Home / Cerpen / PANGGIL NAMANYA MRQ

PANGGIL NAMANYA MRQ

Lhoksukon|jurnalpase.com. Lonceng sekolah mendayu-dayu dan sekali kali nyaring bunyinya. Tak peduli bunyi itu ada yang bikin kesal,  bunyi melengking tak sedap di telinga itu jadi irama musik kami tiap pagi. Hibur tak menghibur itulah hiburan setiap pagi. Lonceng itu merupakan mala petaka bak tembakan bedil tentara di hutan raya. Tak ada yang berani melawan bunyi tak sedikitpun merdu itu, begitu juga siswa di pagi ini. Semua bergegas berjalan, tak sedikit pada berlarian begitu mendengar suara benda ajaib di sudut sana. Laksana terhipnotis, para warga sekolah tertarik seperti magnet.

Begitu juga Canden pagi itu terlihat buru-buru, nafasnya jelas telihat ngos ngosan seperti baru lari sprint 10 KM. Dia terus mengejar waktu jangan sampai lonceng itu memerintahkan penjaga gerbang kebajikan untuk segera ditutup. Tak menunggu lama, dengan modal kaki semampai dengan segera gadis rupawan itu sampai ke pintu gerbang sekolah.

Assalamu’alaikum Pak Amad”, Canden menyapa penjaga gerbang sekolah dengan ramah.

Wa’alaikumsalam Nak Canden. Apa kabarnya pagi ini, tak seperti biasa terlambat”, dengan wajah mengkerut dan sedikit heran Pak Amad membalas salam Canden.

Saya kesiangan Pak, semalam banyak Tugas Rumah yang harus diselesaikan. O ya… Pak Amad, biasanya Bapak Q selalu menemani Bapak disini. Pagi ini kok tidak kelihatan ya pak, atau beliau tidak ke sekolah hari ini”. Canden coba mencari-cari informasi kemana Bapak Q pagi ini.

Canden memang terkenal dekat dengan Bapak Q, beliaulah yang telah memotivasi semua anak-anak di sekolah ini untuk terus meraih cita-cita, walau serba keterbatasan baik sarana maupun prasarana sekolah. Pria berkacamata dengan berperawakan sederhana itu telah merubah suasana sekolah kami, menjadi sekolah nyaman dan menjadi sebuah tempat penggampaian sebuah harapan.

Suasana sejuk, disertai hujan rintik…rintik….angin pun bertiup sepoi sepoi menambah galau hati canden menunggu guru kesayangannya itu. Namun dari kejauhan terlihat moncong motor merah, dengan plat akhir singkatan dari sebuah nama yang begitu familiar dengan dirinya “QS”. Motor metik itu dipacu kencang tak peduli air di jalan yang tergenang. Percikan demi percikan air di genangan jalan yang berlubang tak dipedulikannya. Pacuan motor metiknya itu terus dipaksakan, jangan sampai motor itu harus membelah gerbang kebajikan yang telah dibangunnya dua tahun ini. Dia lah MRQ yang bergegas memacu sepeda motornya, supaya anak-anak kebanggaannya di sekolah dapat menerima materi indah di hari yang sejuk ini.

Assalamu’alaikum, Canden….Pak Amad…apa kabar pagi ini. Maaf Pak Amad, saya terlambat ini hari”. Tanpa canggung Pak Q meminta maaf pada penjaga gerbang itu.

Wassalam”, canden dan pak amad menjawab salam itu dengan kompak.

Guru yang dikenal dengan suara lembut terus masuk dan menuju kantor, karena sebentar lagi sudah waktunya beliau memberikan materi dan menyemangati anak-anak seperti hari-hari biasa. Begitu juga dengan canden, bergegas menuju ke ruangan kelasnya yang berada di ujung pojokan sana. Walau hari ini bukan guru hebat itu yang masuk ke kelasnya, tapi hadir saja di sekolah gadis ayu ini begitu terlihat senang.

Tiga tahun yang lalu sekolah kami dihebohkan dengan kedatangan seorang guru baru, masih jomblo dan berparas mirip seorang artis ibu kota. Semua penasaran mau mengenali sosok yang sedang populer itu. Dia guru muda, tamatan sebuah perguruan tinggi ternama di kota kami. Suara lembut dan berwajah sedap di pandang mata, tak sedikitpun terlihat sebagai guru sains yang biasanya killer dan tak pernah ramah. Harapan besar berada dipundak guru baru kami. Harapan mengubah sebuah sistem dan lingkungan sekolah menjadi taman bermain.

Satu tahun berlalu, guru kami belum juga terlihat berbeda dengan guru lainya. Seakan harapan kami di sekolah pedalaman desa tak bertuan sirna begitu saja. Sekolah yang dibangun di ujung desa sebuah perbukitan tempat berlindung para kombatan dulunya tak ada yang peduli. Bangunan yang didirikan dengan swadaya masyarakat, pernah dibakar beberapa kali saat konflik melanda nanggroe ujung sumatera ini bak angin lalu saja. Lelaki berkulit langsat dan berambut ikal itu telihat dingin, sama juga tak peduli dengan keinginan anak-anak desa yang penuh impian.

Kande…kemari sebentar”, Bapak Q memanggil

Kande bergegas menuju guru baru itu, dengan mengajak kawannya satu orang yang baru selesai jajan di kantin.

Saya pak, ada yang bisa saya bantu pak”, Kande kaget karena belum pernah selama ini dia dipanggil oleh guru yang bukan wali kelas ataupun guru bimpen di sekolahnya.

Tenang saja Kande, saya cuma sekedar mau ngobrol-ngobrol dengan kamu

Saya lihat, sekolah kita ini seperti papan rumah yang di vernis halus licin dan datar begitu saja, tak ada greget sedikitpun. Tak ada yang berbeda dan istimewa, tak ada keinginan kalian untuk sekolah ataupun mengejar impian, juga tak terlihat mencoba hal baru supaya kalian bisa terus semangat untuk belajar”. Dengan nada sedikit serius Bapak Q menanyakan sesuatu yang Kande sendiri tak tau jawabannya.

Bapakku yang baik hati…sekolah kita dari dulu…sampai sekarang memang seperti ini. Anak-anak disini sekolah ya sekedar untuk mendapatkan ijazah. Tatapan kosong kedepan itu sudah biasa”. Kande dengan polosnya menjawab sekadarnya pertanyaan itu.

Oke lah kalau begitu, besok jam istirahat ajak beberapa temanmu untuk jumpai bapak di perpustakaan sekolah”. Sepertinya Bapak Q punya sebuah rencana untuk sekolah ini.

Cuaca cerah pagi itu dengan angin kencang meliukliukan pepohonan bambu di sebelah perpustakaan sekolah kami. Irama indah sesekali terdengar di balik bambu-bambu muda itu. Siang hari dengan angin kencang seperti ini, kami tak perlu irama musik lain karena bambu itu bisa menghibur tatkala membaca buku di perpustakaan yang sederhana ini.

Kande, Canden dan tiga orang lagi temannya sudah mulai duduk manis di lesehan perpustakaan. Bukannya karena senang duduk di lantai, tapi karena perpustakaan kami belum ada meja dan bangku sehingga pengunjung duduk di lantai untuk sekedar membaca koleksi dalam perpustakaan. Terlihat Bapak Q duduk didepan mereka dengan sedikit membetulkan kacamata, dia mulai membuka percakapan.

Kande, kira…kira…apa keinginan kalian selain belajar di sekolah”.

Pak…kami mau seperti anak di sekolah kota lainnya. Kami mau berjuang, bisa mengikuti unjuk bakat seperti OSN atau apa namanya. Sekolah kita sering diejek dianggap lemah tak bisa apa-apa”. Anak-anak mulai mengeluh

hemmmmm….huff……” Bapak Q menghela nafas panjang karena dia tau kalau OSN disuapin untuk siswanya tidak akan berhasil. Sekolah standar desa, tak pernah menjadi pilihan bagi masyarakat sekitar untuk melanjutkan pendidikan anaknya disana.

“Kande…Canden…dan semuanya coba dengar. Bapak berjanji sama kalian, sekolah kita ini tidak hanya dikenal di desa ini, kota ini ataupun daerah kita ini saja. Sekolah kita harus dikenal sampai ke tingkat nasional. Kalian harus terbang tinggi setinggi angkasa. Tak boleh lagi ada yang melihat kalian sebelah mata, karena kalian disini semua sama. Harus mendapatkan hak yang sama di negara kita tercinta ini”. Belum pernah kami melihat guru begitu semangat memompa gelora dalam dada. Berjuang menunjukkan intentitas diri dengan kegiatan positif.

Hari demi hari, bulan demi bulan, kami terus diajak untuk membaca beberapa bacaan yang awalnya kami anggap aneh. Sodoran tulisan ilmiah, hasil riset berbagai ilmuwan menjadi santapan kami tiap harinya. Secara telaten daan begitu sabar beliau mendampingi kami untuk menyimpulkan bacaan itu. Tak sedikit yang minta mundur dari komunitas ilmiah ini, semua merasa berat. Lebih berat dari sekedar menyelesaikan soal olimpiade fiiska, tapi setiap kali kami lemah beliau terus menyerang kami dengan semangat yang menggelora. Bukan hanya di sekolah, kadangkala kami diajak untuk tidur di rumahnya sekadar untuk berselancar di dunia maya. Mencari referensi demi referensi, walau kami bingung arah dan tujuannya. Begitu juga ketika kami diajak ke perpustakaan daerah, lagi…lagi…hanya sekedar membaca beberapa penemuan dari beberapa ilmuan yang mutakhir saat ini.

Enam bulan berlalu akhirnya kami paham, ketika Bapak Q mengajak menulis sebuah artikel ilmiah sederhana dengan mengangkat kearifan lokal dalam menyelesaikan permasalahan dalam lingkungan masyarakat. Kami semua juga paham ketika beliau menyodorkan sebuah pengumuman dimana nama kami tertulis jelas didalamnya. Beberapa siswa sekolah anak buangan dulunya, diundang untuk menghadiri presentasi ilmiah di ibukota negara sana. Anak desa, pergi ke ibu kota kabupaten saja merupakan barang langka. Namun kini, sebuah surat dengan kop Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan kami harus terbang melewati angkasa. Disini juga kami baru sadar, ketika setahun berlalu sekolah kami kembali mendapat undangan untuk berjuang ke tingkat Internasional. Mewakili Indonesia,  sekolah pinggiran ini terus menunjukkan eksistensinya.

Sekolah kumuh itu dulunya, kini menjadi taman bunga begitu harum semerbak setiap hari. Anak-anak dengan percaya diri sudah berani menyebutkan nama sekolahnya dalam komunitas orang ramai. Pagi-pagi selalu terlihat anak-anak di perpustakaan, di taman sekolah, bangku-bangku di lapangan olah raga juga terlihat kesibukan mereka membaca dan mengerjakan tugas. Sebuah harapan sedikit demi sedikit mulai digenggam erat jangan sampai lepas lagi. Bapak Q lah yang menjadi playmaker sekolah kami.

Kenangan tiga tahun itu masih terus membekas di benak hati warga sekolah, tak ayal beliau pernah mendapatkan gelar “pahlawannya” di hati peserta didik. Keramahannnya, kedekaatannya dengan anak didik, menjadikan lelaki berbadan tambun itu selalu dicintai. Namun satu yang belum terjawab sampai saat ini, “Pak…nama bapak sebenarnya siapa”. Sambil tersenyum dia  selalu menjawab “ Panggil saja namaku MRQ”.

 

BIODATA PENULIS

Qusthalani adalah penulis buku santai, pengajar, juga peneliti. Penyuka Arabika Coffee ini juga disibukkan menulis Opini di media lokal. Hobbi lainnya tidak terlalu jelas karena suka menyembunyikan kesenangan. Impian terlalu tinggi telah mengantarkan terbang ke berbagai sudut di negeri ini. Dengan nama pena mrq ini dapat dihubungi lewat surel qus.fs04@gmail.com.

About Redaksi

Check Also

Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran

3.1.a.7. Demonstrasi Kontekstual – Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran Oleh : Vonna Rohaza, S. Pd. …

One comment

  1. Semoga jurnalpasee berjaya dari sabang sampai marauke.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *