
Matinya Nalar di Ruang Ujian, Dari “Mantra” Pra-UN hingga Obsesi Skor TKA
Oleh: Qusthalani*
Dalam dunia pendidikan kita, ada satu musim rutin yang hampir selalu datang membawa “teror psikologis” yaitu musim ujian penentuan. Satu dekade lalu, saat Ujian Nasional (UN) masih bertakhta sebagai momok paling agung di sekolah-sekolah, ritual-ritual magis dadakan marak digelar. Dari mulai ziarah kontroversial ke makam keramat dengan harapan tuah kelulusan, hingga gelaran doa bersama yang sengaja diset “mendadak dramatis” sampai membuat siswi-siswi menangis histeris dan pingsan massal.
Kala itu, melalui catatan “Ritual Pra UN, Perlukah?”, saya mencoba menelanjangi fenomena tersebut sebagai bentuk pembodohan tersistematis. Ada kepanikan akut yang dipelihara, di mana ujian diperlakukan bak dewa yang harus disembah, sementara nalar kritis dan proses belajar harian dikorbankan demi menjaga gengsi institusi dan angka-angka statistik di atas kertas.
Hari ini, roda zaman berputar. Format evaluasi nasional bertransformasi, dan kita mengenal instrumen seperti Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang diatur sebagai bagian dari pemetaan mutu pendidikan nasional. Secara regulasi, desainnya tentu lebih terukur dan berbasis kerangka asesmen yang rasional. Namun, ironisnya, ada satu hal yang kerap menolak berubah yaitu mentalitas kepanikan dan virus instan di ruang-ruang kelas kita.
Ketika TKA mulai dibebani oleh syahwat birokratis di mana nilai rata-rata sekolah dipertaruhkan demi citra dan prestise daerah, sekarang kecemasan lama itu bermutasi. Sekolah-sekolah kembali terjebak dalam jebakan drilling soal secara membabi buta. Anak-anak didik kita di kelas akhir kembali diposisikan di ujung tanduk, ditekan untuk mengejar skor setinggi-tingginya demi tiket seleksi atau sertifikat capaian, sering kali tanpa memberi mereka ruang bernapas untuk benar-benar memahami esensi ilmu pengetahuan.
Di sinilah letak bahayanya. Ketika evaluasi direduksi sekadar menjadi ajang perburuan angka, pendidikan kehilangan ruh kemanusiaannya. Doa dan zikir yang sejatinya merupakan kebutuhan ruhani yang menenangkan, kerap dibelokkan menjadi drama seremonial kepanikan sesaat dan sebuah ikhtiar simbolik yang kehilangan substansi, persis seperti fenomena ritual pra-UN di masa lalu.
Sudah saatnya kita menghentikan dramatisasi ujian. Evaluasi, baik bernama UN maupun TKA, hanyalah sebuah alat ukur diagnostik untuk memotret peta mutu, bukan dewa penentu harga diri peradaban sekolah. Negara dan para pengambil kebijakan memang membutuhkan standar, tetapi standar itu harus dicapai lewat ekosistem pembelajaran yang merdeka, tenang, dan memupuk daya nalar, bukan dengan meneror mental anak didik.
Pendidikan yang sehat tidak lahir dari kepanikan kolektif atau ritual-ritual instan penenang nurani birokrasi. Ia tumbuh dari iklim kelas yang jujur, proses literasi yang konsisten, serta keberanian para pendidik untuk menolak tunduk pada tirani angka. Jika kita ingin melahirkan generasi bangsa yang cerdas dan bernalar tajam, maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah memerdekakan mereka dari rasa takut yang diciptakan oleh sistem kita sendiri.
*Qusthalani, Direktur Yayasan Warisan Jempa Cendikia
Jurnal Pase Media Online Pase