Home / Cerpen / Good Bye Masa Kelam

Good Bye Masa Kelam

Karya        : Tia Amelia
Siswi SMPN 2 Dewantara

Waktu bagaikan penentu perjalanan manusia yang terjadi  di masa lalu, sekarang,hingga masa depan. Seseorang-

Tia Amelia

 mempunyai kesenangan dan kesedihan yang pernah ia alami. Sakit dan senang adalah sebuah keniscayaan untuk  dirasakan. Perasaan bahagia orang tua saat kelahiran anaknya, dan sebaliknya kesedihan yang dialami seorang anak anak saat kehilangan orang tuanya.

Tersebutlah seorang pemuda, Johan namanya. Dia hidup sebatang kara sejak ditinggalkanoleh orang tuanya saat ia berusia sepuluh tahun. Sejak orang tuanya meninggal, Johan tidak ada ynag mengurus sehingga ia menjadi gelandangan. Ia terpaksa menjadi gelandangan di jalan untuk bertahan hidup. Karena Johan terlahir dari keluarga miskin, saudara-saudaranya tidak ada yang memperdulikan. Karena itulah Johantercandu minuman keras akibat pergaulan bebas.

Suatu hari,Johan  berjalan sempoyongan di pinggir jalan. Sepasang suami istri yang bernama Hanafi dan Hafizah melihatnya. Mereka mengira pemuda tampan itu sedang sakit sehingga berjalan demikian. Mereka turun dari mobilnya untuk menolong Johan. Begitu mereka mendekat, tercium aroma minuman keras dari mulut pemuda itu.

“Lho, kenapa kamu seperti orang mabuk?”.

Terlanjur pertanyaan itu keluar dari mulut Hafizah tanpa bisa direm. Seandainya dia tahu, dia tidak akan peduli dan dia tidak akan meminta suaminya menghentikan mobilnya.

“Ya, aku memang sedang mabuk”, jawab Johan ketus.

Ia berkacak pinggang.

“Kenapa? Ada yang salah denganku?”

“Tentu saja kamu salah”, jawab Hanafi tegas.

“Dengan kamu mabuk begini, tanpa kamu sadari kamu telah melukai dan durhaka terhadap orang kedua tuamu.

Tiba-tiba Johan menangis. Kedua suami istri itu jadi kaget.

“Aku tidak punya orang tua lagi. Mereka sudah meninggal sejak aku berumur sepuluh tahun. Keluarga ayah dan ibuku tidak ada yang peduli padaku. Daripada aku sedih memikirkan nasibku, aku sering minum sampai mabuk”, papar Johan dengan kepala yang bergerak-gerak tanpa tenaga. Rambut dan pakaiannya aut-autan. Dia masih dalam pengaruh alkohol.

“Memangnya kamu dapat uang dari mana untuk beli minuman keras?”, tanya Hafizah.

Pemuda itu tidak langsung menjawab. Ia melihat sekeliling, kemudian ia berjalan ke sebuah tembok di pinggir jalan, lalu duduk. Hafizah dan Hanafi mengikuti.

“Aku dapat uang dari mencopet. Aku bisa makan karena mencopet. Kalau aku sedih, aku minum sampai mabuk”, jawab pemuda itu.

“Astaghfirullahaladhiim”, seru Hanafi terkejut.

“Berapa umurmu sekarang?”

“Lima belas tahun.”

“Lima  belas?”, tanya Hanafi.

“Kalau begitu, kamu masih sangat muda. Kamu belum terlambat untuk bertaubat karena masih terbuka pintu taubat untukmu, nak”, lanjut bapak dua anak itu.

Johan seperti tersadar dari tidurnya lau menjawab: “Mungkinkah aku masih bisa bertaubat dengan dosaku yang banyak sekali?”

“Insyaallah”, jawab Hafizah.

“Dalam Al-Qur’an Allah telah berfirman dalam Surah Al-An’am 48, sebagai berikut : Para rasul yang kami utus itu adalah untuk memberi kabar gembira dan memberi peringatan. Barangsiapa beriman dan mengadakan perbaikan, maka tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.”

“Kalau kamu ingin berubah, kami berdua akan membantumu. Oh…ya, namamu siapa?”, tanya Hanafi.

“Nama saya Johan Alqausar. Saya biasa dipanggil Johan.”

“Kalau ibu dan bapak namanya siapa?”, tanya Johan.

Kesadarannya berangsur pulih.

“Nama saya Imam Hanafi, dan istri saya Hafizah. Kami berdua telah menikah selama sepuluh tahun, tetapi Allah belum mengkarunia kami seoarang anakpun sampai saat ini”, jawab Hanafi.

Tanpa bermusyawarah dengan suaminya terlebih dahulu, Hafizah langsung bertanya kepada pemuda itu, “Maukah kamu menjadi anak angkat kami berdua Johan?”

Johan tidak menyangka sedikitpun akan mendapat pertanyaan demikian dari mulut wanita baik-baik yang ada di hadapannya. Mau tidak mau dia terkesiap, darahnya seperti mengalir deras ke sekujur tubuhnya. Selanjutnya dia menatap lekat-lekat ke wajah suami istri itu. Hanafi tersenyum sambil mengangguk ke arahnya.

“Tetapi…, saya ini penuh dosa, bu, pak. Saya bukan orang yang taat, bahkan durhaka terhadap Allah. Bapak dan ibu orang baik-baik. Apakah saya pantas untuk diurus oleh bapak dan ibu?”, tanya Johan dengan segan.

Kepalanya tertunduk penuh penyesalan. Hanafi duduk di samping pemuda itu di atas tembok. Bapakempat puluh lima tahun itu mengelus bahu Johan.

“Dengar anakku, pintu taubat selalu terbuka bagi orang-orang yang mau bertaubat. Jangan sekali lagi kamu berkata seperti itu. Berarti kamu tidak mau menjadi anak kami.”

Johan merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Air matanya tak dapat dibendung. Ia bangkit dan bersimpuh di kaki Hanafi. Tetapi bapak angkatnya itu menuntun tubuh Johan berdiri dan memeluk anak angkatnya dengan erat. Hafizah memandangi dua lelaki itu dengan bercucuran air mata. Terima kasih Ya Allah, do’aku telah Engkau kabulkan, bisiknya.

Selama ini Hafizah selalu berdoa agar dikarunia seorang anak, meskipun bukan anak kandungnya sendiri.  Hafizah telah ikhlas untuk mengurus dan mengasuhnya. Mungkin inilah jalannya menuju ke syurga Allah. Johan adalah anak yatim piatu yang semua orang membencinya karena ia seorang pemabuk, pencopet, dan telah melakukan banyak hal buruk lainnya dalam hidupnya. Hafizah telah bertekad untuk menjadikan Johan anak yang taat kepada Allah, dan juga dapat bermanfaat untuk orang lain.

Hafizah dan Hanafi membimbing dan mendidik Johan dengan penuh kasih sayang. Mereka benar-benar bagaikan orangtua yang dirindukan oleh Johan selama ini. Johan yang selama ini hidup bagaikan kucing liar, merasa sangat bersyukur telah dipertemukan dengan manusia berhati mulia ini. Johan mendapat tempat tinggal yang layak, kebalikan dari tempatnya dulu di bawah jalan tol. Ia juga diberikan makanan yang sehat dan pakaian yang layak. Yang sangat disyukuri oleh Johan sekarang ia juga mendapat pendidikan yang baik di sebuah pesantren.

Lima belas tahun telah berlalu. Waktu memang telah mengubah jalan hidupnya. Lima belas tahun lalu adalah batas terakhir masa kelam dalam hidupnya, dan tepat hari ini Johan telah memenuhi masa itu dengan hidup sebaliknya. Masa-masa belajar di pesantren dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh Johan. Segala ilmu agama Islam telah dikuasainya dengan baik. Seandainya kedua orang tuanya masih hidup, alangkah berbahagia mereka melihat anak mereka telah menjadi seorang yang taat dan berilmu tinggi.

“Selamat, anakku. Kami berdua sangat bangga padamu. Terimakasih, engkau telah bersedia menjadi anak kami”, ucap Hanafi dengan mata berkaca-kaca sambil memeluk Johan dengan erat.

Johan tidak dapat menahan untuk tidak menangis mendengar orang tua angkatnya berkata demikian. Ia balas memeluk orang tua itu dengan erat.

“Saya yang seharusnya berterima kasih. Saya sangat bersyukur telah mendapatkan ayah dan ibu yang sangat mulia, yang mau menerima saya sebagai anak meskipun saya ini sampah masyarakat. Tanpa bapak dan ibu, entah jadi apa saya ini, pak, bu”, Johan berkata sambil berurai air mata.

Pemuda itu melepas pelukan Hanafi, kemudian ia meraih tangan Hafizah, dan mencium tangan wanita mulia itu sambil bersimpuh di kakinya. Hafizah mengusap kepala anak angkatnya dengan berurai air mata, air  mata bahagia.

“Alhamdulillah ya Allah. Engkau telah mengabulkan do’a hamba untuk memiliki anak yang saleh, bahkan sekarang ia menjadi seorang penda’i yang terkenal.”

Ketiga orang itu larut dalam kebahagiaan di antara para santri dan wali santri lainnya di acara wisuda yang khidmat. Johan tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah seratus delapan puluh derajat dari kehidupannya dahulu. Manusia tidak pernah tahu. Ada kalanya Allah mengkondisikan dirimu dengan suatu masalah dan kesulitan, tetapi bisa jadi itu adalah cara Allah untuk memperbaiki dirimu.

Salam Literasi

About Admin

Check Also

Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran

3.1.a.7. Demonstrasi Kontekstual – Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran Oleh : Vonna Rohaza, S. Pd. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *