Home / News / Bangkit dari Lumpur, Siswa SMAN 2 Seunuddon Aceh Utara Belajar Lesehan di Hari Pertama

Bangkit dari Lumpur, Siswa SMAN 2 Seunuddon Aceh Utara Belajar Lesehan di Hari Pertama

Aceh Utara| Jurnalpase.com, 05 Januari 2026 – Hari pertama sekolah di Provinsi Aceh, Senin (5/1/2026), menjadi momen emosional bagi civitas akademika SMA Negeri 2 Seunuddon, Kabupaten Aceh Utara. Meski bangunan sekolah masih dipenuhi sisa lumpur dan fasilitas belajar hancur akibat banjir bandang bulan lalu, kegiatan belajar mengajar tetap dipaksakan berjalan demi memulihkan psikologis siswa.

Pantauan di lokasi, para siswa dan guru tampak bahu-membahu membersihkan sisa-sisa lumpur yang sempat merendam arsip sekolah hingga ketinggian 30 cm. Pemandangan pilu terlihat di dalam ruang kelas; tak ada lagi deretan meja dan kursi yang utuh. Semuanya hancur diterjang air bah.

Plt Kepala SMAN 2 Seunuddon, Rizawati, menegaskan bahwa keterbatasan fisik bangunan tidak menyurutkan semangat untuk memulai hari pertama sekolah.

“Walau mobiler yaitu meja dan kursi sudah hancur, di hari pertama masuk sekolah tetap belajar seperti biasa. Kami berusaha bangkit untuk mewujudkan pendidikan di Aceh Utara berjalan lancar,” ujar Rizawati kepada jurnalpase.com, Senin (5/1/2026).

Kondisi sekolah memang belum pulih sepenuhnya. Trauma akibat bencana masih membayangi, namun kehadiran siswa di sekolah dianggap sebagai obat mujarab untuk mengatasi trauma (psikososial) pascabanjir. Para siswa tampak tertatih-tatih menata kembali ruang kelas mereka yang rusak berat.

Instruksi Plt Kadisdik Aceh: ‘Jangan Belajar Sendiri di Rumah’

Kebijakan tetap masuk sekolah ini sejalan dengan arahan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin. Ia menginstruksikan seluruh jenjang SMA, SMK, dan SLB di Aceh untuk mulai beraktivitas kembali per 5 Januari 2026.

Murthalamuddin menyadari banyak sekolah yang belum siap secara fasilitas karena masih dalam tahap pembersihan. Namun, ia menekankan bahwa kehadiran fisik anak di sekolah jauh lebih penting saat ini.

“Ajarkan apa yang bisa diajarkan kepada siswa. Yang penting, anak-anak tetap datang ke sekolah, tidak belajar sendirian di rumah,” kata Murthalamuddin.

Ia menambahkan, bagi sekolah yang terdampak parah, pola pembelajaran dapat disesuaikan dengan kondisi lapangan. Fokus utama saat ini bukan hanya pada kurikulum akademik, melainkan pada pendampingan psikososial agar siswa tidak merasa berjuang sendirian menghadapi dampak bencana.

Hingga berita ini diturunkan, proses pembersihan di SMAN 2 Seunuddon masih terus berlangsung secara bertahap sambil menyisipkan materi pembelajaran ringan bagi para siswa.[]

About Redaksi

Check Also

IGI Nagan Raya Salurkan Bantuan ke SDN 1 Beutong Ateuh

Nagan Raya | Jurnalpase.com, 11 Januari 2026 – Ikatan Guru Indonesia (IGI) Daerah Nagan Raya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *