Home / Inspirasi / PROFESI YANG TIDAK KUIDAMKAN AKHIRNYA KUCINTAI

PROFESI YANG TIDAK KUIDAMKAN AKHIRNYA KUCINTAI

 

Fitriadi Mahmud, foto dok.jurnalpase.com

(Profesi Yang Tidak Kuidamkan Akhirnya Kucintai)

Oleh :
Fitriadi Mahmud, M.Pd

Hari itu badanku basah kuyup, bukan karena kehujanan tapi keringat yang terus bercucuran. Kenapa tidak, seperti setengah sadar aku baru tahu bahwa aku lagi berada di sebuah ruangan ukuran 9 x 7 meter dan di depanku duduk sekitar 30 orang remaja hampir seusiaku dan terus menatapkan penuh harap. Ya, hari itu adalah hari pertama aku menjadi guru disebuah sekolah yang notabene siswa nya merupakan siswa-siswa yang bermasalah di tempat lain kemudian dikeluarkan, selanjutnya diterima di sekolah tempat aku mengajar. Dalam hati dari mana aku mulai, padahal semalam suntuk aku sudah membuka bolak balik buku matematika dengan harapan hari pertama masuk kelas para siswa akan terpana dengan gayaku menjelaskan tentang kalkalus.

Ternyata semua nya tidak berjalan seperti mimpiku semalam, malah sebaliknya beberapa siswa perempuan malah “menggodaku” dengan pertanyaan “bapak sudah menikah apa belum” dan pertanyaan lainnya yang membuat mukaku jadi merah merona karena malu. Dalam hati aku berguma “ benar-benar aku salah jalan memilih profesi ini” ternyata menjadi guru bukan hal mudah, tetapi kenapa orang tuaku saat itu yang merupakan salah seorang guru di desaku begitu menikmati profesinya, beliau bukan seorang sarjana dari universitas terkemuka tapi wibawanya mencerminkan guru yang mengalahkan gaya professor di dunia maya.

Aku semakin yakin, bakatku memang bukan ditakdirkan menjadi seorang guru, bathinku terus melawan kenyataan ini bahwa guru bukan pilihan hidupku. Memang sebenarnya perjalanan aku kuliah di Fakultas keguruan adalah sebuah kebetulan belaka, dari kecil aku sama sekali tidak punya cita-cita menjadi seorang guru walaupun orang tuaku dan salah satu kakak perempuanku guru. Dari dulu aku telah bercita-cita menjadi seorang perwira Polisi, aku begitu kagum ketika abangku yang merupakan seorang Perwira Polisi pulang ke kampung halaman. Tapi konflik Aceh telah meluluh lantakan cita-citaku menjadi seorang Polisi. Dan itulah awal mula aku terdampar ke Fakultas keguruan, karena mendengar nasehat abangku yang polisi itu, dia berkata kuliah saja dulu nanti setelah selesai kuliah baru masuk polisi dan itu masuk akal pikirku.

Waktu baru berjalan 15 menit, tetapi terasa sudah 2 jam aku berada diruangan itu, sepertinya ingin lari, keluar, pulang dan tak ingin aku kembali ke sekolah itu. Kucoba menarik nafas panjang, aku mulai menenangkan diri mengatur strategi dari mana aku harus mulai agar siswa menjadi simpati. Pertama-tama aku coba memperkenalkan diri, lalu satu persatu-satu siswa aku suruh berdiri untuk coba berbagi. Aku terus berinteraksi dengan semua siswa didalam kelas hari itu, suasana sudah mulai teratasi karena aku tidak lagi grogi. Walaupun hari itu hanya berteraksi kecil dengan mereka, menanyakan tempat tinggal, hobi dan juga tentang jadi diri. Tanpa kusadari waktu terus berjalan, banyak hal yang kudapatkan dari para siswa-siswi ku hari itu, terutama tentang kehidupan mereka sesuangguhnya. Ternyata menjadi guru bukan hanya menjadi ahli kalkulus di depan mereka, tapi lebih dari pada itu para siswa mengharapkan kita menjadi panutan dan tempat bersandar apalagi siswa-siswa yang sedang saya hadapi hampir semuanya para siswa yang mengalami permasalahan lain baik di masyarakat dan juga dalam keluarga.

Hari itu 2 x 45 menit dapat kutunaikan dengan sempurna, pelajaran jam pertama selesai. Walaupun dalam proses banyak hal yang tidak kuduga menimpaku. Aku duduk di meja yang disediakan oleh sekolah waktu itu, secangkir kopi sudah tersedia disitu. Aku mulai termenung, pikiran terus melayang entah kemana-mana. Hatiku seperti berontak, seperti ada bisikan… kamu tidak mungkin jadi guru. Tapi dilain hal sepertinya ada sebuah kekuatan yang terus berbisik kepadaku.. kamu ingin terus dikenang jadilah guru. Karena ilmu yang kita bagikan kepada siswa merupakan salah satu amal yang tidak akan terputus. Hari telah siang aku bergegas pulang dari sekolah sambil mengenderai sebuah kereta tua peninggalan orang tuaku.

Esok hari jam masih menunjukan pukul 07.00 wib, aku sudah siap untuk menunaikan kewajiban menjadi guru dihari kedua. Sambil jalan menuju sekolah, aku singgah disebuah warung untuk sarapan sedikit agar tidak sakit perut, karena aku kalau pagi harus makan nasi walaupun sudah makan leumang empat potong. Setelah selesai sarapan langsung bergegas menuju sekolah, hari ini sepertinya semangat sedikit berbeda dari kemaren. Ternyata disekolah masih sepi hanya ada beberapa siswa yang memang cepat datang, kucoba duduk di depan kantor, kebetulan disitu memang ada kursi untuk tamu. Sekolah tempat aku mengabdi merupakan salah satu sekolah Swasta yang rata-rata siswa disitu diasuh oleh panti dan otomatis banyak anak orang miskin dan anak yatim.

Tanpa kuduga disamping ku sudah duduk seorang anak laki-laki, aku belum mengenal dia ketika itu karena dia bukan siswa dikelas aku yang masuk kemaren. Tiba-tiba dia mencoba membuka pembicaraan,” bapak guru baru ya disini” ya jawabku dengan lembut. Terlihat dia tersenyum dan mulai bercerita bahwa dia seorang siswa yatim yang tinggal di panti asuhan asalnya dari wilayah barat selatan Aceh. Anak itu terus bercerita bahwa dia sangat ingin melanjutkan pendidikan tetapi dia takut tidak memiliki biaya. Aku baru sadar bahwa menjadi guru bukan hanya sekedar memberikan ilmu pengetahuan kepada para siswa, tetapi juga harus dapat menjadi pendengar yang baik, harus dapat menjadi motivator yang handal dan juga pelatih yang hebat.

Dalam usiaku sekarang, disaat profesi guru sudah kujalani selama hampir 15 tahun banyak kenangan yang sudah kudapat, apalagi hampir 10 tahun aku pernah menjadi guru disekolah-sekolah yang memang para siswa yang memiliki keterbelakangan mental, dari keluarga miskin dan juga para siswa yang merupakan korban Tsunami Aceh. Mudah-mudahan apa yang para guru berikan selama ini menjadi amal jariah sebagai bekal hidup di alam sesudah dunia ini. Amin. Amin ya Rabbal A’lamin. Bravo Guru Indonesia. Jayalah Negeriku.

Fitriadi Mahmud, M.Pd,  Sekretaris IGI Wilayah Aceh, Guru SMKN 1 AL MUBARKEYA,

About admin

Check Also

Pendidikan Aceh Utara Punya Pedoman Baru! Kacabdin Muhammad Johan Luncurkan Buku “Membangun Budaya Mutu”

Lhoksukon| Jurnalpase.com, 06 November 2025 – Kepala Cabang Dinas (Kacabdin) Pendidikan Wilayah Kabupaten Aceh Utara, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *