Home / News / Guru SLB Banda Aceh Bentuk Komunitas Belajar Tuna Grahita, Dorong Inovasi Pembelajaran Inklusif

Guru SLB Banda Aceh Bentuk Komunitas Belajar Tuna Grahita, Dorong Inovasi Pembelajaran Inklusif

Banda Aceh | Jurnalpase.com, 12 November 2025 – Para guru Sekolah Luar Biasa (SLB) di Kota Banda Aceh yang menangani peserta didik tuna grahita resmi membentuk Komunitas Belajar (Kombel) Tuna Grahita periode 2025–2030.

Pengukuhan komunitas ini berlangsung di Aula Perpustakaan Universitas Abulyatama, Selasa (11/11/2025), dan dilakukan oleh Ketua Ikatan Guru Pendidikan Khusus Indonesia (IGPKhI) Provinsi Aceh, Hj. Jamilah, M.Pd.

Kombel ini diketuai oleh Munadhian Alhaj, S.Pd., dan berfokus pada pengembangan inovasi pembelajaran inklusif berbasis Realistic Mathematics Education (RME). Pembentukan komunitas ini merupakan hasil utama kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Universitas Abulyatama yang diketuai oleh Murni, M.Pd., Ph.D., dengan dukungan pendanaan Hibah DRTPM Ristekdikti tahun anggaran 2025.

Selama tiga hari pelatihan, para guru SLB mengikuti rangkaian kegiatan terpadu, mulai dari penyusunan Program Pendidikan Individual (PPI) berbasis asesmen intelegensi, pembelajaran numerasi kontekstual adaptif berbasis RME, hingga penerapan metode Applied Behavior Analysis Verbal Behavior (ABA VB). Kegiatan ini dipandu langsung oleh psikolog dan akademisi, Maria Ulfa, S.Psi., M.Pd., Ph.D., melalui praktik langsung di kelas dengan pendampingan fasilitator dan mahasiswa.

“Sebagai hasil konkret, PKM ini melahirkan tiga produk IPTEKS yang siap diterapkan di seluruh SLB mitra,” ujar Munadhian.

Ketiga produk tersebut meliputi panduan PPI adaptif untuk membantu guru merancang pembelajaran berbasis kebutuhan individual siswa, media konkret numerasi berbasis bahan lokal yang ramah Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), serta modul numerasi adaptif berbasis RME lengkap dengan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) visual.

Munadhian menegaskan bahwa Kombel ini akan menjadi ruang belajar profesional yang berkelanjutan bagi guru.

“Guru tidak boleh berjalan sendiri. Dengan komunitas belajar ini, kita saling menguatkan agar layanan bagi anak lebih manusiawi dan bermakna,” katanya.

Sementara itu, Ketua IGPKhI Aceh, Hj. Jamilah, menilai pembentukan Kombel Tuna Grahita menjadi langkah penting dalam memperkuat pendidikan inklusif di Aceh.

“Pengukuhan ini menandai komitmen bersama untuk memperkuat pendidikan yang berpihak pada kebutuhan nyata siswa, bukan sekadar mengikuti kurikulum,” tegasnya.

Ketua Tim PKM, Murni, Ph.D., menambahkan bahwa fokus utama program ini terletak pada keberlanjutan praktik.

“Model yang kami kembangkan tidak berhenti pada pelatihan. Guru didampingi hingga mampu merancang, mencoba, dan merefleksikan praktik pembelajaran. Di situlah perubahan bermula,” ungkapnya.

Terbentuknya Kombel Tuna Grahita Kota Banda Aceh menjadi tonggak penting dalam memperkuat sekolah ramah anak dan pembelajaran adaptif, sekaligus menegaskan komitmen menuju pendidikan inklusif berbasis bukti dan kolaborasi berkelanjutan[]

About Redaksi

Check Also

Singgah di SMAN 1 Meukek, Kadisdik Aceh Berikan Motivasi ke Siswa dan Guru

Aceh Selatan| Jurnalpase.com, 05 Maret 2026 – Di sela-sela kunjungan Safari Ramadan bersama Pemerintah Aceh …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *