juga tidak tahu kalau ada intel yang datang sebelumnya. Saya rasa guru cuak yang anda maksud juga tidak ada. Kami semua hanya mengajar, tidak ada urusan kami dengan politik. Kamu kan dulu murid saya. Kalau kamu dendam, mungkin saya pernah mencubit atau memarahi kamu, saya minta maaf. Tapi tolong jangan sulitkan pekerjaan kami. Jangan musuhi guru-guru kami. Kalau negeri ini nanti ‘merdeka’, kita perlu orang-orang pintar. Mari kita kerjakan tugas kita masing-masing, kami mendidik dan mengajar, dan kalian berjuang”, pak kepala sekolah berbicara dengan sabar dan panjang lebar.
Rolan tertunduk, tidak menjawab sepatah katapun. Sekarang skor satu kosong. Akhirnya Rolan meninggalkan ruangan itu dengan menjinjing kantong kresek hitam tadi. Dia melangkah keluar tanpa menatap ke arah kami. Wajahnya tetap angkuh walaupun dia telah kalah perang. Kamipun tidak menyapa agar dia cepat berlalu.
Setelah hari itu, Rolan tidak pernah datang lagi. Tetapi pak kepala sekolah meminta agar Bu Marwani cuti dulu dari tugasnya karena dia takut kalau Rolan kembali sewaktu-waktu. Dia tidak ingin mempertaruhkan nasib anak buahnya, karena taruhannya adalah nyawa. Terjawab sudah siapa tamu yang mengaku sebagai mantan murid Bu Marwani tempo hari.
Pak Taher mengaku kalau dia pernah melihat pemuda yang mengaku bernama Tahir Saputra seminggu sebelum polisi menggeledah sekolah kami. Pak Taher sekali waktu melihat pemuda jangkung itu berdiri di ujung kelas sebelah timur. Di waktu yang lain dia memergokinya di depan mushalla. Matanya melirik ke segala arah sambil berbicara melalui hp. Tapi waktu itu Pak Taher tidak curiga.
Begitulah. Dua bulan lamanya aku dan Bu Rohana menggantikan tugas Bu Marwani di kelasnya. Jam mengajarku jadi lebih padat sekarang. Tetapi aku senang karena aku bisa mengenal banyak murid-muridku. Sebaliknya, murid-murid juga mengenalku. Biasalah, anak-anak sekarang. Mereka pilih-pilih untuk menghormati orang. Guru yang tidak pernah mengajar di kelasnya bahkan tidak dianggap. Tapi itu bukan salah mereka. Mungkin mereka meneladani sesuatu yang keliru dari orang-orang dewasa. Mungkin itu pula yang terjadi dengan Rolan, sehingga dia berani mengancam orang tunya sendiri, maksudku orang tua kedua.

Note :
Meugang : hari memasak daging sapi, atau kerbau – sehari sebelum lebaran.
Cuak : mata-mata
Droneuh : kamu, anda. (lebih sopan)

About admin

Check Also

Bergunanya Orang Bodoh dan Orang Tak Ahli Ibadah Sekalipun dalam Sebuah Komunitas

Bergunanya Orang Bodoh dan Orang Tak Ahli Ibadah Sekalipun dalam Sebuah Komunitas Oleh : Qusthalani* …

2 comments

  1. Bravo bu vonna, cerpennya top markotop

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *